ASUHAN NEONATUS

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Di negara Indonesia, masalah gangguan kesehatan pada anak-anak bukan lagi barang yang asing. Sejumlah kasus menunjukkan betapa jelas kesehatan anak, bayi dan balita belum mendapat porsi penanganan yang selayaknya. Seperti pada kasus poliomyelitis. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini menyerang otot dan syaraf “ mulai dari leher kebagian bawah tubuh “ kasus ini yang sampai pekan lalu menjcapai angka 5, sementara II kasus lain masih diteliti, merupakan peristiwa yang mengagetkan semua pihak. Pasalnya sudah sejak satu dekade lalu, Indonesia dianggap bebas dari poliomyelitis / polio. Ketika diteliti lebih lanjut mengapa kasus ini muncul, sangat bisa dimengerti kenapa polio datang lagi, ternyata salah satu penyebabnya adalah malasnya sang ibu untuk memberikan imunisasi pada anak-anaknya. Polio tidak ada obatnya, pertahanan satu-satunya adalah imunisasi. Virus polio masuk ketubuh melalui mulut berasal dari air atau makanan yang tercemar kotoran penderita polio. Juga disebabkan kurang terjaganya kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggalnya. 1.2Tujuan Mahasiswa dapat memperluas, memperbanyak pengetahuan mengenai penyakit poliomyelitis yang terjadi pada anak-anak, bayi dan balita. Mahasiswa juga dapat mengetahui pencegahan dan pengobatan penyakit poliomyelitis yang terjadi pada anak-anak, bayi dan balita. Serta mahasiswa juga dapat mengetahui jenis imunisasi poliomyelitis yang diberikan pada anak-anak, bayi dan balita. 1.3Manfaat Mahasiswa mampu memberikan penjelasan pada orang tua bahwa penyakit polio akan dapat menyebabkan kelumpuhan. Mahasiswa juga mampu memcegah penyakit poliomyelitis ini dengan semaksimal mungkin yang dapat mengakibatkan terjadinya deformitas, contractur otot dan luxatio oleh karena kelumpuhan otot. Mahasiswa juga mampu memberikan terapi, pengobatan dan memberikan imunisasi pada penderita poliomyelitis, sehingga anak-anak, bayi dan balita.tidak banyak yang terserang oleh penyakit poliomyelitis ini, dan jika anak-anak, bayi dan balita yang sudah terjangkit penyakit ini dapat diterapi dan diobati dengan baik dan maksimal. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Penyakit Poliomyelitis 2.1.1 Pengertian Poliomyelitis Sinonim : Acute Anterior Poliomyelitis, Infantile Paralysis, penyakit Heine dan Medin. Poliomyelitis ialah penyakit menular acute yang disebabkan oleh virus dan prediksi pada sel anterior masa kelabu sum-sum tulang belakang dan inti motorik batang otak dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf pusat tersebut akan terjadi kelumpuhan dan atrofi otot. Poliomilitis adalah penyakit menular yang akut disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf tersebut akan terjadi kelumpuhan serta autropi otot. Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralysis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ketubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir kesistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralysis). a)Poliomielitis non paralitik : Gejala klinik hamper sama dengan poliomyelitis abortif , hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat. Gejala ini timbul 1-2 hari kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi demam atau masuk kedalam fase ke2 dengan nyeri otot. Khas untuk penyakit ini dengan hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion spinal dan kolumna posterior. b)Poliomielitis paralitik : Gejala sama pada poliomyelitis non paralitik disertai kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau cranial. Timbul paralysis akut pada bayi ditemukan paralysis fesika urinaria dan antonia usus. Adapun bentuk-bentuk gejalanya antara lain : Bentuk spinal. Gejala kelemahan / paralysis atau paresis otot leher, abdomen, tubuh, diafragma, thorak dan terbanyak ekstremitas. Bentuk bulbar. Gangguan motorik satu atau lebih syaraf otak dengan atau tanpa gangguan pusat vital yakni pernapasan dan sirkulasi. Bentuk bulbospinal. Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bentuk bulbar. Kadang ensepalitik. Dapat disertai gejala delirium, kesadaran menurun, tremor dan kadang kejang. Tahun 1840 Heine untuk pertama kali mengumpulkan beberapa kasus poliomyelitis di Jerman. Tahun 1890 Medin Stockholm mengemukakan gambaran epidemi poliomyelitis atas jasa-jasa penemuan mereka ini maka penyakit tersebut, disebut juga penyakit Heine dan Medin. Tahun 1908 Londsteiner dapat menimbulkan kelumpuhan pada kera dengan penyuntikan intraperitonia jaringan sum-sum tulang belakang penderita yang meninggal akibat penyakit poliomyelitis. Tahun 1910 sifat virus yang filtrabel dapat dibuktikan. 2.1.1.1. Angka Kejadian dan Epidemologi. Paul ( 1955 ), menemukan bahwa 40 – 50 tahun yang lalu di Eropa Utara terdapat penderita poliomyelitis terbanyak pada umur 0 – 4 tahun, kemudian berubah menjadi 5 – 9 tahun dan kini di Swedia pada umur 7 – 15 tahun, bahkan akhir-akhir ini usia 15 – 25 tahun . Goar ( 1955 ), dalam uraiannya tentang poliomyelitis dinegeri yang baru berkembang dengan sanitasi yang baruk berkesimpulan bahwa didaerah-daerah tersebut pada epidemi poliomyelitis ditemukan 90% pada anak dibawah umur 5 tahun. Hal ini disebabkan karena penduduk telah mendapatkan infeksi atau imunisasi pada masa anak, sehingga seperti juga halnya di Indonesia penyakit poliomyelitis jarang terdapat pada orang dewasa. Dibagian ilmu kesehatan anak FKUI-RSCM Jakarta antara tahun 1953 – 1957, diantara 21 penderita yang dirawat 2/3 diantaranya berumur 1-5 tahun. Penyekit poliomyelitis jarang terdapat dibawah umur 6 bulan, mungkin karena imunitas pasif yang didapat dari ibunya, tetapi poliomyelitis yang terjadi pada bayi yang baru lahir pernah dilaporkan dalam kepustakaan. Penyekit dapat ditularkan oleh karier yang sehat atau oleh kasus yang abortif. Bila virus prevalen pada suatu daerah, maka penyakit ini dapat dipercepat penyebarannya dengan tindakan operasi seperti Tonsilektomi, Ekstrasi gigi yang merupakan porte d’entrée atau penyuntikan. 2.1.2 Etiologi Virus poliomyelitis tergolong dalam enterovirus yang filtrabel. Virus ini dapat di isolasi tiga strain virus tersebut yaitu : tipe I ( brunhilde),tipe II (lansing) dan tipe III (leon). Infeksi dapat terjadi oleh satu atau lebih tipe tersebut, yang dapat ditemukan dengan ditemukannya tiga macam zat anti dalam serum seorang penderita. Epidemic yang luas dan ganas biasanya di sebabkan oleh virus tipe I, sedangan epidemic yang ringan oleh tipe II, sedangkan tipe II kadang-kadang menyebabkan kasus yang sporadik. Virus ini dapat hidup di air untuk berbulan-bulan dan bertahan dalam deep freeze,dapat tahan terhadap banyak bahan kimia termasuk sulfanamida, antibiotia,(streptomisin,penisilin,kloromisetin), eter,fenol, dan gliserin. Virus dapat dimusnakan dengan cara pengeringan atau dengan pemberiam zat oksidator yang kuat sperti peroksida atau kalium permagonat. Reservoir alamiah satu-satunya ialah manusia, walaupun virus juga terdapat pada sampah atau lalat. Asa inkubasi biasanya antara 7-10 hari, tetapi kadang-kadang terdapat kasus dengan inkubasi antara 3-35 hari Penyebab poliomyelitis Family Pecornavirus dan Genus virus, dibagi 3 yaitu : a)Brunhilde b)Lansing c)Leon ; Dapat hidup berbulan-bulan didalam air, mati dengan pengeringan /oksidan. Masa inkubasi : 7-10-35 hari Klasifikasi virus Golongan: Golongan IV ((+)ssRNA) Familia: Picornaviridae Genus: Enterovirus Spesies: Poliovirus 2.1.3 Patogenesis Virus biasanya memasuki tubuh melalui rongga orofaring, berkembang baik dalam traktus degestifus, kelenjar getah bening gegional dan sistem retikuloendotetial. Dalam keadaan ini timbul : 1.Perkembangan virus 2.Tubuh bereaksi dengan membentuk anti bodi spesifik. Bila pembentukan zat anti tubuh mencukupi dan cepat maka virus akan dinetralisasikan, sehingga timbul gejala klinis yang ringan atau tidak terdapat sama sekali dan timbul imunitas terhadap virus tersebut. Bila poliferasi virus tersebut lebih cepat dari pembentukan zat anti maka akan timbul viremian dan gejala klinis, kemudian virus akan terdapat dalam feses untuk beberapa minggu lamanya. 2.1.4 Patofisiologi Berlainan dengan virus-virus lain yang menyerang susunan syaraf, maka neuropatologi poliomyelitis biasanya patoknomonik virus bisa menyerang sel-sel dan daerah tertentu susunan syaraf. Tidak semua neuron yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali, dapat terjadi penyembuhan fungsi neouron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala. Daerah yang biasa terkena pada poliomyelitis ialah : 1.Medula Spinalis, terutama kornu anterior. 2.Batang otak pada nuklius vestibularis dan inti-inti syaraf cranial serta formasio retikularis yang mengandung pusat fital. 3.Serebulum terutama inti-inti pada vermis. 4.Midbrain terutama masa kelabu, subtansia nigra dan kadang-kadang nucleus rubra. 5.Talamus dan hipotalamus 6.Palidom 7.Korteks serebri, hanya daerah motorik. Virus hanya menyerang sel-sel dan daerah susunan syaraf tertentu. Tidak semua neuron yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali dapat terjadi penyembuhan fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala. Daerah yang biasanya terkena poliomyelitis ialah : Medula spinalis terutama kornu anterior, Batang otak pada nucleus vestibularis dan inti-inti saraf cranial serta formasio retikularis yang mengandung pusat vital, Sereblum terutama inti-inti virmis, Otak tengah “midbrain” terutama masa kelabu substansia nigra dan kadang-kadang nucleus rubra, Talamus dan hipotalamus, Palidum dan Korteks serebri, hanya daerah motorik 2.1.5 Gejala Klinis Dapat berupa : a. Asimtomatis ( silent infection ) Setelah masa inkobasi 7 – 10 hari, karena daya tahan tubuh maka tidak terdapat gejala klinis sama sekali. Pada suatu epidermi diperkirakan terdapat pada 90-95% penduduk dan menyebabkan imunitas terhadap virus tersebut. b. Poliomyelitis abortif. Diduga secara klinis hanya pada penduduk / anak-anak didaerah yang terserang epidermi, terutama yang diketahui kontak dengan penderita poliomyelitis yang jelas. Diperkirakan terdapat 4-8% penduduk pada suatu epidermi. Timbul mendadak, berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Gejala berupa infeksi virus, konstipasi dan nyeri abdomen. Yang masuk pasti hanya dapat dibuat dengan menemukan virus dibiakan jaringan. Diagnosis banding influenza atau infensi bakteri daerah nasofaring. c. Poliomyelitis non paralitik. Gejala klinis sama dengan Poliomyelitis abortif, hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih berat. Gejala-gejala ini timbul 1-2 hari, kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi deman atau masuk dalam fase ke-2 dengan nyeri otot. Ciri khas untuk penyakit ini adalah adanya nyeri dan kaku otot belakang leher, tubuh dan tungkai dengan hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion spinal dan kolomna posterior. Bila anak berusaha duduk dari sikap tidur , maka ia akan menekuk kedua lutut keatas, sedangkan kedua lengan menunjang kebelakang pada tempat tidur ( tanda tripod ) dan terlihat kekakuan otot spinal dan spasme. Kuduk kaku terlihat secara pasif dengan kerning dan brudzinsky yang pasif. “ head drop “ yaitu bila tubuh penderita ditegakan dengan menarik kedua ketiak akan menyebabkan kepala terjatuh kebelakang. Reflek tendon biasanya tidak berubah dan bila terdapat perubahan maka kemungkinan akan terdapat poliomyelitis paralitik . Diagnose banding dengan meningitis serosa, meningitismus, tonsillitis akut yang berhubungan dengan adenitis serfikalis. d. Poliomyelitis paralitik. Gejala yang terdapat pada poliomyelitis non paralitik disertai kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau kranial. Timbul paralisis akut, pada bayi ditemukan paralisis vesika urnaria dan atau nia usus. Secara klinis dapat dibedakan beberapa bentuk sesuai dengan tingginya lesi pada susunan syaraf : 1. Bentuk spinal Dengan gejala kelemahan / paralisis / paresis otot leher, abdomen, tubuh, diagfragma, toraks, dan terbanyak ekstemitas bawah tersering otot besar pada tungkai bawah otot kuatdriseps femoris, pada lengan otot deltoldeus. Sifat paralisis asimetris. Reflek tendon berkurang / menghilang. Tidak terdapat gangguan sensibilitas. Diagnose banding : a.Pseudoparalisis yang non neurogen b.Polyneuritis c.Polyradiku loneuritis d.Miopatia ( kelainan progresif dari otot-otot dengan paralisis dan kelelahan, diserta rasa nyeri ). Pseudoparalisis non neurogen : tidak ada kuduk kaku, tidak ada plelositosis disebabkan oleh trauma / konstusio, demam reumatik akut, ostiomlelitis. Polyneuritis : gejala praplegi dengan gangguan sensibilitas dapat dengan paralisis paratum mole dan gangguan otot bola mata. Polyradiku loneuritis : ( Sindrom guillain-barre ), bedanya ialah : a.Sebelum paralisis lebih dari 50% sindrom guillain-barre terdapat demam tinggi. b.Paralisis tidak akut seperti poliomyelitis, tetapi berlahan-lahan. c.Topografi paralisis berbeda, karena pada sindrom guillain-barre terjadi kelumpuhan bilateral simetris. d.Likuor serebro spinalis pada stadium permulaan poliomyelitis adalah plelositosis sedangkan pada sindrom guillain-barre protein meningkat. e.Proknosis sindrom guillain-barre sembuh tanpa gejala sisa. f.Pada sindrom guillain-barre terdapat gangguan sensorik. 2. Bentuk Bulber Gangguan motorik satu atau lebih syaraf otak dengan atau tanpa gangguan pusat fital yakni pernafasan dan sirkulasi. 3. Bentuk Bulbospinal Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bentuk bulber. 4. Bentuk Ensefalitik Dapat disertai gejala delirium, kesadaran yang menurun, tlemor da kadang-kadang kejang. 1.Poliomielitis aboratif Diberikan analgetk dan sedative Diet adekuat Istirahat sampai suhu normal untuk beberapa hari,sebaiknya dicegah aktifitas yang berlebihan selama 2 bulan kemudian diperiksa neurskeletal secara teliti. 2.Poliomielitis non paralitik Sama seperti aborif Selain diberi analgetika dan sedative dapat dikombinasikan dengan kompres hangat selama 15 – 30 menit,setiap 2 – 4 jam. 3.Poliomielitis paralitik Perawatan dirumah sakit Istirahat total Selama fase akut kebersihan mulut dijaga Fisioterafi Akupuntu Interfero 2.1.6. Pemeriksaan laboratorium. Virus poliomyelitis dapat di isolasi dan dibiakkan secara biakan jaringan dari bahan hapusan tenggorok, darah, likuor, serebro spinalis dan feses. Pemeriksaan likuor serebro spinalis akan menunjukkan plelositosis biasanya kurang dari 500/mm3, pada permulaan lebih banyak polimortonukleus. Sesudah 10-14 hari jumlah sel akan normal atau meninggi sedikit, kemudian pada minggu kedua dapat naik sampai 100 mg%, dengan jumlah sel menurun sehingga disebut dissociation cyoalbuminique pada pemeriksaan daerah tidak didapatkan kelainan yang menyolok. 2.1.7. Kekebalan Kekebalan aktif diperoleh dengan cara infeksi alamiah yaitu didaerah dengan sanitasi buruk mungkin mendapat infeksi yang sangat ringan pada umur yang masih muda atau dapat pula karena arti facially acquired. Kekebalan pasif didapat dengan pemberian globulin gama yang cukup mengandung antibody terhadap 3 tipe virus ( diperoleh dari darah orang dewasa yang pernah menderita poliomyelitis ) atau naturally acquired dari ibu yang imun secara transplasental. 2.1.8. Pengobatan Silent Infection : istirahat Poliomyelitis abortif istirahat 7 hari, bila tidak terdapat gejala apa-apa, aktifitas dapt dimulai lagi. Sesudah 2 bulan dilakukan pemeriksaan lebih teliti terhadap kemungkinan kelainan musculoskeletal. Poliomyelitis paralitik/ non paralitik : istirahat mutlak sedikitnya 2 minggu, perlu pengawasan yang teliti karena setiap saat dapat terjadi paralisis pernafasan terapi kausal tidak ada. Pengobatan simtomatik bergantung kepada : 1. Fase akut : Analgetika untuk rasa nyeri otot. Local diberi pembalut hangat sebaiknya diberi footboard papan penahan pada telapak kaki, yaitu agar kaki terletak pada sudut yang sesuai terhadap tungkai. antipiretika untuk menurunkan suhu bila terdapat retensi urine yang biasanya berlangsung hanya beberapa hari, maka harus dilakukan kateterisasi. Bila terjadi paralisis pernafasan seharusnya dirawat di unit perawatan khusus karena penderita memerlukan bantuan pernafasan mekanis. Pada poliomyelitis hiperbulber kadang-kadang reflek menelan terganggu dengan bahaya pneomania aspirasi. Dalam hal ini kepala anak diletakkan lebih rendah dan dimiringkan kesalah satu sisi. 2. Sesudah fase akut: konyraktur, atrofi dan atoni otot dikurangi dengan fisio terapi. Tindakan ini dilakukan setelah 2 hari demam hilang. Akupuntur yang dilakukan sedini-dininya, tyaitu sgera setelah diagnosis dibuat agaknya memberi hasil yang memuaskan. 2.1.9 Prognosis Bergantung pada beratnya penyakit. Pada bentuk paralitik bergantung pada bagian yang tekena. Bentuk spinal dengan paralisis pernafasan dapat ditolong dengan bantuan pernafasan mekanik. Tipe bulber prognosisnya buruk, kematian biasanya karena kegagalan fungsi pusat pernafasan atau infeksi skunder pada jalan nafas. Otot-otot yang lumpuh dan tidak puluh kembali menunjukkan paralisis tipe flasid dengan atonia, arefleksi dan degenerasi. Komplikasi residual paralisis tersebut ialah kontraktur terutama sendi, subloksasi bila otot yang terkena sekitar sendi, perubahan profik oleh sirkulasi yang kurang sempurna hingga mudah terjadi viserasi pada keadaan ini diberikan pengobatan secara ortopedik. 2.1.10. Mekanisme penyebaran Virus ditularkan infeksi dropped dari oral ke faring ( mulut dan tenggorokan ) atau tinja penderita infeksi. Penularan terutama terjadi langsung dari manusia kemanusia melalui vekal oral ( dari tinja kemulut ) atau yang agak jarang melalui oral-oral ( dari mulut kemulut ) vekal orang berarti meminum atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dari tinja penderita masuk kemulut manusia sehat lainnya. Sementara itu, oral-oral adalah penyebaran dari air liur penderita yang masuk kemulut manusia yang sehat lainnya. Virus polio sangat tahan terhadap alcohol dan lisol, namun peka terhadap pormal dehide dan larutan klorin suhu tinggi cepat mematikan virus, tetapi pada keadaan beku dapat berlahan atau bertahun-tahun. Ketahanan virus ini ditanah dan air sangat bergantung pada kelembaban suhu dan mikroba lainnya. Virus ini bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan hingga berkilo-kilo meter dari sumber penularan. Meski penularan terutama akibat tercemarnya lingkungan oleh virus polio dari penderita yang infeksius, virus itu hidup dilingkungan terbatas salah satu orang atau makhluk hidup perantara yang dapat dibuktikan hingga saat ini adalah manusia. 2.1.11. Therapi. Prinsip : a.Menjelaskan pada orang tua bahwa penyakit polio akan dapat menyebabkan kelumpuhan. b.Mencegah semaksimal mungkin akan terjadinya diformitas contrctur otot dan luxatio oleh karena kelumpuhan otot. Pada penderita abortive poliomyelitis dan non paralitik polio dapat dirawat dirumah dengan perawatan yang teliti oleh karena dapat terjadi komplikasi neuralgis. Bila panas beri ainti piretica Beri luminal untuk mencegah kegelisahan Bila ada spasme otot, dapat diberi pembalut yang hangat Bila retensi urine beri catheter Hindarilah adanya dicubitus ( luka sebab penekanan ) Makanan harus halus untuk mencegah terjadinya aspirasi Makanan harus tinggi kalori dan harus tinggi protein Beri antibiotic 7-10 hari untuk mencegah komplikasi 2.1.12. Pencegahan. Cara terbaik mengahadapi poliomyelitis / pilio adalah dengan mencegahnya. Sebab, bila seorang anak sudah terserang polio dan lumpuh, fisio terapi dalam waktu lama harus dijalaninya. Langkah ini tidak mudah untuk dijalankan, karena itu beberapa hal ini perlu diperhatikan : a.Jangan masuk daerah epidermi. b.Dalam daerah epidermi jangan melakukan “ stress “ yang berat seperti tonsilekstomi, suntikan dan sebagainya. c.Mengurangi aktifitas jasmani yang berlebihan ( tidak boleh terlalu lelah ) d.Setelah anak lahir, segera berikan imunisasi lengkap, supaya kekebalan tubuhnya menjadi kuat. e.Ajarkan pada anak untuk selalu menjaga kebersihan pribadi dan lingkungannya. f.Penggunaan jamban keluarga, penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, serta memelihara kebersihan makanan adalah langkah yang tepat untuk hidup sehat. Dalam World Heald assembly 1988 yang diikuti sebagian besar negara didunia, dibuat kesepakatan untuk melakukan eradikasi polio ( Eropa ) tahun 2000. Artinya, dunia bebas polio pada tahun 2000 program Eropa pertama yang dilakukan adalah melakukan imunisasi tinggi dan menyeluruh. Kemudian diikuti pekan imunisasi nasional yang dilakukan Depkes 1995, 1996 dan 1997. Imunisasi polio yang harus dilakukan sesuai rekomendasi WHO adalah sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6 – 8 minggu. Kemudian, diulang usia 1, 5 tahun dan 15 tahun. Upaya ketiga adalah servilance acute flaccid paralisis atau penemuan penderita yang dicurigai lumpuh layu pada usia dibawah 15 tahun. Mereka harus diperiksa tinjanya untuk memastika apakah polio atau bukan. Tindakan lain adalah melakukan mopping-up, yaitu pemberian vaksinasi missal didaerah yang ditemukan penderita polio terhadap anak usia dibawah 5 tahun tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. BAB III KONSEP ASUHAN 3.1 Pengkajian 1.Riwayat kesehatan Riwayat pengobatan penyakit-penyakit dan riwayat imunitas 2.Pemeriksaan fisik a.Nyeri kepala b.Paralisis c.Refleks tendon berkurang d.Kaku kuduk e.Brudzinky 3.2 Analisa Data 3.3 Diagnosa/Masalah 1.Perubahan nutrisi dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, mual dan muntah 2.Hipertermi b/d proses infeksi 3.resiko ketidakefektifan pola nafas dan ketidakefektifan jalan nafas b/d paralysis otot 4.Nyeri b/d proses infeksi yang menyerang syaraf 5.Gangguan mobilitas fisik b/d paralysis 6.Kecemasan pada anak dan keluarga b/d kondisi penyakit. 3.4 Rencana Tindakan Dx 1 : 1.Kaji pola makan anak Mengetahui intake dan output anak 2.Berikan makanan secara adekuat Untuk mencakupi masukan sehingga output dan intake seimbang 3.Berikan nutrisi kalori, protein, vitamin dan mineral. 4.Timbang berat badan Mengetahui perkembangan anak 5.Berikan makanan kesukaan anak Menambah masukan dan merangsang anak untuk makan lebih banyak 6.Berikan makanan tapi sering Mempermudah proses pencernaan Dx 2 : 1.Pantau suhu tubuh Untuk mencegah kedinginan tubuh yang berlebih 2.Jangan pernah menggunakan usapan alcohol saat mandi/kompres Dapat menyebabkan efek neurotoksi 3.Hindari mengigil 4.Kompres mandi hangat durasi 20-30 menit Dapat membantu mengurangi demam Dx 3 : 1.Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman Pengenalan dini dan pengobatan ventilasi dapat mencegah komplikasi. 2.Auskultasi bunyi nafas Mengetahui adanya bunyi tambahan 3.Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler Merangsang fungsi pernafasan atau ekspansi paru 4.Berikan tambahan oksigen Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru Dx 4 : 1.Lakukan strategi non farmakologis untuk membantu anak mengatasi nyeri Theknik-theknik seperti relaksasi, pernafasan berirama, dan distraksi dapat membuat nyeri dan dapat lebih di toleransi 2.Libatkan orang tua dalam memilih strategi Karena orang tua adalah yang lebih mengetahui anak 3.Ajarkan anak untuk menggunakan strategi non farmakologis khusus sebelum nyeri. Pendekatan ini tampak paling efektif pada nyeri ringan 4.Minta orang tua membantu anak dengan menggunakan srtategi selama nyeri Latihan ini mungkin diperlukan untuk membantu anak berfokus pada tindakan yang diperlukan 5.Berikan analgesic sesuai indikasi. Dx 5 : 1.Tentukan aktivitas atau keadaan fisik anak Memberikan informasi untuk mengembangkan rencana perawatan bagi program rehabilitasi. 2.Catat dan terima keadaan kelemahan (kelelahan yang ada) Kelelahan yang dialami dapat mengindikasikan keadaan anak 3.Indetifikasi factor-faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk aktif seperti pemasukan makanan yang tidak adekuat. Memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah untuk mempertahankan atau meningkatkan mobilitas 4.Evaluasi kemampuan untuk melakukan mobilisasi secara aman Latihan berjalan dapat meningkatkan keamanan dan efektifan anak untuk berjalan. Dx 6 : 1.Kaji tingkat realita bahaya bagi anak dan keluarga tingkat ansietas (mis.rendah, sedang, parah). Respon keluarga bervariasi tergantung pada pola kultural yang dipelajari. 2.Nyatakan retalita dan situasi seperti apa yang dilihat keluarga tanpa menayakan apa yang dipercaya. Pasien mugkin perlu menolak realita sampai siap menghadapinya. 3.Sediakan informasi yang akurat sesuai kebutuhan jika diminta oleh keluarga. Informasi yang menimbulkan ansietas dapat diberikan dalam jumlah yang dapat dibatasi setelah periode yang diperpanjang. 4.Hidari harapan – harapan kosong mis ; pertanyaan seperti “ semua akan berjalan lancar”. Harapan – harapan palsu akan diintervesikan sebagai kurangnya pemahaman atau kejujuran. BAB IV PENUTUP 4.1 Simpulan Poliomilitis adalah penyakit menular yang akut disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf tersebut akan terjadi kelumpuhan serta autropi otot. .Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir kesistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralysis). Penyekit poliomyelitis jarang terdapat dibawah umur 6 bulan, mungkin karena imunitas pasif yang didapat dari ibunya, tetapi poliomyelitis yang terjadi pada bayi yang baru lahir pernah dilaporkan dalam kepustakaan. 4.2Saran Cara pencegahan Sterbaik mengahadapi poliomyelitis / pilio adalah a.Setelah anak lahir, segera berikan imunisasi lengkap, supaya kekebalan tubuhnya menjadi kuat. b.Ajarkan pada anak untuk selalu menjaga kebersihan pribadi dan lingkungannya. c.Penggunaan jamban keluarga, penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, serta memelihara kebersihan makanan adalah langkah yang tepat untuk hidup sehat. DAFTAR PUSTAKA Staff pengajar ilmu kesehatan anak.1985.Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta: Info Medika Speer,Kathleen Morgan.2007.Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik dengan Klinikal Pathways.Edisi III, Alih bahasa : Julianus ake, Renata Komalasari.Jakarta:Buku Kedokteran EGC (http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-encephalitis/ (http://fuadbahsin.wordpress.com/2008/12/25/5-imunisasi-dasar/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: