PKM Q

I.PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Tingginya angka jumlah penderita AIDS di Indonesia membuat pemerintah kewalahan. Bukan hanya orang dewasa saja yang menderita AIDS, namun remaja-remaja usia 14-19 tahun merupakan usia rawan tertularnya virus HIV karena saat ini remaja-remaja Indonesia sudah melalukan hubungan seksual/ berganti-ganti pasangan serta mengkonsumsi narkoba menggunakan jarum suntik.
Penderita AIDS seringkali diasingkan dalam kehidupan sosialnya. Hal ini membuat ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) merasa terkucilkan dan tidak bisa meningkatkan kreativitas yang ada dalam dirinya. Virus HIV menyebar dengan cepat dalam tubuh manusia yang menjadi hospesnya. Obat-obatan yang ditawarkan saat ini adalah ARV (Anti Retro Virus) yang harganya lumayan relatif mahal. Sehingga penderita AIDS kesulitan untuk mendapatkannya. Untuk dapat menularkan AIDS pada hospesnya, virus HIV harus mengubah materi genetiknya yaitu RNA menjadi suatu senyawa yang aktif yaitu DNA, kemudian membentuk protein, dan protein inilah yang nantinya akan menghasilkan virus HIV yang lebih banyak dalam tubuh hospesnya.
Sifat dari ARV untuk HIV adalah untuk menekan perubahan RNA menjadi DNA sehingga tidak dapat menghasilkan protein-protein. Untuk bekerja secara maksimal, ARV harus diminum secara rutin karena jika tidak patuh pada aturan ini, maka replikasi RNA tetap akan terjadi. Harga ARV relatif mahal karena sifatnya yang memang rumit itu. Beberapa harga yang ditawarkan oleh pasaran adalah ± Rp. 650.000 sampai jutaan. Penderita AIDS terutama dari kalangan menengah ke bawah kesulitan untuk mendapatkan ARV ini.
Issue yang berkembang di masyarakat adalah nyamuk dapat menularkan virus HIV karena prinsipnya sama dengan alat suntik. Namun kenyataannya, nyamuk tidak dapat menularkan HIV karena nyamuk tidak sama dengan jarum suntik. Nyamuk tidak pernah menggigit manusia karena nyamuk tidak mempunyai gigi. Tetapi nyamuk mencucukkan alat penghisapnya (probosis) ke dalam pembuluh darah kapiler manusia/ hewan mangsanya dengan teknik khasnya, sehingga tidak terasa saat menembus kapiler.
Ketika seekor nyamuk menularkan suatu penyakit dari satu orang ke orang yang lain, maka parasit tadi harus tetap hidup dalam tubuh nyamuk sampai nyamuk tadi selesai mengisap darah orang tersebut. Jika nyamuk mencerna parasit tersebut, maka siklus penularan ini akan terputus dan parasit tidak dapat ditularkan ke korban selanjutnya. Memang ada sejumlah cara yang dilakukan oleh parasit untuk menghindar agar tidak dicerna sebagai makanan. Ada sejumlah parasit yang memang memiliki ketahanan dari enzim pencerna yang ada dalam perut nyamuk, namun kebanyakan parasit-parasit ini menerobos jaringan dalam perut nyamuk agar terhindar dari enzim pencernaan nyamuk yang akan melumatnya sampai habis . Parasit malaria dapat bertahan selama 9-12 hari dalam tubuh nyamuk, yang mana dalam waktu itu parasit ini dapat berkembang menjadi bentuk yang lain. Penelitian terhadap virus HIV secara jelas menunjukkan bahwa virus yang bertanggung jawab terhadap infeksi HIV tersebut dianggap sebagai makanan dan dicerna bersama makanan yang berupa darah. Dalam 1-2 hari virus bersama makanan tadi telah habis dicerna oleh nyamuk, sehingga kemungkinan untuk terjadinya infeksi baru dapat dicegah. Karena virus tidak sempat bereproduksi dan tidak sempat pindah ke kalenjar saliva, maka penularan HIV melalui nyamuk merupakan hal yang tidak mungkin.
Karena itulah penulis berharap dapat ditemukan alternatif pengganti ARV dari enzim pencernaan nyamuk sebagai vaksin HIV/ AIDS yang harganya murah sehingga semua kalangan masyarakat (ODHA) dapat memperolehnya dengan mudah dan tidak perlu mengeluarkan biaya yang tinggi.

B.Tujuan dan Manfaat
Berdasarakan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, penulis menyajikan tujuan dan manfaat seperti di bawah ini, seperti:

1.Tujuan
a)Untuk mencegah tertularnya HIV/AIDS.
b)Mengurangi angka kematian akibat HIV/AIDS.
c)Untuk mengurangi isu yang berkembang di masyarakat bahwa gigitan nyamuk dapat menularkan HIV/AIDS.
2.Manfaat
a)Sebagai sumbangan ilmiah dalam bidang kesehatan.
b)Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa gigitan nyamuk tidak menularkan virus HIV/AIDS.

II.GAGASAN
A. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan
AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit AIDS, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.

Isu yang berkembang di masyarakat bahwa gigitan nyamuk yang sebelumnya menggigit ODHA dapat menularkan HIV/ AIDS kepada orang lain yang sehat. Karena pada prinsipnya, cara kerja nyamuk sama dengan jarum suntik. Tapi kenyataanya HIV tidak menyebar melalui gigitan nyamuk atau gigitan serangga lainnya. Bahkan bila virus masuk ke dalam tubuh nyamuk atau serangga yang menggigit atau mengisap darah, virus tersebut tidak dapat mereproduksi dirinya dalam tubuh serangga. Karena serangga tidak dapat terinfeksi HIV, serangga tidak dapat menularkannya ke tubuh manusia yang digigitnya.

Wayne J. Crans, seorang entomologi dari Inggris mengatakan bahwa ada 3 mekanisme mengapa serangga pengisap darah seperti nyamuk tidak dapat menularkan HIV, yaitu
1)Pada mekanisme pertama, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV dan menelan virus tersebut bersama darah si penderita. Setelah kenyang, nyamuk ini kemudian pulang ke sarangnya, tanpa pindah ke korban selanjutnya. Virus yang terhisap ini masuk ke dalam tubuh, dan bertahan dalam tubuh nyamuk tersebut, virus kemudian berkembang biak dan setelah itu pindah ke dalam kalenjar air liur (salivary gland). Nyamuk yang terinfeksi HIV ini kemudian mencari korban selanjutnya untuk dihisap darahnya. Korban selanjutnya ini bisa saja seseorang yang bersih dari HIV, namun saat nyamuk menghisap darah orang ini virus HIV yang ada dalam kalenjar air liur nyamuk tersebut ikut masuk ke dalam tubuh orang tadi. Mekanisme yang pertama ini digunakan oleh sebagian besar parasit dalam nyamuk, seperti malaria, demam berdarah dan sejenisnya.
2)Pada mekanisme kedua, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV, namun belum kenyang mengisap ia sudah terbang karena terganggu. Daripada kembali ke korban yang pertama tadi, nyamuk memilih korban lain yang mungkin bebas dari AIDS. Setelah nyamuk tadi menusukkan mulutnya ke dalam kulit korbannya ini, nyamuk ini akan menularkan virus yang masih ada dalam mulutnya ke korbannya ini. Mekanisme ini termasuk mekanisme yang tidak lazim dalam infeksi parasit melalui nyamuk.
3)Mekanisme ketiga mirip dengan mekanisme kedua, dimana saat nyamuk mengisap darah korbannya yang mengidap HIV tiba-tiba ia diganggu dan kemudian terbang untuk mencari korban kedua. Namun dalam teori yang ketiga ini, tiba-tiba nyamuk tadi dipukul oleh si korban, dan kemudian darah nyamuk yang telah terkontaminasi HIV ini masuk ke dalam luka si korban tadi. Masing-masing dari mekanisme ini telah diselidiki dan diteliti dengan menggunakan berbagai macam serangga pengisap darah, dan hasilnya secara jelas menunjukkan bahwa nyamuk tidak dapat menularkan AIDS.

Selain itu, Wayne juga mengungkapkan beberapa alasan mengapa nyamuk tidak dapat menularkan HIV, yaitu:
1)Nyamuk mencerna virus yang menyebabkan AIDS. Ketika seekor nyamuk menularkan suatu penyakit dari satu orang ke orang yang lain, maka parasit tadi harus tetap hidup dalam tubuh nyamuk sampai nyamuk tadi selesai mengisap darah orang tersebut. Jika nyamuk mencerna parasit tersebut, maka siklus penularan ini akan terputus dan parasit tidak dapat ditularkan ke korban selanjutnya. Memang ada sejumlah cara yang dilakukan oleh parasit untuk menghindar agar tidak dicerna sebagai makanan. Ada sejumlah parasit yang memang memiliki ketahanan dari enzim pencerna yang ada dalam perut nyamuk, namun kebanyakan parasit-parasit ini menerobos jaringan dalam perut nyamuk agar terhindar dari enzim pencernaan nyamuk yang akan melumatnya sampai habis . Parasit malaria dapat bertahan selama 9-12 hari dalam tubuh nyamuk, yang mana dalam waktu itu parasit ini dapat berkembang menjadi bentuk yang lain. Penelitian terhadap virus HIV secara jelas menunjukkan bahwa virus yang bertanggung jawab terhadap infeksi HIV tersebut dianggap sebagai makanan dan dicerna bersama makanan yang berupa darah. Dalam 1-2 hari virus bersama makanan tadi telah habis dicerna oleh nyamuk, sehingga kemungkinan untuk terjadinya infeksi baru dapat dicegah. Karena virus tidak sempat bereproduksi dan tidak sempat pindah ke kalenjar saliva, maka penularan HIV melalui nyamuk merupakan hal yang tidak mungkin.
2)Nyamuk tidak terlalu banyak menghisap parasit HIV untuk menularkan AIDS melalui kontaminasi. Parasit-parasit penyebar penyakit yang memiliki kemampuan untuk menularkan parasitnya dari satu individu ke individu lainnya melalui mulut harus memiliki tingkat sirkulasi yang sangat tinggi dalam aliran darah inangnya. Penularan melalui kontaminasi mulut memerlukan parasit yang jumlahnya cukup untuk dapat menyebabkan terjadinya infeksi baru. Jumlah parasit yang dibutuhkan bervariasi dari satu penyakit ke penyakit lainnya. Parasit HIV sendiri memiliki tingkat sirkulasi yang sangat rendah dalam aliran darah, nilainya jauh dibawah parasit-parasit nyamuk lainnya. Dalam tubuh penderita AIDS sendiri virus HIV ini jarang-jarang yang tingkat sirkulasinya lebih dari 10 ekor per sirkulasi, dan biasanya 70-80% penderita HIV tidak terdeteksi adanya virus HIV dalam aliran darahnya. Para peneliti melakukan perhitungan sebagai berikut : Misal ada seseorang dengan tingkat sirkulasi virus HIV yang mencapai 1000 dalam aliran darahnya, kemudian ada nyamuk yang mengisap darahnya, maka kemungkinan masuknya satu virus HIV ke dalam seseorang bebas AIDS melalui nyamuk adalah 1 : 10 juta. Dengan kata lain seseorang baru terinfeksi satu virus HIV bila telah digigit oleh 10 juta nyamuk. Dengan menggunakan perhitungan yang sama, maka jika seandainya ada seekor nyamuk yang sedang mengisap tubuh seseorang, kemudian nyamuk tersebut dipukul sehingga darah dalam tubuh nyamuk tadi tersebar, dan ada yang masuk ke dalam luka. Maka kemungkinan masuknya satu virus HIV ke dalam tubuh manusia tadi adalah sangat tidak mungkin. Mungkin dibutuhkan 10 juta nyamuk.
3)Nyamuk bukanlah jarum suntik terbang. Banyak orang beranggapan bahwa nyamuk yang kecil itu sebagai jarum suntik yang terbang. Jika sebuah jarum suntik dapat menularkan HIV dari satu orang ke orang lainnya maka kemungkinan nyamuk pun juga dapat melakukkan hal yang sama. Pada penjelasan di atas telah dibahas bahwa dibutuhkan paling tidak 10 juta nyamuk agar 1 ekor virus HIV dapat masuk dalam tubuh kita. Walaupun ada penderita AIDS yang memiliki tingkat sirkulasi HIV yang sangat tinggi dalam darahnya, maka penyebaran AIDS melalui jarum yang dimiliki nyamuk tetap tidak mungkin. Mengapa ? Karena cara kerja jarum suntik yang dimiliki nyamuk berbeda dengan jarum suntik yang dipakai oleh orang. Jarum suntik biasa hanya memiliki satu jalur, sedangkan pada nyamuk memiliki dua jalur. Banyak orang yang mengetahui bahwa nyamuk mengeluarkan air liur sebelum mereka menghisap darah dari korbannya, namun perlu diketahui bahwa saluran makanan dan saluran air liur tidak menjadi satu alias terpisah. Satu saluran dipakai untuk menghisap darah dan satu saluran dipakai untuk mengeluarkan air liur dan saluran ini tidak pernah tercampur. Semua saluran hanya bersifat satu arah. Dengan demikian nyamuk bukanlah jarum suntik terbang, dan air liur yang dikeluarkan oleh nyamuk ke dalam tubuhmu tidak dikeluarkan dari darah yang telah dihisap sebelumnya.

B.Solusi Yang Pernah Ditawarkan
Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV. Karena untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.

Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.

Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total.

Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.

Menurut Flexner (1998), pada saat ini telah dikenal empat inhibitor protease yang digunakan pada terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV, yaitu indinavir, nelfinavir, ritonavir dan saquinavir. Satu inhibitor lainnya masih dalam proses penelitian, yaitu amprenavir. Inhibitor protease yang telah umum digunakan, memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Semua inhibitor protease yang telah disetujui memiliki efek samping gastrointestinal. Hiperlipidemia, intoleransi glukosa dan distribusi lemak abnormal dapat juga terjadi.

Uji klinis menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan menggunakan inhibitor protease saja dapat menurunkan jumlah RNA HIV secara signifikan dan meningkatkan jumlah sel CD4 (indikator bekerjanya sistem imun) selama minggu pertama perlakuan. Namun demikian, kemampuan senyawa-senyawa ini untuk menekan replikasi virus sering kali terbatas, sehingga menyebabkan terjadinya suatu seleksi yang menghasilkan HIV yang tahan terhadap obat. Karena itu, pengobatan dilakukan dengan menggunakan suatu terapi kombinasi bersama-sama dengan inhibitor reverse transcriptase. Inhibitor protease yang dikombinasikan dengan inhibitor reverse transkriptase menunjukkan respon antiviral yang lebih signifikan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama (Patrick & Potts, 1998).

Salah satu contoh adalah ARV (Anti Retro Virus), yaitu semacam obat yang prinsipnya adalah untuk menekan replikasi virus HIV sehingga tidak dapat membentuk virus-virus HIV baru dalam tubuh inangnya. . Menurut penelitian yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Tufts di Boston, AS, menyebutkan bahwa ARV terbukti 70-90% dapat mengurangi perkembangan virus HIV pada penderita HIV/ AIDS.

C.Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan Dapat Diperbaiki Melalui Gagasan yang Diajukan
Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus, sehingga jumlah virus dapat ditekan. Selain itu, obat-obatan untuk HIV/ AIDS juga lumayan mahal dan sulit dijangkau.

Oleh karena itu, tantangan bagi para peneliti di seluruh dunia (termasuk Indonesia) adalah untuk mencari obat yang dapat menghancurkan virus yang terdapat dalam tubuh, bukan hanya menghambat pertumbuhan virus. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk ditemukannya obat yang berasal dari alam.
D.Pihak-pihak yang Dapat Mengimplementasikan Gagasan
Untuk mengimplementasikan gagasan kami, maka kami harus mempertimbangkan berbagai pihak yang dapat membantu seperti :

1)Tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS.
Tempat rehabilitasi HIV/ AIDS merupakan tempat yang khusus dibangun dan menyediakan tempat yang pantas bagi penderita AIDS yang memiliki kemauan kuat untuk hidup dan sembuh total. Di tempat ini, kami akan menggali informasi sekaligus observasi beberapa tingkatan AIDS dari yang masih awal terinfeksi sampai yang paling parah sehingga nantinya kami dapat memperkirakan berapa dosis obat yang akan diberikan kepada pasien HIV/ AIDS.

2)Tempat mengembangbiakkan nyamuk.
Karena untuk mendapatkan enzim pencernaan nyamuk, diperlukan lebih dari 1 nyamuk saja. Selain itu, dengan mengembangbiakkan nyamuk dapat dibedakan nyamuk mana yang dapat mencerna virus HIV. Apakah Aedes Aegypti penyebab demam berdarah, Anopheles penyebab malaria, Aedes albopictus, atau jenis Culex fatican? Serta mengambil sampel enzim pencernaan dari masing-masing nyamuk untuk mengetahui manakah yang mengandung semacam enzim sehingga virus HIV dapat hancur oleh enzim ini.

3)Analis.
Setelah mengembangbiakkan nyamuk dan mendapatkan sampel enzim pencernaan nyamuk, akan dikirim ke laboratorium analis untuk meneliti apakah benar enzim pencernaan nyamuk dapat menghancurkan virus HIV sehingga pada saat nyamuk akan menancapkan probosisnya pada manusia lain, dia sudah tidak membawa virus HIV kembali. Dengan bekerjasama dengan analis, dapat diketahui apakah enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan sejenis vaksin untuk mengobati HIV/ AIDS karena sifat dari enzim nyamuk adalah bukan menghambat replikasi RNA atau DNA, namun menghancurkan virus HIV tersebut.

4)Dinas Kesehatan.
Setelah mengetahui apakah enzim pencernaan nyamuk benar atau tidak benar mengandung enzim penghancur virus HIV, pihak peneliti akan melaporkan ke dinas kesehatan. Sehingga nantinya, diharapkan apa yang telah diteliti ini dapat disetujui oleh dinas kesehatan untuk menjadi terobosan terbaru bagi pengobatan HIV/ AIDS.

E.Langkah-langkah Strategis yang Harus Dilakukan Untuk Mengimplementasikan Gagasan
Langkah – langkah yang dilakukan peneliti untuk mengimplementasikan Gagasan :

Langkah pertama untuk mengimplementasikan gagasan peneliti yaitu bekerjasama dengan tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS. Di tempat rehabilitasi ini, peneliti akan mendapatkan data bagaimana penderita AIDS yang baru terpapar virus HIV dan yang telah dalam tingkat yang parah. Sehingga dalam meneliti nantinya, peneliti dapat memperkirakan berapa dosis yang diperlukan bagi penderita HIV/ AIDS.

Langkah yang kedua adalah mengembangbiakkan nyamuk. Untuk mengembangbiakkan nyamuk, kita harus menempatkan suatu wadah terbuka yang diisi air. Di sekeliling bagian dalam wadah dipasang kertas, dimana setengah bagian di dalam air, setengah bagian di udara. Nyamuk akan meletakkan telurnya di kertas bagian perbatasan antara air dan udara. Telur-telur nyamuk ini akan berwarna hitam. Setelah sehari direndam di air, telur-telur itu akan berubah menjadi larva 1 (bintik-bintik berwarna coklat). Larva ini selanjutnya akan berkembang menjadi larva 2→larva 3→larva 4 dimana warnanya akan semakin hitam. Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi larva 4 adalah sekitar 4 hari.

Gambar 1 Larva 4

Setelah larva 4 ini, bakal nyamuk akan berunah menjadi pupa dimana bagian belakang kepala akan membesar dan bagian badannya memendek. Dalam bentuk pupa inilah kita akan memindahkannya menggunakan pipet plastik ke suatu wadah terbuka, kemudian dimasukkan ke kandang nyamuk karena pupa akan berubah menjadi nyamuk dalam waktu 1 hari.

Gambar 2. Kandang Nyamuk
Setelah mengembangbiakkan nyamuk, langkah yang ketiga adalah mengambil sampel enzim pencernaan nyamuk bekerjasama dengan analis. Di laboratorium, akan diteliti apakah enzim pencernaan nyamuk memang benar dapat menghancurkan virus HIV. Selain itu, akan diteliti pula apakah enzim pencernaan nyamuk tersebut dapat digunakan pada manusia sehingga dapat menjadi suatu vaksin bagi pengobatan penyakit HIV/ AIDS.

Setelah peneliti mendapatkan sampel bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat atau tidak dijadikan sebagai vaksin untuk HIV/ AIDS, peneliti akan melaporkan kepada Dinas Kesehatan agar diteliti lebih lanjut dan memastikan bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan vaksin. Sehingga apabila disetujui nantinya vaksin dari enzim pencernaan nyamuk ini dapat menjadi suatu terobosan terbaru dalam dunia kesehatan sebagai obat untuk menyembuhkan HIV/ AIDS, bukan sebagai penghambat replikasi materi genetik dari virus HIV tersebut.

III.KESIMPULAN

A.Gagasan yang diajukan
Berdasarkan hasil analisis dan sintesis terhadap gagasan tertulis yang telah dilakukan maka kesimpulan PKM ini adalah bahwa peneliti mendapatkan sampel bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat atau tidak dijadikan sebagai vaksin untuk HIV/ AIDS, peneliti akan melaporkan kepada Dinas Kesehatan agar diteliti lebih lanjut dan memastikan bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan vaksin. Sehingga apabila disetujui nantinya vaksin dari enzim pencernaan nyamuk ini dapat menjadi suatu terobosan terbaru dalam dunia kesehatan sebagai obat untuk menyembuhkan HIV/ AIDS, bukan sebagai penghambat replikasi materi genetik dari virus HIV tersebut.

B.Teknik implementasi yang dilakukan
Bekerjasama dengan tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS. Di tempat rehabilitasi ini, peneliti akan mendapatkan data bagaimana penderita AIDS yang baru terpapar virus HIV dan yang telah dalam tingkat yang parah. Sehingga dalam meneliti nantinya, peneliti dapat memperkirakan berapa dosis yang diperlukan bagi penderita HIV/ AIDS.
Langkah yang kedua adalah mengembangbiakkan nyamuk. Untuk mengembangbiakkan nyamuk, kita harus menempatkan suatu wadah terbuka yang diisi air. Di sekeliling bagian dalam wadah dipasang kertas, dimana setengah bagian di dalam air, setengah bagian di udara. Nyamuk akan meletakkan telurnya di kertas bagian perbatasan antara air dan udara. Telur-telur nyamuk ini akan berwarna hitam. Setelah sehari direndam di air, telur-telur itu akan berubah menjadi larva 1 (bintik-bintik berwarna coklat). Larva ini selanjutnya akan berkembang menjadi larva 2→larva 3→larva 4 dimana warnanya akan semakin hitam. Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi larva 4 adalah sekitar 4 hari.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com.org/content/tubuh
http://www.google.com/info/HIV
http://id.wikipedia.org/wiki/hiv
http://id.wikipedia.org/wiki/nyamuk
http://gugling.com/stem-sel-pengobatan-masa-depan-umat-manusia.html
http://www.wikieducator.org/Lesson_1…ion_To_Malaria
http://www.odhaindonesia.org/content/terapi-hiv

I.PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Tingginya angka jumlah penderita AIDS di Indonesia membuat pemerintah kewalahan. Bukan hanya orang dewasa saja yang menderita AIDS, namun remaja-remaja usia 14-19 tahun merupakan usia rawan tertularnya virus HIV karena saat ini remaja-remaja Indonesia sudah melalukan hubungan seksual/ berganti-ganti pasangan serta mengkonsumsi narkoba menggunakan jarum suntik.
Penderita AIDS seringkali diasingkan dalam kehidupan sosialnya. Hal ini membuat ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) merasa terkucilkan dan tidak bisa meningkatkan kreativitas yang ada dalam dirinya. Virus HIV menyebar dengan cepat dalam tubuh manusia yang menjadi hospesnya. Obat-obatan yang ditawarkan saat ini adalah ARV (Anti Retro Virus) yang harganya lumayan relatif mahal. Sehingga penderita AIDS kesulitan untuk mendapatkannya. Untuk dapat menularkan AIDS pada hospesnya, virus HIV harus mengubah materi genetiknya yaitu RNA menjadi suatu senyawa yang aktif yaitu DNA, kemudian membentuk protein, dan protein inilah yang nantinya akan menghasilkan virus HIV yang lebih banyak dalam tubuh hospesnya.
Sifat dari ARV untuk HIV adalah untuk menekan perubahan RNA menjadi DNA sehingga tidak dapat menghasilkan protein-protein. Untuk bekerja secara maksimal, ARV harus diminum secara rutin karena jika tidak patuh pada aturan ini, maka replikasi RNA tetap akan terjadi. Harga ARV relatif mahal karena sifatnya yang memang rumit itu. Beberapa harga yang ditawarkan oleh pasaran adalah ± Rp. 650.000 sampai jutaan. Penderita AIDS terutama dari kalangan menengah ke bawah kesulitan untuk mendapatkan ARV ini.
Issue yang berkembang di masyarakat adalah nyamuk dapat menularkan virus HIV karena prinsipnya sama dengan alat suntik. Namun kenyataannya, nyamuk tidak dapat menularkan HIV karena nyamuk tidak sama dengan jarum suntik. Nyamuk tidak pernah menggigit manusia karena nyamuk tidak mempunyai gigi. Tetapi nyamuk mencucukkan alat penghisapnya (probosis) ke dalam pembuluh darah kapiler manusia/ hewan mangsanya dengan teknik khasnya, sehingga tidak terasa saat menembus kapiler.
Ketika seekor nyamuk menularkan suatu penyakit dari satu orang ke orang yang lain, maka parasit tadi harus tetap hidup dalam tubuh nyamuk sampai nyamuk tadi selesai mengisap darah orang tersebut. Jika nyamuk mencerna parasit tersebut, maka siklus penularan ini akan terputus dan parasit tidak dapat ditularkan ke korban selanjutnya. Memang ada sejumlah cara yang dilakukan oleh parasit untuk menghindar agar tidak dicerna sebagai makanan. Ada sejumlah parasit yang memang memiliki ketahanan dari enzim pencerna yang ada dalam perut nyamuk, namun kebanyakan parasit-parasit ini menerobos jaringan dalam perut nyamuk agar terhindar dari enzim pencernaan nyamuk yang akan melumatnya sampai habis . Parasit malaria dapat bertahan selama 9-12 hari dalam tubuh nyamuk, yang mana dalam waktu itu parasit ini dapat berkembang menjadi bentuk yang lain. Penelitian terhadap virus HIV secara jelas menunjukkan bahwa virus yang bertanggung jawab terhadap infeksi HIV tersebut dianggap sebagai makanan dan dicerna bersama makanan yang berupa darah. Dalam 1-2 hari virus bersama makanan tadi telah habis dicerna oleh nyamuk, sehingga kemungkinan untuk terjadinya infeksi baru dapat dicegah. Karena virus tidak sempat bereproduksi dan tidak sempat pindah ke kalenjar saliva, maka penularan HIV melalui nyamuk merupakan hal yang tidak mungkin.
Karena itulah penulis berharap dapat ditemukan alternatif pengganti ARV dari enzim pencernaan nyamuk sebagai vaksin HIV/ AIDS yang harganya murah sehingga semua kalangan masyarakat (ODHA) dapat memperolehnya dengan mudah dan tidak perlu mengeluarkan biaya yang tinggi.

B.Tujuan dan Manfaat
Berdasarakan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, penulis menyajikan tujuan dan manfaat seperti di bawah ini, seperti:

1.Tujuan
a)Untuk mencegah tertularnya HIV/AIDS.
b)Mengurangi angka kematian akibat HIV/AIDS.
c)Untuk mengurangi isu yang berkembang di masyarakat bahwa gigitan nyamuk dapat menularkan HIV/AIDS.
2.Manfaat
a)Sebagai sumbangan ilmiah dalam bidang kesehatan.
b)Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa gigitan nyamuk tidak menularkan virus HIV/AIDS.

II.GAGASAN
A. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan
AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit AIDS, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.

Isu yang berkembang di masyarakat bahwa gigitan nyamuk yang sebelumnya menggigit ODHA dapat menularkan HIV/ AIDS kepada orang lain yang sehat. Karena pada prinsipnya, cara kerja nyamuk sama dengan jarum suntik. Tapi kenyataanya HIV tidak menyebar melalui gigitan nyamuk atau gigitan serangga lainnya. Bahkan bila virus masuk ke dalam tubuh nyamuk atau serangga yang menggigit atau mengisap darah, virus tersebut tidak dapat mereproduksi dirinya dalam tubuh serangga. Karena serangga tidak dapat terinfeksi HIV, serangga tidak dapat menularkannya ke tubuh manusia yang digigitnya.

Wayne J. Crans, seorang entomologi dari Inggris mengatakan bahwa ada 3 mekanisme mengapa serangga pengisap darah seperti nyamuk tidak dapat menularkan HIV, yaitu
1)Pada mekanisme pertama, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV dan menelan virus tersebut bersama darah si penderita. Setelah kenyang, nyamuk ini kemudian pulang ke sarangnya, tanpa pindah ke korban selanjutnya. Virus yang terhisap ini masuk ke dalam tubuh, dan bertahan dalam tubuh nyamuk tersebut, virus kemudian berkembang biak dan setelah itu pindah ke dalam kalenjar air liur (salivary gland). Nyamuk yang terinfeksi HIV ini kemudian mencari korban selanjutnya untuk dihisap darahnya. Korban selanjutnya ini bisa saja seseorang yang bersih dari HIV, namun saat nyamuk menghisap darah orang ini virus HIV yang ada dalam kalenjar air liur nyamuk tersebut ikut masuk ke dalam tubuh orang tadi. Mekanisme yang pertama ini digunakan oleh sebagian besar parasit dalam nyamuk, seperti malaria, demam berdarah dan sejenisnya.
2)Pada mekanisme kedua, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV, namun belum kenyang mengisap ia sudah terbang karena terganggu. Daripada kembali ke korban yang pertama tadi, nyamuk memilih korban lain yang mungkin bebas dari AIDS. Setelah nyamuk tadi menusukkan mulutnya ke dalam kulit korbannya ini, nyamuk ini akan menularkan virus yang masih ada dalam mulutnya ke korbannya ini. Mekanisme ini termasuk mekanisme yang tidak lazim dalam infeksi parasit melalui nyamuk.
3)Mekanisme ketiga mirip dengan mekanisme kedua, dimana saat nyamuk mengisap darah korbannya yang mengidap HIV tiba-tiba ia diganggu dan kemudian terbang untuk mencari korban kedua. Namun dalam teori yang ketiga ini, tiba-tiba nyamuk tadi dipukul oleh si korban, dan kemudian darah nyamuk yang telah terkontaminasi HIV ini masuk ke dalam luka si korban tadi. Masing-masing dari mekanisme ini telah diselidiki dan diteliti dengan menggunakan berbagai macam serangga pengisap darah, dan hasilnya secara jelas menunjukkan bahwa nyamuk tidak dapat menularkan AIDS.

Selain itu, Wayne juga mengungkapkan beberapa alasan mengapa nyamuk tidak dapat menularkan HIV, yaitu:
1)Nyamuk mencerna virus yang menyebabkan AIDS. Ketika seekor nyamuk menularkan suatu penyakit dari satu orang ke orang yang lain, maka parasit tadi harus tetap hidup dalam tubuh nyamuk sampai nyamuk tadi selesai mengisap darah orang tersebut. Jika nyamuk mencerna parasit tersebut, maka siklus penularan ini akan terputus dan parasit tidak dapat ditularkan ke korban selanjutnya. Memang ada sejumlah cara yang dilakukan oleh parasit untuk menghindar agar tidak dicerna sebagai makanan. Ada sejumlah parasit yang memang memiliki ketahanan dari enzim pencerna yang ada dalam perut nyamuk, namun kebanyakan parasit-parasit ini menerobos jaringan dalam perut nyamuk agar terhindar dari enzim pencernaan nyamuk yang akan melumatnya sampai habis . Parasit malaria dapat bertahan selama 9-12 hari dalam tubuh nyamuk, yang mana dalam waktu itu parasit ini dapat berkembang menjadi bentuk yang lain. Penelitian terhadap virus HIV secara jelas menunjukkan bahwa virus yang bertanggung jawab terhadap infeksi HIV tersebut dianggap sebagai makanan dan dicerna bersama makanan yang berupa darah. Dalam 1-2 hari virus bersama makanan tadi telah habis dicerna oleh nyamuk, sehingga kemungkinan untuk terjadinya infeksi baru dapat dicegah. Karena virus tidak sempat bereproduksi dan tidak sempat pindah ke kalenjar saliva, maka penularan HIV melalui nyamuk merupakan hal yang tidak mungkin.
2)Nyamuk tidak terlalu banyak menghisap parasit HIV untuk menularkan AIDS melalui kontaminasi. Parasit-parasit penyebar penyakit yang memiliki kemampuan untuk menularkan parasitnya dari satu individu ke individu lainnya melalui mulut harus memiliki tingkat sirkulasi yang sangat tinggi dalam aliran darah inangnya. Penularan melalui kontaminasi mulut memerlukan parasit yang jumlahnya cukup untuk dapat menyebabkan terjadinya infeksi baru. Jumlah parasit yang dibutuhkan bervariasi dari satu penyakit ke penyakit lainnya. Parasit HIV sendiri memiliki tingkat sirkulasi yang sangat rendah dalam aliran darah, nilainya jauh dibawah parasit-parasit nyamuk lainnya. Dalam tubuh penderita AIDS sendiri virus HIV ini jarang-jarang yang tingkat sirkulasinya lebih dari 10 ekor per sirkulasi, dan biasanya 70-80% penderita HIV tidak terdeteksi adanya virus HIV dalam aliran darahnya. Para peneliti melakukan perhitungan sebagai berikut : Misal ada seseorang dengan tingkat sirkulasi virus HIV yang mencapai 1000 dalam aliran darahnya, kemudian ada nyamuk yang mengisap darahnya, maka kemungkinan masuknya satu virus HIV ke dalam seseorang bebas AIDS melalui nyamuk adalah 1 : 10 juta. Dengan kata lain seseorang baru terinfeksi satu virus HIV bila telah digigit oleh 10 juta nyamuk. Dengan menggunakan perhitungan yang sama, maka jika seandainya ada seekor nyamuk yang sedang mengisap tubuh seseorang, kemudian nyamuk tersebut dipukul sehingga darah dalam tubuh nyamuk tadi tersebar, dan ada yang masuk ke dalam luka. Maka kemungkinan masuknya satu virus HIV ke dalam tubuh manusia tadi adalah sangat tidak mungkin. Mungkin dibutuhkan 10 juta nyamuk.
3)Nyamuk bukanlah jarum suntik terbang. Banyak orang beranggapan bahwa nyamuk yang kecil itu sebagai jarum suntik yang terbang. Jika sebuah jarum suntik dapat menularkan HIV dari satu orang ke orang lainnya maka kemungkinan nyamuk pun juga dapat melakukkan hal yang sama. Pada penjelasan di atas telah dibahas bahwa dibutuhkan paling tidak 10 juta nyamuk agar 1 ekor virus HIV dapat masuk dalam tubuh kita. Walaupun ada penderita AIDS yang memiliki tingkat sirkulasi HIV yang sangat tinggi dalam darahnya, maka penyebaran AIDS melalui jarum yang dimiliki nyamuk tetap tidak mungkin. Mengapa ? Karena cara kerja jarum suntik yang dimiliki nyamuk berbeda dengan jarum suntik yang dipakai oleh orang. Jarum suntik biasa hanya memiliki satu jalur, sedangkan pada nyamuk memiliki dua jalur. Banyak orang yang mengetahui bahwa nyamuk mengeluarkan air liur sebelum mereka menghisap darah dari korbannya, namun perlu diketahui bahwa saluran makanan dan saluran air liur tidak menjadi satu alias terpisah. Satu saluran dipakai untuk menghisap darah dan satu saluran dipakai untuk mengeluarkan air liur dan saluran ini tidak pernah tercampur. Semua saluran hanya bersifat satu arah. Dengan demikian nyamuk bukanlah jarum suntik terbang, dan air liur yang dikeluarkan oleh nyamuk ke dalam tubuhmu tidak dikeluarkan dari darah yang telah dihisap sebelumnya.

B.Solusi Yang Pernah Ditawarkan
Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV. Karena untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.

Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.

Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total.

Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.

Menurut Flexner (1998), pada saat ini telah dikenal empat inhibitor protease yang digunakan pada terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV, yaitu indinavir, nelfinavir, ritonavir dan saquinavir. Satu inhibitor lainnya masih dalam proses penelitian, yaitu amprenavir. Inhibitor protease yang telah umum digunakan, memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Semua inhibitor protease yang telah disetujui memiliki efek samping gastrointestinal. Hiperlipidemia, intoleransi glukosa dan distribusi lemak abnormal dapat juga terjadi.

Uji klinis menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan menggunakan inhibitor protease saja dapat menurunkan jumlah RNA HIV secara signifikan dan meningkatkan jumlah sel CD4 (indikator bekerjanya sistem imun) selama minggu pertama perlakuan. Namun demikian, kemampuan senyawa-senyawa ini untuk menekan replikasi virus sering kali terbatas, sehingga menyebabkan terjadinya suatu seleksi yang menghasilkan HIV yang tahan terhadap obat. Karena itu, pengobatan dilakukan dengan menggunakan suatu terapi kombinasi bersama-sama dengan inhibitor reverse transcriptase. Inhibitor protease yang dikombinasikan dengan inhibitor reverse transkriptase menunjukkan respon antiviral yang lebih signifikan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama (Patrick & Potts, 1998).

Salah satu contoh adalah ARV (Anti Retro Virus), yaitu semacam obat yang prinsipnya adalah untuk menekan replikasi virus HIV sehingga tidak dapat membentuk virus-virus HIV baru dalam tubuh inangnya. . Menurut penelitian yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Tufts di Boston, AS, menyebutkan bahwa ARV terbukti 70-90% dapat mengurangi perkembangan virus HIV pada penderita HIV/ AIDS.

C.Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan Dapat Diperbaiki Melalui Gagasan yang Diajukan
Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus, sehingga jumlah virus dapat ditekan. Selain itu, obat-obatan untuk HIV/ AIDS juga lumayan mahal dan sulit dijangkau.

Oleh karena itu, tantangan bagi para peneliti di seluruh dunia (termasuk Indonesia) adalah untuk mencari obat yang dapat menghancurkan virus yang terdapat dalam tubuh, bukan hanya menghambat pertumbuhan virus. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk ditemukannya obat yang berasal dari alam.
D.Pihak-pihak yang Dapat Mengimplementasikan Gagasan
Untuk mengimplementasikan gagasan kami, maka kami harus mempertimbangkan berbagai pihak yang dapat membantu seperti :

1)Tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS.
Tempat rehabilitasi HIV/ AIDS merupakan tempat yang khusus dibangun dan menyediakan tempat yang pantas bagi penderita AIDS yang memiliki kemauan kuat untuk hidup dan sembuh total. Di tempat ini, kami akan menggali informasi sekaligus observasi beberapa tingkatan AIDS dari yang masih awal terinfeksi sampai yang paling parah sehingga nantinya kami dapat memperkirakan berapa dosis obat yang akan diberikan kepada pasien HIV/ AIDS.

2)Tempat mengembangbiakkan nyamuk.
Karena untuk mendapatkan enzim pencernaan nyamuk, diperlukan lebih dari 1 nyamuk saja. Selain itu, dengan mengembangbiakkan nyamuk dapat dibedakan nyamuk mana yang dapat mencerna virus HIV. Apakah Aedes Aegypti penyebab demam berdarah, Anopheles penyebab malaria, Aedes albopictus, atau jenis Culex fatican? Serta mengambil sampel enzim pencernaan dari masing-masing nyamuk untuk mengetahui manakah yang mengandung semacam enzim sehingga virus HIV dapat hancur oleh enzim ini.

3)Analis.
Setelah mengembangbiakkan nyamuk dan mendapatkan sampel enzim pencernaan nyamuk, akan dikirim ke laboratorium analis untuk meneliti apakah benar enzim pencernaan nyamuk dapat menghancurkan virus HIV sehingga pada saat nyamuk akan menancapkan probosisnya pada manusia lain, dia sudah tidak membawa virus HIV kembali. Dengan bekerjasama dengan analis, dapat diketahui apakah enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan sejenis vaksin untuk mengobati HIV/ AIDS karena sifat dari enzim nyamuk adalah bukan menghambat replikasi RNA atau DNA, namun menghancurkan virus HIV tersebut.

4)Dinas Kesehatan.
Setelah mengetahui apakah enzim pencernaan nyamuk benar atau tidak benar mengandung enzim penghancur virus HIV, pihak peneliti akan melaporkan ke dinas kesehatan. Sehingga nantinya, diharapkan apa yang telah diteliti ini dapat disetujui oleh dinas kesehatan untuk menjadi terobosan terbaru bagi pengobatan HIV/ AIDS.

E.Langkah-langkah Strategis yang Harus Dilakukan Untuk Mengimplementasikan Gagasan
Langkah – langkah yang dilakukan peneliti untuk mengimplementasikan Gagasan :

Langkah pertama untuk mengimplementasikan gagasan peneliti yaitu bekerjasama dengan tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS. Di tempat rehabilitasi ini, peneliti akan mendapatkan data bagaimana penderita AIDS yang baru terpapar virus HIV dan yang telah dalam tingkat yang parah. Sehingga dalam meneliti nantinya, peneliti dapat memperkirakan berapa dosis yang diperlukan bagi penderita HIV/ AIDS.

Langkah yang kedua adalah mengembangbiakkan nyamuk. Untuk mengembangbiakkan nyamuk, kita harus menempatkan suatu wadah terbuka yang diisi air. Di sekeliling bagian dalam wadah dipasang kertas, dimana setengah bagian di dalam air, setengah bagian di udara. Nyamuk akan meletakkan telurnya di kertas bagian perbatasan antara air dan udara. Telur-telur nyamuk ini akan berwarna hitam. Setelah sehari direndam di air, telur-telur itu akan berubah menjadi larva 1 (bintik-bintik berwarna coklat). Larva ini selanjutnya akan berkembang menjadi larva 2→larva 3→larva 4 dimana warnanya akan semakin hitam. Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi larva 4 adalah sekitar 4 hari.

Gambar 1 Larva 4

Setelah larva 4 ini, bakal nyamuk akan berunah menjadi pupa dimana bagian belakang kepala akan membesar dan bagian badannya memendek. Dalam bentuk pupa inilah kita akan memindahkannya menggunakan pipet plastik ke suatu wadah terbuka, kemudian dimasukkan ke kandang nyamuk karena pupa akan berubah menjadi nyamuk dalam waktu 1 hari.

Gambar 2. Kandang Nyamuk
Setelah mengembangbiakkan nyamuk, langkah yang ketiga adalah mengambil sampel enzim pencernaan nyamuk bekerjasama dengan analis. Di laboratorium, akan diteliti apakah enzim pencernaan nyamuk memang benar dapat menghancurkan virus HIV. Selain itu, akan diteliti pula apakah enzim pencernaan nyamuk tersebut dapat digunakan pada manusia sehingga dapat menjadi suatu vaksin bagi pengobatan penyakit HIV/ AIDS.

Setelah peneliti mendapatkan sampel bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat atau tidak dijadikan sebagai vaksin untuk HIV/ AIDS, peneliti akan melaporkan kepada Dinas Kesehatan agar diteliti lebih lanjut dan memastikan bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan vaksin. Sehingga apabila disetujui nantinya vaksin dari enzim pencernaan nyamuk ini dapat menjadi suatu terobosan terbaru dalam dunia kesehatan sebagai obat untuk menyembuhkan HIV/ AIDS, bukan sebagai penghambat replikasi materi genetik dari virus HIV tersebut.

III.KESIMPULAN

A.Gagasan yang diajukan
Berdasarkan hasil analisis dan sintesis terhadap gagasan tertulis yang telah dilakukan maka kesimpulan PKM ini adalah bahwa peneliti mendapatkan sampel bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat atau tidak dijadikan sebagai vaksin untuk HIV/ AIDS, peneliti akan melaporkan kepada Dinas Kesehatan agar diteliti lebih lanjut dan memastikan bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan vaksin. Sehingga apabila disetujui nantinya vaksin dari enzim pencernaan nyamuk ini dapat menjadi suatu terobosan terbaru dalam dunia kesehatan sebagai obat untuk menyembuhkan HIV/ AIDS, bukan sebagai penghambat replikasi materi genetik dari virus HIV tersebut.

B.Teknik implementasi yang dilakukan
Bekerjasama dengan tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS. Di tempat rehabilitasi ini, peneliti akan mendapatkan data bagaimana penderita AIDS yang baru terpapar virus HIV dan yang telah dalam tingkat yang parah. Sehingga dalam meneliti nantinya, peneliti dapat memperkirakan berapa dosis yang diperlukan bagi penderita HIV/ AIDS.
Langkah yang kedua adalah mengembangbiakkan nyamuk. Untuk mengembangbiakkan nyamuk, kita harus menempatkan suatu wadah terbuka yang diisi air. Di sekeliling bagian dalam wadah dipasang kertas, dimana setengah bagian di dalam air, setengah bagian di udara. Nyamuk akan meletakkan telurnya di kertas bagian perbatasan antara air dan udara. Telur-telur nyamuk ini akan berwarna hitam. Setelah sehari direndam di air, telur-telur itu akan berubah menjadi larva 1 (bintik-bintik berwarna coklat). Larva ini selanjutnya akan berkembang menjadi larva 2→larva 3→larva 4 dimana warnanya akan semakin hitam. Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi larva 4 adalah sekitar 4 hari.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com.org/content/tubuh
http://www.google.com/info/HIV
http://id.wikipedia.org/wiki/hiv
http://id.wikipedia.org/wiki/nyamuk
http://gugling.com/stem-sel-pengobatan-masa-depan-umat-manusia.html
http://www.wikieducator.org/Lesson_1…ion_To_Malaria
http://www.odhaindonesia.org/content/terapi-hiv

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: