ASUHAN NEONATUS

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Di negara Indonesia, masalah gangguan kesehatan pada anak-anak bukan lagi barang yang asing. Sejumlah kasus menunjukkan betapa jelas kesehatan anak, bayi dan balita belum mendapat porsi penanganan yang selayaknya. Seperti pada kasus poliomyelitis. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini menyerang otot dan syaraf “ mulai dari leher kebagian bawah tubuh “ kasus ini yang sampai pekan lalu menjcapai angka 5, sementara II kasus lain masih diteliti, merupakan peristiwa yang mengagetkan semua pihak. Pasalnya sudah sejak satu dekade lalu, Indonesia dianggap bebas dari poliomyelitis / polio. Ketika diteliti lebih lanjut mengapa kasus ini muncul, sangat bisa dimengerti kenapa polio datang lagi, ternyata salah satu penyebabnya adalah malasnya sang ibu untuk memberikan imunisasi pada anak-anaknya. Polio tidak ada obatnya, pertahanan satu-satunya adalah imunisasi. Virus polio masuk ketubuh melalui mulut berasal dari air atau makanan yang tercemar kotoran penderita polio. Juga disebabkan kurang terjaganya kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggalnya. 1.2Tujuan Mahasiswa dapat memperluas, memperbanyak pengetahuan mengenai penyakit poliomyelitis yang terjadi pada anak-anak, bayi dan balita. Mahasiswa juga dapat mengetahui pencegahan dan pengobatan penyakit poliomyelitis yang terjadi pada anak-anak, bayi dan balita. Serta mahasiswa juga dapat mengetahui jenis imunisasi poliomyelitis yang diberikan pada anak-anak, bayi dan balita. 1.3Manfaat Mahasiswa mampu memberikan penjelasan pada orang tua bahwa penyakit polio akan dapat menyebabkan kelumpuhan. Mahasiswa juga mampu memcegah penyakit poliomyelitis ini dengan semaksimal mungkin yang dapat mengakibatkan terjadinya deformitas, contractur otot dan luxatio oleh karena kelumpuhan otot. Mahasiswa juga mampu memberikan terapi, pengobatan dan memberikan imunisasi pada penderita poliomyelitis, sehingga anak-anak, bayi dan balita.tidak banyak yang terserang oleh penyakit poliomyelitis ini, dan jika anak-anak, bayi dan balita yang sudah terjangkit penyakit ini dapat diterapi dan diobati dengan baik dan maksimal. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Konsep Penyakit Poliomyelitis 2.1.1 Pengertian Poliomyelitis Sinonim : Acute Anterior Poliomyelitis, Infantile Paralysis, penyakit Heine dan Medin. Poliomyelitis ialah penyakit menular acute yang disebabkan oleh virus dan prediksi pada sel anterior masa kelabu sum-sum tulang belakang dan inti motorik batang otak dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf pusat tersebut akan terjadi kelumpuhan dan atrofi otot. Poliomilitis adalah penyakit menular yang akut disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf tersebut akan terjadi kelumpuhan serta autropi otot. Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralysis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ketubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir kesistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralysis). a)Poliomielitis non paralitik : Gejala klinik hamper sama dengan poliomyelitis abortif , hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat. Gejala ini timbul 1-2 hari kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi demam atau masuk kedalam fase ke2 dengan nyeri otot. Khas untuk penyakit ini dengan hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion spinal dan kolumna posterior. b)Poliomielitis paralitik : Gejala sama pada poliomyelitis non paralitik disertai kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau cranial. Timbul paralysis akut pada bayi ditemukan paralysis fesika urinaria dan antonia usus. Adapun bentuk-bentuk gejalanya antara lain : Bentuk spinal. Gejala kelemahan / paralysis atau paresis otot leher, abdomen, tubuh, diafragma, thorak dan terbanyak ekstremitas. Bentuk bulbar. Gangguan motorik satu atau lebih syaraf otak dengan atau tanpa gangguan pusat vital yakni pernapasan dan sirkulasi. Bentuk bulbospinal. Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bentuk bulbar. Kadang ensepalitik. Dapat disertai gejala delirium, kesadaran menurun, tremor dan kadang kejang. Tahun 1840 Heine untuk pertama kali mengumpulkan beberapa kasus poliomyelitis di Jerman. Tahun 1890 Medin Stockholm mengemukakan gambaran epidemi poliomyelitis atas jasa-jasa penemuan mereka ini maka penyakit tersebut, disebut juga penyakit Heine dan Medin. Tahun 1908 Londsteiner dapat menimbulkan kelumpuhan pada kera dengan penyuntikan intraperitonia jaringan sum-sum tulang belakang penderita yang meninggal akibat penyakit poliomyelitis. Tahun 1910 sifat virus yang filtrabel dapat dibuktikan. 2.1.1.1. Angka Kejadian dan Epidemologi. Paul ( 1955 ), menemukan bahwa 40 – 50 tahun yang lalu di Eropa Utara terdapat penderita poliomyelitis terbanyak pada umur 0 – 4 tahun, kemudian berubah menjadi 5 – 9 tahun dan kini di Swedia pada umur 7 – 15 tahun, bahkan akhir-akhir ini usia 15 – 25 tahun . Goar ( 1955 ), dalam uraiannya tentang poliomyelitis dinegeri yang baru berkembang dengan sanitasi yang baruk berkesimpulan bahwa didaerah-daerah tersebut pada epidemi poliomyelitis ditemukan 90% pada anak dibawah umur 5 tahun. Hal ini disebabkan karena penduduk telah mendapatkan infeksi atau imunisasi pada masa anak, sehingga seperti juga halnya di Indonesia penyakit poliomyelitis jarang terdapat pada orang dewasa. Dibagian ilmu kesehatan anak FKUI-RSCM Jakarta antara tahun 1953 – 1957, diantara 21 penderita yang dirawat 2/3 diantaranya berumur 1-5 tahun. Penyekit poliomyelitis jarang terdapat dibawah umur 6 bulan, mungkin karena imunitas pasif yang didapat dari ibunya, tetapi poliomyelitis yang terjadi pada bayi yang baru lahir pernah dilaporkan dalam kepustakaan. Penyekit dapat ditularkan oleh karier yang sehat atau oleh kasus yang abortif. Bila virus prevalen pada suatu daerah, maka penyakit ini dapat dipercepat penyebarannya dengan tindakan operasi seperti Tonsilektomi, Ekstrasi gigi yang merupakan porte d’entrée atau penyuntikan. 2.1.2 Etiologi Virus poliomyelitis tergolong dalam enterovirus yang filtrabel. Virus ini dapat di isolasi tiga strain virus tersebut yaitu : tipe I ( brunhilde),tipe II (lansing) dan tipe III (leon). Infeksi dapat terjadi oleh satu atau lebih tipe tersebut, yang dapat ditemukan dengan ditemukannya tiga macam zat anti dalam serum seorang penderita. Epidemic yang luas dan ganas biasanya di sebabkan oleh virus tipe I, sedangan epidemic yang ringan oleh tipe II, sedangkan tipe II kadang-kadang menyebabkan kasus yang sporadik. Virus ini dapat hidup di air untuk berbulan-bulan dan bertahan dalam deep freeze,dapat tahan terhadap banyak bahan kimia termasuk sulfanamida, antibiotia,(streptomisin,penisilin,kloromisetin), eter,fenol, dan gliserin. Virus dapat dimusnakan dengan cara pengeringan atau dengan pemberiam zat oksidator yang kuat sperti peroksida atau kalium permagonat. Reservoir alamiah satu-satunya ialah manusia, walaupun virus juga terdapat pada sampah atau lalat. Asa inkubasi biasanya antara 7-10 hari, tetapi kadang-kadang terdapat kasus dengan inkubasi antara 3-35 hari Penyebab poliomyelitis Family Pecornavirus dan Genus virus, dibagi 3 yaitu : a)Brunhilde b)Lansing c)Leon ; Dapat hidup berbulan-bulan didalam air, mati dengan pengeringan /oksidan. Masa inkubasi : 7-10-35 hari Klasifikasi virus Golongan: Golongan IV ((+)ssRNA) Familia: Picornaviridae Genus: Enterovirus Spesies: Poliovirus 2.1.3 Patogenesis Virus biasanya memasuki tubuh melalui rongga orofaring, berkembang baik dalam traktus degestifus, kelenjar getah bening gegional dan sistem retikuloendotetial. Dalam keadaan ini timbul : 1.Perkembangan virus 2.Tubuh bereaksi dengan membentuk anti bodi spesifik. Bila pembentukan zat anti tubuh mencukupi dan cepat maka virus akan dinetralisasikan, sehingga timbul gejala klinis yang ringan atau tidak terdapat sama sekali dan timbul imunitas terhadap virus tersebut. Bila poliferasi virus tersebut lebih cepat dari pembentukan zat anti maka akan timbul viremian dan gejala klinis, kemudian virus akan terdapat dalam feses untuk beberapa minggu lamanya. 2.1.4 Patofisiologi Berlainan dengan virus-virus lain yang menyerang susunan syaraf, maka neuropatologi poliomyelitis biasanya patoknomonik virus bisa menyerang sel-sel dan daerah tertentu susunan syaraf. Tidak semua neuron yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali, dapat terjadi penyembuhan fungsi neouron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala. Daerah yang biasa terkena pada poliomyelitis ialah : 1.Medula Spinalis, terutama kornu anterior. 2.Batang otak pada nuklius vestibularis dan inti-inti syaraf cranial serta formasio retikularis yang mengandung pusat fital. 3.Serebulum terutama inti-inti pada vermis. 4.Midbrain terutama masa kelabu, subtansia nigra dan kadang-kadang nucleus rubra. 5.Talamus dan hipotalamus 6.Palidom 7.Korteks serebri, hanya daerah motorik. Virus hanya menyerang sel-sel dan daerah susunan syaraf tertentu. Tidak semua neuron yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali dapat terjadi penyembuhan fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala. Daerah yang biasanya terkena poliomyelitis ialah : Medula spinalis terutama kornu anterior, Batang otak pada nucleus vestibularis dan inti-inti saraf cranial serta formasio retikularis yang mengandung pusat vital, Sereblum terutama inti-inti virmis, Otak tengah “midbrain” terutama masa kelabu substansia nigra dan kadang-kadang nucleus rubra, Talamus dan hipotalamus, Palidum dan Korteks serebri, hanya daerah motorik 2.1.5 Gejala Klinis Dapat berupa : a. Asimtomatis ( silent infection ) Setelah masa inkobasi 7 – 10 hari, karena daya tahan tubuh maka tidak terdapat gejala klinis sama sekali. Pada suatu epidermi diperkirakan terdapat pada 90-95% penduduk dan menyebabkan imunitas terhadap virus tersebut. b. Poliomyelitis abortif. Diduga secara klinis hanya pada penduduk / anak-anak didaerah yang terserang epidermi, terutama yang diketahui kontak dengan penderita poliomyelitis yang jelas. Diperkirakan terdapat 4-8% penduduk pada suatu epidermi. Timbul mendadak, berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Gejala berupa infeksi virus, konstipasi dan nyeri abdomen. Yang masuk pasti hanya dapat dibuat dengan menemukan virus dibiakan jaringan. Diagnosis banding influenza atau infensi bakteri daerah nasofaring. c. Poliomyelitis non paralitik. Gejala klinis sama dengan Poliomyelitis abortif, hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih berat. Gejala-gejala ini timbul 1-2 hari, kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi deman atau masuk dalam fase ke-2 dengan nyeri otot. Ciri khas untuk penyakit ini adalah adanya nyeri dan kaku otot belakang leher, tubuh dan tungkai dengan hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion spinal dan kolomna posterior. Bila anak berusaha duduk dari sikap tidur , maka ia akan menekuk kedua lutut keatas, sedangkan kedua lengan menunjang kebelakang pada tempat tidur ( tanda tripod ) dan terlihat kekakuan otot spinal dan spasme. Kuduk kaku terlihat secara pasif dengan kerning dan brudzinsky yang pasif. “ head drop “ yaitu bila tubuh penderita ditegakan dengan menarik kedua ketiak akan menyebabkan kepala terjatuh kebelakang. Reflek tendon biasanya tidak berubah dan bila terdapat perubahan maka kemungkinan akan terdapat poliomyelitis paralitik . Diagnose banding dengan meningitis serosa, meningitismus, tonsillitis akut yang berhubungan dengan adenitis serfikalis. d. Poliomyelitis paralitik. Gejala yang terdapat pada poliomyelitis non paralitik disertai kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau kranial. Timbul paralisis akut, pada bayi ditemukan paralisis vesika urnaria dan atau nia usus. Secara klinis dapat dibedakan beberapa bentuk sesuai dengan tingginya lesi pada susunan syaraf : 1. Bentuk spinal Dengan gejala kelemahan / paralisis / paresis otot leher, abdomen, tubuh, diagfragma, toraks, dan terbanyak ekstemitas bawah tersering otot besar pada tungkai bawah otot kuatdriseps femoris, pada lengan otot deltoldeus. Sifat paralisis asimetris. Reflek tendon berkurang / menghilang. Tidak terdapat gangguan sensibilitas. Diagnose banding : a.Pseudoparalisis yang non neurogen b.Polyneuritis c.Polyradiku loneuritis d.Miopatia ( kelainan progresif dari otot-otot dengan paralisis dan kelelahan, diserta rasa nyeri ). Pseudoparalisis non neurogen : tidak ada kuduk kaku, tidak ada plelositosis disebabkan oleh trauma / konstusio, demam reumatik akut, ostiomlelitis. Polyneuritis : gejala praplegi dengan gangguan sensibilitas dapat dengan paralisis paratum mole dan gangguan otot bola mata. Polyradiku loneuritis : ( Sindrom guillain-barre ), bedanya ialah : a.Sebelum paralisis lebih dari 50% sindrom guillain-barre terdapat demam tinggi. b.Paralisis tidak akut seperti poliomyelitis, tetapi berlahan-lahan. c.Topografi paralisis berbeda, karena pada sindrom guillain-barre terjadi kelumpuhan bilateral simetris. d.Likuor serebro spinalis pada stadium permulaan poliomyelitis adalah plelositosis sedangkan pada sindrom guillain-barre protein meningkat. e.Proknosis sindrom guillain-barre sembuh tanpa gejala sisa. f.Pada sindrom guillain-barre terdapat gangguan sensorik. 2. Bentuk Bulber Gangguan motorik satu atau lebih syaraf otak dengan atau tanpa gangguan pusat fital yakni pernafasan dan sirkulasi. 3. Bentuk Bulbospinal Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan bentuk bulber. 4. Bentuk Ensefalitik Dapat disertai gejala delirium, kesadaran yang menurun, tlemor da kadang-kadang kejang. 1.Poliomielitis aboratif Diberikan analgetk dan sedative Diet adekuat Istirahat sampai suhu normal untuk beberapa hari,sebaiknya dicegah aktifitas yang berlebihan selama 2 bulan kemudian diperiksa neurskeletal secara teliti. 2.Poliomielitis non paralitik Sama seperti aborif Selain diberi analgetika dan sedative dapat dikombinasikan dengan kompres hangat selama 15 – 30 menit,setiap 2 – 4 jam. 3.Poliomielitis paralitik Perawatan dirumah sakit Istirahat total Selama fase akut kebersihan mulut dijaga Fisioterafi Akupuntu Interfero 2.1.6. Pemeriksaan laboratorium. Virus poliomyelitis dapat di isolasi dan dibiakkan secara biakan jaringan dari bahan hapusan tenggorok, darah, likuor, serebro spinalis dan feses. Pemeriksaan likuor serebro spinalis akan menunjukkan plelositosis biasanya kurang dari 500/mm3, pada permulaan lebih banyak polimortonukleus. Sesudah 10-14 hari jumlah sel akan normal atau meninggi sedikit, kemudian pada minggu kedua dapat naik sampai 100 mg%, dengan jumlah sel menurun sehingga disebut dissociation cyoalbuminique pada pemeriksaan daerah tidak didapatkan kelainan yang menyolok. 2.1.7. Kekebalan Kekebalan aktif diperoleh dengan cara infeksi alamiah yaitu didaerah dengan sanitasi buruk mungkin mendapat infeksi yang sangat ringan pada umur yang masih muda atau dapat pula karena arti facially acquired. Kekebalan pasif didapat dengan pemberian globulin gama yang cukup mengandung antibody terhadap 3 tipe virus ( diperoleh dari darah orang dewasa yang pernah menderita poliomyelitis ) atau naturally acquired dari ibu yang imun secara transplasental. 2.1.8. Pengobatan Silent Infection : istirahat Poliomyelitis abortif istirahat 7 hari, bila tidak terdapat gejala apa-apa, aktifitas dapt dimulai lagi. Sesudah 2 bulan dilakukan pemeriksaan lebih teliti terhadap kemungkinan kelainan musculoskeletal. Poliomyelitis paralitik/ non paralitik : istirahat mutlak sedikitnya 2 minggu, perlu pengawasan yang teliti karena setiap saat dapat terjadi paralisis pernafasan terapi kausal tidak ada. Pengobatan simtomatik bergantung kepada : 1. Fase akut : Analgetika untuk rasa nyeri otot. Local diberi pembalut hangat sebaiknya diberi footboard papan penahan pada telapak kaki, yaitu agar kaki terletak pada sudut yang sesuai terhadap tungkai. antipiretika untuk menurunkan suhu bila terdapat retensi urine yang biasanya berlangsung hanya beberapa hari, maka harus dilakukan kateterisasi. Bila terjadi paralisis pernafasan seharusnya dirawat di unit perawatan khusus karena penderita memerlukan bantuan pernafasan mekanis. Pada poliomyelitis hiperbulber kadang-kadang reflek menelan terganggu dengan bahaya pneomania aspirasi. Dalam hal ini kepala anak diletakkan lebih rendah dan dimiringkan kesalah satu sisi. 2. Sesudah fase akut: konyraktur, atrofi dan atoni otot dikurangi dengan fisio terapi. Tindakan ini dilakukan setelah 2 hari demam hilang. Akupuntur yang dilakukan sedini-dininya, tyaitu sgera setelah diagnosis dibuat agaknya memberi hasil yang memuaskan. 2.1.9 Prognosis Bergantung pada beratnya penyakit. Pada bentuk paralitik bergantung pada bagian yang tekena. Bentuk spinal dengan paralisis pernafasan dapat ditolong dengan bantuan pernafasan mekanik. Tipe bulber prognosisnya buruk, kematian biasanya karena kegagalan fungsi pusat pernafasan atau infeksi skunder pada jalan nafas. Otot-otot yang lumpuh dan tidak puluh kembali menunjukkan paralisis tipe flasid dengan atonia, arefleksi dan degenerasi. Komplikasi residual paralisis tersebut ialah kontraktur terutama sendi, subloksasi bila otot yang terkena sekitar sendi, perubahan profik oleh sirkulasi yang kurang sempurna hingga mudah terjadi viserasi pada keadaan ini diberikan pengobatan secara ortopedik. 2.1.10. Mekanisme penyebaran Virus ditularkan infeksi dropped dari oral ke faring ( mulut dan tenggorokan ) atau tinja penderita infeksi. Penularan terutama terjadi langsung dari manusia kemanusia melalui vekal oral ( dari tinja kemulut ) atau yang agak jarang melalui oral-oral ( dari mulut kemulut ) vekal orang berarti meminum atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dari tinja penderita masuk kemulut manusia sehat lainnya. Sementara itu, oral-oral adalah penyebaran dari air liur penderita yang masuk kemulut manusia yang sehat lainnya. Virus polio sangat tahan terhadap alcohol dan lisol, namun peka terhadap pormal dehide dan larutan klorin suhu tinggi cepat mematikan virus, tetapi pada keadaan beku dapat berlahan atau bertahun-tahun. Ketahanan virus ini ditanah dan air sangat bergantung pada kelembaban suhu dan mikroba lainnya. Virus ini bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan hingga berkilo-kilo meter dari sumber penularan. Meski penularan terutama akibat tercemarnya lingkungan oleh virus polio dari penderita yang infeksius, virus itu hidup dilingkungan terbatas salah satu orang atau makhluk hidup perantara yang dapat dibuktikan hingga saat ini adalah manusia. 2.1.11. Therapi. Prinsip : a.Menjelaskan pada orang tua bahwa penyakit polio akan dapat menyebabkan kelumpuhan. b.Mencegah semaksimal mungkin akan terjadinya diformitas contrctur otot dan luxatio oleh karena kelumpuhan otot. Pada penderita abortive poliomyelitis dan non paralitik polio dapat dirawat dirumah dengan perawatan yang teliti oleh karena dapat terjadi komplikasi neuralgis. Bila panas beri ainti piretica Beri luminal untuk mencegah kegelisahan Bila ada spasme otot, dapat diberi pembalut yang hangat Bila retensi urine beri catheter Hindarilah adanya dicubitus ( luka sebab penekanan ) Makanan harus halus untuk mencegah terjadinya aspirasi Makanan harus tinggi kalori dan harus tinggi protein Beri antibiotic 7-10 hari untuk mencegah komplikasi 2.1.12. Pencegahan. Cara terbaik mengahadapi poliomyelitis / pilio adalah dengan mencegahnya. Sebab, bila seorang anak sudah terserang polio dan lumpuh, fisio terapi dalam waktu lama harus dijalaninya. Langkah ini tidak mudah untuk dijalankan, karena itu beberapa hal ini perlu diperhatikan : a.Jangan masuk daerah epidermi. b.Dalam daerah epidermi jangan melakukan “ stress “ yang berat seperti tonsilekstomi, suntikan dan sebagainya. c.Mengurangi aktifitas jasmani yang berlebihan ( tidak boleh terlalu lelah ) d.Setelah anak lahir, segera berikan imunisasi lengkap, supaya kekebalan tubuhnya menjadi kuat. e.Ajarkan pada anak untuk selalu menjaga kebersihan pribadi dan lingkungannya. f.Penggunaan jamban keluarga, penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, serta memelihara kebersihan makanan adalah langkah yang tepat untuk hidup sehat. Dalam World Heald assembly 1988 yang diikuti sebagian besar negara didunia, dibuat kesepakatan untuk melakukan eradikasi polio ( Eropa ) tahun 2000. Artinya, dunia bebas polio pada tahun 2000 program Eropa pertama yang dilakukan adalah melakukan imunisasi tinggi dan menyeluruh. Kemudian diikuti pekan imunisasi nasional yang dilakukan Depkes 1995, 1996 dan 1997. Imunisasi polio yang harus dilakukan sesuai rekomendasi WHO adalah sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6 – 8 minggu. Kemudian, diulang usia 1, 5 tahun dan 15 tahun. Upaya ketiga adalah servilance acute flaccid paralisis atau penemuan penderita yang dicurigai lumpuh layu pada usia dibawah 15 tahun. Mereka harus diperiksa tinjanya untuk memastika apakah polio atau bukan. Tindakan lain adalah melakukan mopping-up, yaitu pemberian vaksinasi missal didaerah yang ditemukan penderita polio terhadap anak usia dibawah 5 tahun tanpa melihat status imunisasi sebelumnya. BAB III KONSEP ASUHAN 3.1 Pengkajian 1.Riwayat kesehatan Riwayat pengobatan penyakit-penyakit dan riwayat imunitas 2.Pemeriksaan fisik a.Nyeri kepala b.Paralisis c.Refleks tendon berkurang d.Kaku kuduk e.Brudzinky 3.2 Analisa Data 3.3 Diagnosa/Masalah 1.Perubahan nutrisi dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia, mual dan muntah 2.Hipertermi b/d proses infeksi 3.resiko ketidakefektifan pola nafas dan ketidakefektifan jalan nafas b/d paralysis otot 4.Nyeri b/d proses infeksi yang menyerang syaraf 5.Gangguan mobilitas fisik b/d paralysis 6.Kecemasan pada anak dan keluarga b/d kondisi penyakit. 3.4 Rencana Tindakan Dx 1 : 1.Kaji pola makan anak Mengetahui intake dan output anak 2.Berikan makanan secara adekuat Untuk mencakupi masukan sehingga output dan intake seimbang 3.Berikan nutrisi kalori, protein, vitamin dan mineral. 4.Timbang berat badan Mengetahui perkembangan anak 5.Berikan makanan kesukaan anak Menambah masukan dan merangsang anak untuk makan lebih banyak 6.Berikan makanan tapi sering Mempermudah proses pencernaan Dx 2 : 1.Pantau suhu tubuh Untuk mencegah kedinginan tubuh yang berlebih 2.Jangan pernah menggunakan usapan alcohol saat mandi/kompres Dapat menyebabkan efek neurotoksi 3.Hindari mengigil 4.Kompres mandi hangat durasi 20-30 menit Dapat membantu mengurangi demam Dx 3 : 1.Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman Pengenalan dini dan pengobatan ventilasi dapat mencegah komplikasi. 2.Auskultasi bunyi nafas Mengetahui adanya bunyi tambahan 3.Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler Merangsang fungsi pernafasan atau ekspansi paru 4.Berikan tambahan oksigen Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru Dx 4 : 1.Lakukan strategi non farmakologis untuk membantu anak mengatasi nyeri Theknik-theknik seperti relaksasi, pernafasan berirama, dan distraksi dapat membuat nyeri dan dapat lebih di toleransi 2.Libatkan orang tua dalam memilih strategi Karena orang tua adalah yang lebih mengetahui anak 3.Ajarkan anak untuk menggunakan strategi non farmakologis khusus sebelum nyeri. Pendekatan ini tampak paling efektif pada nyeri ringan 4.Minta orang tua membantu anak dengan menggunakan srtategi selama nyeri Latihan ini mungkin diperlukan untuk membantu anak berfokus pada tindakan yang diperlukan 5.Berikan analgesic sesuai indikasi. Dx 5 : 1.Tentukan aktivitas atau keadaan fisik anak Memberikan informasi untuk mengembangkan rencana perawatan bagi program rehabilitasi. 2.Catat dan terima keadaan kelemahan (kelelahan yang ada) Kelelahan yang dialami dapat mengindikasikan keadaan anak 3.Indetifikasi factor-faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk aktif seperti pemasukan makanan yang tidak adekuat. Memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah untuk mempertahankan atau meningkatkan mobilitas 4.Evaluasi kemampuan untuk melakukan mobilisasi secara aman Latihan berjalan dapat meningkatkan keamanan dan efektifan anak untuk berjalan. Dx 6 : 1.Kaji tingkat realita bahaya bagi anak dan keluarga tingkat ansietas (mis.rendah, sedang, parah). Respon keluarga bervariasi tergantung pada pola kultural yang dipelajari. 2.Nyatakan retalita dan situasi seperti apa yang dilihat keluarga tanpa menayakan apa yang dipercaya. Pasien mugkin perlu menolak realita sampai siap menghadapinya. 3.Sediakan informasi yang akurat sesuai kebutuhan jika diminta oleh keluarga. Informasi yang menimbulkan ansietas dapat diberikan dalam jumlah yang dapat dibatasi setelah periode yang diperpanjang. 4.Hidari harapan – harapan kosong mis ; pertanyaan seperti “ semua akan berjalan lancar”. Harapan – harapan palsu akan diintervesikan sebagai kurangnya pemahaman atau kejujuran. BAB IV PENUTUP 4.1 Simpulan Poliomilitis adalah penyakit menular yang akut disebabkan oleh virus dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf tersebut akan terjadi kelumpuhan serta autropi otot. .Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir kesistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralysis). Penyekit poliomyelitis jarang terdapat dibawah umur 6 bulan, mungkin karena imunitas pasif yang didapat dari ibunya, tetapi poliomyelitis yang terjadi pada bayi yang baru lahir pernah dilaporkan dalam kepustakaan. 4.2Saran Cara pencegahan Sterbaik mengahadapi poliomyelitis / pilio adalah a.Setelah anak lahir, segera berikan imunisasi lengkap, supaya kekebalan tubuhnya menjadi kuat. b.Ajarkan pada anak untuk selalu menjaga kebersihan pribadi dan lingkungannya. c.Penggunaan jamban keluarga, penyediaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan, serta memelihara kebersihan makanan adalah langkah yang tepat untuk hidup sehat. DAFTAR PUSTAKA Staff pengajar ilmu kesehatan anak.1985.Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta: Info Medika Speer,Kathleen Morgan.2007.Rencana Asuhan Keperawatan Pediatrik dengan Klinikal Pathways.Edisi III, Alih bahasa : Julianus ake, Renata Komalasari.Jakarta:Buku Kedokteran EGC (http://yusniraharjo.wordpress.com/2009/06/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-encephalitis/ (http://fuadbahsin.wordpress.com/2008/12/25/5-imunisasi-dasar/)

Leave a comment »

ASKEB V

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas Mata kuliah ASKEB V ( kebidanan komunitas ) yang berjudul “ ASUHAN ANTENATAL “
Semoga apa yang kami sampaikan dalam makalah ini dapat membantu dan bermanfaat bagi bangsa dan negara khususnya di bidang kesehatan .kami menyadari bahwa tidak sedikit hambatan yang timbul selama proses penulisan makalah, namun itu semua dapat teratasi berkat bantuan Allah SWT, serta bantuan dan dukungan dari berbagai pihak.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.Ibu, SUPARTINI, SKM. selaku dosen pembimbing yang telah memberikan banyak saran dan pendapat serta membimbing kami dengan penuh kesabaran hingga terselesaikannya makalah ini.
2.Teman – teman yang telah memberikan masukan selama ini kepada kami

Dalam menyusun laporan ini, penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan laporan iniagar menjadi lebih baik dikemudian hari.
Semoga laporan asuhan kebidanan pada ibu hamil bermanfaat bagi mahasiswa program studi D III kebidanan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya khususnya dan para pembaca pada umumnya.

Surabaya 28 Maret 2010

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Keselamatan dan kesejahteraan ibu secara menyeluruh merupakan perhatian yang utama bagi seorang bidan. Bidan bertanggung jawab memberikan pengawasan, nasehat serta asuhan bagi wanita selam masa hamil, bersalin dan nifas. Asuhan kebidanan yang diberikan termasuk pengawasan pelayanan kesehatan masyarakat di komunitas, baik di rumah, posyandu maupun polindes.
Sebagai seorang bidan yang nantinya akan ditempatkan didesa, dalam menjalankan tugas ia merupakan komponen dan bagian dari masyarakat desa dimana ia bertugas. Selain dituntut dapat memberikan asuhan bermutu tinggi dan komprehensif, seorang bidan harus dapat mengenal masyarakat sesuai budaya setempat dengan sebaik-baiknya, mengadakan pendekatan dan bekerjasama dalam memberikan pelayanan, sehingga masyarakat dapat menyadari masalah kesehatan yang dihadapi serta ikut secara aktif dalam menanggulangi masalah kesehatan baik untuk individu mereka sendiri maupun keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Antenatal Care adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan.
Tujuan antenatal yaitu untuk menjaga agar ibu sehat selama masa kehamilan, persalinan dan nifas serta mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat, memantau kemungkinan adanya risiko-risiko kehamilan, dan merencanakan penatalaksanaan yang optimal terhadap kehamilan risiko tinggi serta menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal.
Bidan telah diakui sebagai tenaga professional yang bertanggung-jawab dan akuntabel, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memimpin persalinan atas tanggung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan kegawat-daruratan.
Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.
1.2. Tujuan
1. Tujuan Umum Sesuai dengan latar belakang di atas maka penulisan makalah ini bertujuan untuk menambah ilmu pengetahuan kepada pembaca terutama tentang Asuhan Pada Antenatal Care
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui Pengertian Asuhan Pada Antenatal Care
b. Untuk mengetahui Tujuan Asuhan Pada Antenatal Care
c. Untuk mengetahui Cara Melakukan Asuhan Pada Antenatal Care.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ASUHAN ANTENATAL
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai standar pelanyanan antenatal yang ditetapkan dalam standar pelayanan kebidanan ( SPK )
Pelayanan antenatal yang berkualitas adalah yang sesuai dengan standar pelayanan antenatal seperti yang ditetapkan dalam buku standar pelayanan kedidanan ( SPK ). Pelayanan antenatal sesuai standar meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik ( umum dan kebidanan ), pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus (sesuai resiko yang ditemukan dalam pemeriksaan). Dalam penerapannya terdiri atas timbang berat badan dan ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, ukur tinggi fundus uteri, skrining status imunisasi tetanus dan berikan imunisasi tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toksoit (TT) bila diperlukann, pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan, tes laboratorium ( rutin dan khusus ), tatalaksana kasus, temu wicara (kinseling)
Standar minimal antenatal merupakan salah satu kebijakan program pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu. Pelayan atau asuhan standar minimal mencakup 7 T, yaitu sebagai berikut :
1.Timbang berat badan
2.Ukur Tekanan darah
3.Ukur Tinggi fundus uteri
4.Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) lengkap.
5.Pemberian Tablet tambah darah (zat besi), minimum 90 tablet selama kehamilan
6.Tes terhadap penyakit menular seksual
7.Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan

Timbang Berat Badan, Ukur Tekanan Darah, dan Tinggi Fundus Uteri
Kehamilan merupakan proses alamiah, akan tetapi dalam perjalanannya kehamilan dapat berkembang menjadi suatu permasalahan atau dapat menimbulkan komplikasi, sehingga diperlukan pemantauan selama kehamilan untuk melihat kesejahteraan janin adalah dengan mengukur berat badan, tekanan darah, dan tinggi fundus uteri ibu setiap kali kenjungan

Imunisasi TT
Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid, merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian bayi atau tetanus yang disebabkan oleh tetanus. Imunisasi Tetanus Toksoid yang pertama (TT1) dapat diberikan pada saat melakukan kunjungan antenatal yang pertama, kemudian empat minggu setelah TT1 dapat diberikan TT2. dengan pemberian imunisasi TT diharapkan bayi yang dilahirkan akan terlindung dari tetanus neonaturum dalam kurun waktu 3 tahun

Tablet Zat Besi
Tablet zat besi diberikan kepada ibu dengan tujuan untuk mencegah anemia dalam kehamilan. Setiap tablet zat besi mengandung FeSO, 320 mg(zat besi 60 mg) dan asam folat 500 mg. Pemberian tablet zat besi dimulai dengan dosis satu tablet sehari pada saat ibu merasa tidak mual. Selama kehamilan ibu diberikan minimal 90 tablet dan sebaliknya tidak diminum bersama teh atau kopi, karena akan menggangu penyerapan obat. Untuk menghindari efek samping (misalnya konstipasi) setelah mengkonsumsi tablet zat besi, ibu dianjurkan minum air putih minimal 1 gelas ukuran sedang (200cc)

Tes Terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS)
Penyakit menular seksual (PMS) merupakan sekelompok penyakit yang sebabkan oleh mikroorganisme yang dapat menimbulkan gangguan pada saluran kemih dan reproduksi. Ibu hamil merupakan kelompok resiko tinggi terhadap PMS. Melakukan pemeriksaan konfirmatif dengan tujuan untuk mengetahui etiologi yang pasti tentang ada atau tidaknya penyakit menular seksual yang diderita oleh ibu hamil,sangat penting dilakukan karena PMS dapat menimbulakan morbiditas dan mortalitas baik kepada ibu maupun bayi yang dikandung/dilahirkan.
Upaya diagnosis kehamilan dengan PMS di komunitas atau masyarakat adalah dengan melakukan diagnosis pendekatan gejala, memberikan terapi sesuai dengan gejala yang muncul, dan memberikan konseling untuk rujukan.

Temu Wicara Dalam Rangka Persiapan Rujukan
Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan untuk ibu hamil dengan masalah kesehatan atau komplikasi yang membutuhkan rujukan. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan konsultasi atau melakukan kerja sama penanganan. Tindakan yang harus dilakukan oleh bidan di komunitas dengan temu wicara adalah sebagai berikut :
a.Merujuk ke dokter untuk konsultasi, menolong ibu menentukan pilihan yang tepat untuk konsultasi (dokter puskesmas, dokter obstetri ginekologi, dan sebagainya)
b.Melampirkan kartu kesehatan ibu hamil beserta surat rujukan
c.Meminta ibu untuk kembali setelah konsultasi dan membawa surat hasil rujukan
d.Meneruskan pemantauan kondisi ibu dan bayi selama kehamilan
e.Memberikan layanan atau asuhan antenatal
f.Perencanaan dini jika tidak aman bagi ibu melahirkan dirumah
g.Menyepakati di antara pengambilan keputusan dalam keluarga tentang rencana kelahiran
h.Persiapan atau pengaturan transportasi dan biaya untuk tempat persalinan

2.2 STANDART ASUHAN KEBIDANAN
Standart asuhan kebidanan sangat penting didalam menentukan apakah seorang bidan telah melanggar kewajibannya dalam menjalankan tugas profesinya. Adapun standart asuhan kebidanan terdiri dari :
STANDAR I : Metode Asuhan
Merupakan asuhan kebidanan yang dilaksanakan dengan manajemen kebidanan dengan tujuh langka, yaitu : Pengumpulan data, analisa data, penentuan diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan dokumentasi
STANDAR II : Pengkajian
Pengumpulan data mengenai status kesehatan klien yang dilakukam secara sistematis dan berkesinambungan. Yang diperoleh dicatac dan dianalisis.
STANDAR III : Diagnosa kebidanan
Diagnosa kebidanan dirumuskan dengan padat, jelas dan sistematis mengarah pada asuhan kebidanan yang diperlukan oleh klien sesuai dengan wewenagng bidan berdasarkan analisa data yang telah dikumpulkan.
STANDAR IV : Rencana Asuhan
Rencana asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnosa kebidanan.
STANDAR V : Tindakan
Tindakan kebidanan dilaksanakan berdasarkan rencana dan perkembangan keadaan klien dan dilanjutkan dengan evaluasi keadaan klien

STANDAR VI : Partisipasi Klien
Tindakan kebidanan dilaksanakan bersama-sama atau partisipasi klien dan keluarga dalam rangka peningkatan pemeliharaan dan pemulihan kesehatan

STANDAR VII : Pengawasan

Monitoring atau pengawasan terhadap klien dilaksanakan secara terus menerus dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan klien

STANDAR VIII : Evaluasi

Evaluasi asuhan kebidanan dilaksanakan secara terus-menerus seiring dengan tindakan kebidanan yang dilaksanakan dan evalusi dari rencana yang telah dirumuskan

STANDAR XI : Dokumentasi

Asuhan kebidanan didokumentasikan sesuai dengan standar dokumentasi asuhan kebidanan yang didokumentasikan.

2.3 TUJUAN PERAWATAN ANTENATAL
Perawatan antenatal mempunyai tujuan agar kehamilan dan persalinan berakhir dengan :
Ibu dalam kondisi selamat selama kehamilan, persalinan dan nifas tanpa trauma fisik maupun mental yang merugikan.
Bayi dilahirkan sehat, baik fisik maupun mental.
Ibu sanggup merawat dan memberi ASI kepada bayinya.
Suami istri telah ada kesiapan dan kesanggupan untuk mengikuti keluarga berencana setelah kelahiran bayinya.
2.4 Standar Alat Antenatal
Standar peralatan dalam asuhan antenatal meliputi peralatan steril dan tidak steril, bahan – bahan habis pakai, formulir yang disediakan dan obat – obatan.
1. Peralatan Tidak Steril
a.Timbangan dewasa
b.Pengukur tinggi badan
c.Sphgmomanometer (tensi meter)
d.Stetoskop
e.Funandoskop
f.Tarmometer aksila
g.Pengukuran waktu
h.Senter
i.Refleks hammer
j.Pita pengukur lingkar lengan atas
k.Pengukur Hb.
l.Metline
m.Bengkok
n.Handuk kering
o.Tabung urin
p.Lampu sepirtus
q.Reagen untuk pemeriksaan urine
r.Tempat sampah

2. Peralatan Steril
a.Bak instrumen
b.Spatel lidah
c.Sarung tangan (handscoen)
d.Spuit atau jarum

3. Bahan – bahan Habis Pakai
a.Kassa bersih
b.Kapas
c.Alkohol 70 %
d.Larutan klorin

4. Formulir yang Disediakan
a.Buku KIA
b.Kartu Status
c.Formulir rujukan
d.Buku registrasi
e.Alat tulis kantor
f.Kartu penapisan dini
g.Kohort ibu/bayi

5. Obat – obatan
a.Golongan roboratina (vitamin B6 dan B kompleks
b.Tablet Zat besi
c.Vaksin TT
d.Kapsul yodium
e.Obat KB

2.5 Manajemen Asuhan Antenatal
Manajemen asuhan antenatal di komunitas merupakan langkah – langkah alamiah dan sistemis yang dilakukan bidan, dengan tujuan untuk mempersiapkan kehamilan dan persalinan yang sehat berdasarkan standar yang berlaku. Dalam manajemen asuhan antenatal di komunitas, bidan harus melakukan kerjasama dengan ibu, keluarga, dan masyarakat mengenai persiapan rencana kelahiran penolong persalinan, tempat bersalin, tabungan untuk bersalin, dam mempersiapkan rencana apabila terjadi komplikasi

Tidak menutup kemungkinan di dalam masyarakat, bidan akan memenuhi ibu hamil yang tidak melakukan pemeriksaan selama kehamilannya. Berbagai penyebab ibu tidak melakukan pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC) di antaranya adalah ibu sakit, tidak ada transportasi, tidak ada yang menjaga anak yang lain, kurangnya motivasi, dan takut atau tidak mau kepelayanan kesehatan. Upaya yang harus dilakukan bidan untuk mengatasi kendala – kendala tersebut dengan :
a.Melakukan kunjungan rumah
b.Berusaha memperoleh informasi mengenai alasan ibu tidak melakukan pemeriksaan
c.Apabila ada masalah, coba untuk membantu ibu dalam mencari pemecahannya
d.Menjelaskan pentingnya pemeriksaan kehamilan
Kunjugan Rumah
Kunjungan rumah yang minimal dilakukan selama antenatal care :
1. satu kali kunjungan selama trimester I, sebelum minggu ke – 14
2. satu kali kunjungan selama trimester II, di antara minggu ke – 14 sampai minggu ke – 28
3. dua kali kunjungan selama trimester III, antara minggu ke – 28 sampai dan setelah minggu ke – 36

Kunjungan ideal selama kehamilan :
1.pemeriksan pertama dilakukan sedini mungkin ketika ibu mengatakan terlambal haid 1 bulan
2.satu kali setiap bulan sampai usia kehamilan 7 bulan
3.dua kali setiap bulan sampai usia kehamilan 8 bulan
4.satu kali setiap minggu sampai usia kehamilan 9 bulan
pemeriksaan khusus apabila ada keluhan – keluhan.
2.6 Standar Pelayanan Antenatal di Komunitas
Standar pelayanan asuhan antenatal di komunitas tidak berbeda dengan pelayanan di klinik, standar tersebut meliputi:
a.Identifikasi ibu hamil
b.Pemeriksaan dan pemantauan antenatal
c.Palpasi abdomen
d.Pengelolaan anemia dan kehamilan
e.Pengelolaan dini pada kasus hipertensi dalam kehamilan
f.Persiapan persalinan
2.7 Pelaksanaan Antenatal Care di Rumah
Bidan dapat melakukan beberapa hal berikut dalam memberikan asuhan antenatal di rumah.
a.Bidan harus mempunyai data ibu hamil di Wilayah kerjanya
b.Bidan melakukan identifikasi apakah ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan dengan teratur
c.Bidan harus melakukan ANC di rumah, apabila ibu hamil tidak memeriksakan kehamilanya
d.Sebelum melakukan asuhan di rumah, lakukan kontrak tentang waktu, tanggal, hari, dan jam yang disepakati bersama ibu hamil agar tidak menggangu aktivitas ibu serta keluarga
e.Pada saat melakukan kunjungan rumah, lakukan pemeriksaan sesuai dengan standar, kemudian identifikasi lingkungan rumah apabila ibu mempunyai rencana melahirkan di rumah.
2.8 Pemilihan Tempat Persalinan
Pemilihan tempat persalinan di masyarakat dipengaruhi oleh riwayat kesehatan dan kebidanan yang lalu, keadaan kehamilan pada saat ini, pengalaman melahirkans sebelumnya, serta ketersediaan tempat tidur, kondisi rumah, sehingga dalam memilih tempat persalinan hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut.
a.Pengambilan keputusan untuk menentukan tempat persalinan dilakukan oleh ibu sendiri atas dasar konsultasidengan bidan atau dokter.
b.Selama proses persalinan ibu memerlukan rasa aman, nyaman, dan percaya terhadap orang yang menolong.
Tempat persalinan harus direncanakan dengan baik untuk menghindari adanya rujukan secara estafet. Bidan harus melakukan skrining antenatal pada semua ibu hamil atau penampisan dini pada ibu hamil yang berpotensi mempunyai masalah atau faktor resiko. Skrining antenatal dilakukan dengan menggunakan prinsip 4T, yaitu Temu Muka, Temu wicara, Temu Faktor Risiko, dan Temu Keluarga.
Semua Ibu Hamil
a.Kehamilan Risiko Rendah (KRR)
Kehamilan normal tampa masalah atau faktor resiko,kemungkinan besar persalinan normal, akan tetapi harus tetap waspada akan adanya komplikasi persalinan
b.Kehamilan Risiko Tinggi (KRT)
Kehamilan dengan faktor risiko, baik dari ibu ataupun janin yang dapat menyebabkan komplikasi persalinan, dampak terhadap kesakitan, kematian, kecacatan baik pada ibu ataupun bayi baru lahir. Diperlukan rujukan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan khusus dan adekuat.
c.Kehamilan Risiko Sangat Tinggi (KRST)
Kehamilan dengan risiko ganda atau lebih dari dua faktor risiko baik dari ibu ataupun janin yang dapat menyebabkan komplikasi persalinan atau risiko yang lebih besar yaitu kematian ibu dan bayi, dibutuhkan rujukan ke rumah sakit untuk penanganan khusus dan adekuat.
Selain contoh di atas, pengunaan penampisan dini dengan menggunakan Kartu Prakiran Persalinann Soedarto (KPPS),sebagai tolok ukurnya adalah dengan mengukur panjang telapak kaki kanan dengan tinggi fundus uteri.
Lankah-langkah dalam pelaksanaan manajemen asuhan antenatal di komunitas adalah sebagai berikut:
1.Ciptakan adanya rasa percaya dengan menyapa ibu dan keluarga seramah mungkin dan membuatnya merasa nyaman.
2.Menanyakan riwayat kehamilan ibu dengan cara menerapkan prinsip mendengarkan efektif.
3.Melakukan anamnesis secara lengkap, terutama riwayat kesehatan ibu dan kebidanan.
4.Melakukan pemeriksaan seperlunya.
5.Melakukan pemeriksaan laboratorium sederhana (misalnya:albumin, Hb)
6.Membantu ibu dan keluarga mempersiapkan kelahiran dan kemungkinan tindakan darurat
7.Memberi konseling sesuai kebutuhan
8.Merencanakan dan mempersiapkan kelahiran yang bersih dan aman di rumah
9.Memberikan nasihat kepada ibu untuk mencari pertolongan apabila ada tanda-tanda:
a.Pendarahan pervaginam
b.Sakit kepala lebih dari biasanya
c.Gangguan penglihatan
d.Pembengkakan pada wajah dan tangan
e.Nyeri abdomen
f.Janin tidak bergerak seperti biasanya
10.Memberikan tablet Fe 90 butir dimulai saat usia kehamilan 20 minggu
11.Memberikan imunisasi TT dengan dosis 0,5 cc
12.Menjatwalkan kunjungan berikutnya
13.Mendokumentasikan hasil kunjungan

2.9 Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Menurut Helen Varney
2.4.1Pengkajian
Data Subyektif
1.Biodata
Nama Istri Nama Suami
Nama penderita dan suami, ditanyakan untuk mengenal dan memanggil penderita sehingga tidak keliru dengan penderita lain.
(Cristina, 2003 : 4)
Umur Umur
Menurut para ahli umur yang baik untuk kehamilan yaitu dari umur 19-35 tahun karena otot rahim masih bersifat elastis dan mudah diregang.
(Cristina, 2003 : 84)
Suku Bangsa
Mengetahui kebiasaan/adat yang mempengaruhi kehamilan.
(Cristina, 2003 : 22)
Agama Agama
Untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan klien, mempermudah dalam melakukan pendekatan dalam melaksanakan asuhan kebidanan.
Pendidikan Pendidikan
Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya, tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan sekarang
(Depkes RI, 2005 : 14)
Pekerjaan Pekerjaan
Pekerjaan suami dan ibu sendiri untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonomi penderita agar nasihat yang diberikan sesuai, selain itu apakah pekerjaan itu menganggu kehamilan/tidak.
(Cristina, 2003 : 84)

Alamat Alamat
Untuk mengetahui ibu tinggal dimana, menjaga kemungkinan bila ada ibu yang namanya sama, untuk memastikan ibu mana yang hendak ditolong dan diperlukan untuk kunjungan rumah.
(Cristina, 2003 : 8)
Anamnese
Untuk menggali informasi pada klien
Keluhan utama
Keluhan yang dirasakan klien antara lain chloasma gravidarum, pusing, bengkak pada kaki dan tangan, nafsu makan bertambah.
Riwayat Haid
Menarche : normalnya 12 – 16 tahun
Lama haid : normalnya 5 – 7 hari
Siklus haid : normalnya 28-35 hari
Sifat darah : normalnya encer, warna merah
Banyak darah : normalnya 80 cc/hari
Dismenorhoe : normalnya tidak ada
Flour albus : normalnya tidak ada
Riwayat obstetri yang lalu
Hamil No
Perkawinan No
Kehamilan
Persalinan
Nifas penyulit
Anak
KB
Ket

TT
Penyulit
UK
Penolong
Jenis
Penyulit

BBL
L/P
Hidup umur
Mati umur
Lama netek

Keterangan
Kehamilan
Kehamilan ini yang keberapa? Dengan suami keberapa? Umur kehamilan berapa minggu? Berapa kali TT? Apa saja penyulitnya seperti perdarahan, hiperemesis gravidarum, arbortus, pusing, cloasma gravidarum, pusing, bengkak pada kaki dan tangan.
Persalinan
Pernah ditolong oleh siapa? Dokter, bidan, jenis persalinan spontan atau buatan, aterm/prematur, adakah penyulit seperti KPP, plasenta previa, solustio plasenta, retensio plasenta.
Nifas
Adakah panas, perdarahan, lochea berbau, infeksi, bagaimana laktasinya.
Anak
Anak lahir dengan apa? Jenis kelamin apa, berapa BB/PB, mati/hidup atau berapa lama netek?
Riwayat penyakit yang pernah diderita
Untuk mengkaji apakah klien mempunyai riwayat kesehatan yang mempengaruhi kehamilan misalnya jantung, DM dan lain-lain.
Riwayat kesehatan keluarga
Untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap klien, apakah ada keluarga yang menderita DM, jantung, TBC, asma, hepatitis, hipertensi dan apakah ada riwayat keturunan kembar.
Riwayat kehamilan sekarang
Keluhan-keluhan
Trimester I : keluhan yang dirasakan saat usia kehamilan 0-3 bulan seperti mual, muntah sering kencing, ngidam, obstipasi
Trimester II : Chloasma garvidarum, pusing, bengkak pada wajah dan tangan, nafsu makan bertambah, hipertensi (yang bisa menyebabkan pusing yang berlebihan)
Pergerakan anak pertama kali dirasakan pada usia kehamilan 18 minggu (primigravida) da 16 minggu pada (multi gravida) gerakan anak normalnya rata-rata 34 kali per jam (Sarwono, 1999)
Imunisasi TT yang didapat 2x sebelum menikah dan pada trimester I
Penyuluhan yang sudah didapat : nutrisi dan personal hygiene
Pola kehdiupan sehari-hari
1)Pola nutrisi dan cairan
Mengkonsumsi tambahan kalori 500 gram tiap hari (kebutuhan kalori
2)Pola eliminasi
BAB : kadang-kadang obstipasi, BAK : sering (pada trimester I)
pada trimester II akan kembali normal seperti biasa
3)Pola aktivitas
Aktivitas tetap dilakukan seperti biasa tetapi tidak berlebihan dan tidak terlalu melelahkan karena akan berpengaruh pada perkembangan janin.

4)Pola istirahat
Kebutuhan istirahat normal pada malam hari  8 jam dan istirahat siang  1 jam.
5)Kebutuhan personal hygiene
Pada kehamilan dianjurkan untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh, baju, alas tempat tidur, dilingkungan terutama di daerah genetalia untuk mencegah infeksi.
6)Pola sexual
Pada trimester I sebaiknya dukurangi karena sering menyebabkan abortus trimester II boleh dianjurkan selagi tidak mengganggu.

Riwayat psikososial spiritual
Status perkawinan : kawin berapa kali, umur berapa pertama kali kawin
Ditanyakan umur untuk mengetahui status perkawinan terhadap masalah kesehatan klien
Kawin umur < 20 tahun uterus belum matang
> 35 tahun uterus fungsi/berkurang kerja hormon
Kehamilan ini apakah diharapkan / tidak
Direncanakan/tidak
Ibu dan suami menerima /tidak
Pengambilan keputusan dalam keluarga : suami/istri/orang tua
Status emesi
Trimester I : merasa tidak sehat dan membenci kehamilannya, mencari tanda-tanda bahwa dirinya memang hamil, setiap perubahan yang terjadi pada dirinya akan diperhatikan dengan seksama, merasakan kekecewaan, penolakan, kecemasan dan kesedihan
Trimester II : ibu merasa sehat, sudah menerima kelahirannya dan dapat mulai menggunakan energi dan pikirannya secara lebih konstruktif, merasa terlepas dari kecemasan dan tidak nyaman.
Spiritual : ibu tetap/taat menjalankan ibadah/tidak

Data Obyektif
1.Pemeriksaan fisik
a.Tanda-tanda vital
T : Normalnya 90/60 – 130/90 mmHg
Kurang dari 90/60 – hipotensi
Lebih dari 130/90 – hipotensi
Nadi : normalnya : 74 – 88x/menit lebih dari 100x/menit dehidrasi
Suhu : normalnya : 36°C – 375°C
Pernafasan : Normalnya 16 – 24x/menit
b.Keadaan umum : baik
Ekspresi wajah sedih, gembira, kesakitan
c.Kesadaran : composmentis
d.Berat badan : selama kehamilan BB naik 6,5 – 16,5 kg rata-rata 12,5 kg
Pada trimester I kenaikan BB  1-2 kg, trimester II 0,4 – 0,5 kg tiap minggu
e.Tinggi badan : > 145 cm, kurang dari 145 kemungkinan adanya kesempitan panggul
f.Kepala : ada ketombe/tidak, warna rambut apa? Bersih/tidak ada benjolan/tidak
g.Muka : ada oedem/tidak, chloasma gravidarum/tidak, pucat/tidak
h.Mata : conjungtiva merah muda/pucat, sklera putih/kuning, simetris/tidak
i.Hidung : bersih/tidak, ada polip/tidak, sekret ada/tidak, simetris/tidak
j.Telinga : bersih/tidak simetris Ka/ki/tidak, ada serumen/tidak
k.Mulut & gigi : caries ada/tidak, stomatitis/tidak, ragaden/tidak, lidah bersih/kotor, gigi asli/palsu
l.Leher : ada/tidak pembesaran kelenjar thyroid, jika ada merupakan indikasi kekurangan iodium, ada/tidak bendungan vena jugularis, jika ada indikasi penyakit jantung
m.Ketiak : ada/tidak pembesaran kelenjar limfe, indikasi infeksi, ada/tidak asesoriasis mamae, bersih/tidak
n.Payudara : bentuk simetris/tidak, membesar, tampak tegang/tidak, hiperpigmentasi/tidak pada areola mamae, putting susu menonjol/tidak, ada bekas luka operasi/tidak
o.Abdomen
Inspeksi : perut membesar, puser mendatar/tidak, ada tidak linea albican, strie livide, ada/tidak bekas operasi (luka parut) ada linea nigra/tidak
Palpasi : cara leopold
Leopold I : Untuk menentukan TFU
Untuk menentukan bagian apa yang terdapat pada fundus uteri pada kehamilan fisiologis teraba bulat, lunak, tidak melenting (bokong)
Leopold II : Untuk menentukan letak punggung (puntum maksimum)
Leopold III : Menentukan bagian terendah janin pada kehamilan fisiologis teraba bulat keras melenting (kepala)
Auskultasi : untuk mendengarkan DJJ normalnya 120-160x/menit
Tempat : terdengar jelas pada punggung maksimum sebelah kiri
p.Lipatan paha : apakah ada hernia inguinalis
q.Perineum : bersih/tidak, ada jahitan/tidak
r.Genetalia : bersih/tidak, oedem/tidak, ada varices/tidak, ada tanda chadwik/tidak, tanda hegar, ada tidak condiloma talata/akuminata
s.Anus : bersih/tidak, ada haemoroid/tidak
t.Ekstrimitas : ada varices/tidak ada oedem/tidak, simetris/tidak

2.Pemeriksaan panggul
Distansia spinarum :  23 – 26 cm
Distansia cristarum :  26 – 29 cm
Conjugata ekterna :  18 – 20 cm
Distansia tuberum :  10,5 – 11,5 cm
Ditansia spina aterior superior : 8-10 cm
3.Refleks patela
Dengan menggunakan patela hamer normal +/+ bila -/- kemungkinan kekurangan vitamin B1
4.Pemeriksaan laboratirium
Haemoglobin : normalnya : 11 gr% – 16gr%
Golongan darah : A, AB, B, O
Almbumin uirine : normalnya : negatif
Reduksi urine : normalnya : negatif
2.1.1Analisa Data, Diagnosa dan Masalah
G……P……Uk 20 minggu, intra uterin, keadaan jalan lahir normal, keadaan ibu dan janin baik
Masalah : chloasma gravidarum, pusing, kaki bengkak, pusing, nafsu makan bertambah
Ds : – Ibu mengatakan hamil 8 bulan
- Ibu mengatakan hamil anak 1
-

Do : Ku ibu dan janin baik
TTV : T : 120/90 mmHg
S : 366°C
N : 180x/menit
Rr : 16x/menit
TFU : 3 jari bawah pusat, DJJ dengan dopler dan USG
2.1.2Antisipasi Masalah/diagnosa potensial
Mengidentifikasi diagnosa potensial yang mungkin akan terjadi berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi.
2.1.3Identifikasi Kebutuhan Tindakan Segera
Mengidentifikasi tindakan segera oleh bidan atau dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi pasien.
2.1.4Planning/Intervensi
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh yang telah ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Pada langkah ini dibuat rencana asuhan sesuai dengan masalah/diagnosa yang telah diidentifikasikan.
Planning yang biasa diberikan pada ibu hamil usia kehamilan 20 minggu dengan kehamilan fisiologis adalah sebagai berikut :
1.Jelaskan pada ibu hasil pemeriksaan
R/ ibu mengerti keadaannya
2.Anjurkan ibu untuk mengurangi konsumsi garam
R/ garam bersifat mengikat cairan yang mengakibatkan penumpukan cairan
3.Beritahu ibu posisi waktu tidur kaki lebih ditinggikan
R/ mengurangi bengkak pada kaki sehingga sirkulasi/peredaran darah berjalan lancar

4.Anjurkan ibu konsumsi sayuran hijau dan kacang hijau
R/ mengandung vitamin B1 yang membantu mengurangi oedem/ bengkak pada kaki
5.Anjurkan ibu istirahat yang cukup
R/ pemenuhan kebutuhan istirahat
6.Jelaskan pada ibu tanda bahaya kehamilan trimester II
R/ membantu klien membedakan yang normal dan abnormal sehingga cepat mencari bantuan pada tenaga kesehatan
7.Berikan tablet Fe 90 hari
R/ untuk tambah darah
8.Anjurkan ibu kontra ulang 1 bulan lagi dan sewaktu-waktu ada keluhan
R/ Pemeriksaan yang teratur membantu kesejahteraan janin
2.1.5Implementasi
Melaksanakan rencana asuhan yang telah dibuat sesuai dengan diagnosa masalah yang muncul.
2.1.6Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan kebidanan yang telah diberikan. Evaluasi dengan SOAP
S : Ibu mengatakan mengerti dan memahami penjelasan petugas
O : Ibu dapat mengulang kembali apa yang telah dijelaskan oleh petugas
A : G……P……Uk 20 minggu, intra uterin, keadaan jalan lahir normal, keadaan ibu dan janin baik
P : – Anjurkan minum obat secara teratur
- Kontrol ulang 1 bulan lagi

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN
Pada Ny. “N” GI P00000 UK 22/23 Minggu Kehamilan Fisiologis
di Polindes Desa Suko Mulyo

3.1Pengkajian
Tanggal : 04 Januari 2010 Jam : 09.00 WIB
Data Subyektif
Identitas
Nama istri : Ny. “N” Nama Suami : Tn. “J”
Umur : 26 tahun Umur : 29 tahun
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : D3
Pekerjaan : Swasta Pekerjaan : Swasta
Alamat : suko mulyo Alamat : suko mulyo
Telp : – Telp : -
Kunjungan ke : 4
Alasan Kunjungan : ibu mengatakan ingin memeriksaka kehamilannya
Keluhan utama : tidak ada

A.Riwayat Haid
Menarche : 12 tahun
Siklus : teratur, 28 hari
Lama haid : 6-7 hari
Sifat darah : merah, encer, sedikit bergumpal
Banyak darah : 3 kali ganti pembalut ( 150 cc)
Dismenorhoe : ya
Kapan : sehari sebelum haid
Flour albus : ya, sebelum haid, warna putih kental,tidak gatal, tidak bau
B.Riwayat Obstetri Yang Lalu
Hamil No
Perkawinan No
Kehamilan
Persalinan
Nifas penyulit
Anak
KB
Ket

TT
Penyulit
UK
Penolong
Jenis
Penyulit

BBL
L/P
Hidup umur
Mati umur
Lama netek

H

A

M

I

L

I

N

I

C.Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular (Hepatitis, TBC, HIV/AIDS), penyakit menurun dan menahun ( Diabetes, Hipertensi, Jantung, dan Asma)
D.Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga ibu ataupun suami tidak ada yang menderita penyakit menular (Hepatitis, TBC, HIV/AIDS), penyakit menurun dan penyakit menahun (Diabetes, Hipetensi, Jantung, dan Asma), dan tidak mempunyai keturunan kembar
E.Riwayat Kehamilan Sekarang
HPHT : 31 Juli 2009 Tafsiran Persalinan : 7 mei 2010
Keluhan-keluhan pada :
Trimester I : mual, muntah, sering kencing
Trimester II : tidak ada keluhan
Trimester III : -
Pergerakan janin pertama kali dirasakan UK 4 bulan (sebulan yang lalu), pergerakan anak 24 jam terakhir sering kali
Imunisasi TT sudah didapat 2x, 1x sebelum nikah dan 1x pada trimester II (usia kehamilan 4 bulan)
Penyuluhan yang sudah didapat : nutrisi seimbang, kebersihan diri dan lingkungan, pola seksual,
F.Pola Kehidupan Sehari-Hari
1)Pola nutrisi dan cairan
Sebelum hamil : makan 3x hari (nasi, sayur, ikan, tempe, tahu, buah jaang) minum 8 gelas/hari
Selama hamil : makan 3x har posri (nasi, sayur, lauk) minum 7-8 gelas/hari
2)Pola eliminasi
Sebelum hamil : BAB : lancar 1x/hari
BAK : 4-5x/hari
Selama hamil : BAB 1x/hari lancar
BAK : 5-6 x/hari
3)Pola aktivitas
Sebelum hamil : mengerjakan pekerjaannya RT (menyapu, memasak, mencuci)
Selama hamil : Mengerjakan pekerjaan RT ringan (Menyapu, Memasak)

4)Pola istirahat
Sebelum hamil : tidur siang  1-2 jam, tidur malam 6-8 jam per hari
Selama hamil : tidur siang 1-2 jam, tidur malam 6-8 jam per hari
5)Pola personal hygiene
Sebelum hamil : mandi 2x/hari, gosok gigi 3x/hari ganti baju setiap 2x/hari, keramas 3x/seminggu
Selama hamil : mandi 2x/hari, gosok gigi 3x/hari ganti baju setiap kali berkeringat dan keramas 3x/seminggu
6)Pola sexual
Sebelum hamil : melakukan hubungan sexual dengan suaminya 3x/seminggu
Selama hamil : melakukan hubungan sexual 1x/seminggu
G.Riwayat psikologi, spritual
1)Status perkawinan : menikah 1x : menikah umur 25 tahun
Lamanya 1 tahun
2)Kehamilan ini : direncanakan dan diterima
Keluarga sangat mendukung kehamilan ini
3)Pengambilan keputusan dalam keluarga : suami
4)Status emosi : Trimester I : cemas dan gelisah
Trimester II : menerima dan gembira atas kehamilannya
5)Spritual : ibu mengatakan selalu menjalankan sholat 5 waktu

1.Daya Obyektif
Pemeriksaan fisik
1.Tanda-tanda vital
T : 120/80 mmHg N : 84x/menit
S : 365°C Rr : 20x/menit
2.Keadaan umum baik, kesadaran composmentis
3.Berat badan : 52 kg TB : 152 cm Lila : 24 cm
4.Keadaan emosional : stabil

5.Kepala : rambut hitam, kulit kepala bersih, rambut tidak rontok, tidak berketombe, tidak ada benjolan
6.Muka : tidak pucat, cloasma gravidarum tidak ada, tidak oedema
7.Mata : simetris kiri kanan, conjungtiva merah muda, sklera putih
8.Telinga : bersih, tidak ada pengeluaran serumen, simetris
9.Hidung : simetris, bersih, tidak sekret, tidak ada polip
10.Mulut & gigi : bersih, bibir tidak kering, tidak ada stomatitis, tdk ada rhagaden, tidak ada caries gigi, tidak ada gigi palsu
11.Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, pembendungan kelenjar vena jugularis tidak ada
12.Ketiak : bersih, tidak ada asesoriasis mamae, tidak ada pembesaran kelenjar limfe
13.Payudara : simetris, bersih, putting susu menonjol, hyperpigmentasi areola mamae, payudara membesar, tidak ada massa abbnormal
14.Abdomen : 1. Inspeksi : perut membesar, tidak ada linea nigra, ada striae livide, tidak ada luka bekas operasi
2. Palapasi : Leopld I : TFU satu jai dibawah pusat (21 cm), teraba bulat, keras, melenting (kepala)
Leopold II : bagian kiri teraba keras, memanjang seperti papan (punggung)
Leopod III : bagian terendah janin teraba besar, lunak (bokong)
Leopod IV : konvergen
3. Auskultasi : DJJ 12-11-12 = 140x per menit (puki)
15.Perineum : bersih, tidak ada jaringan parut
16.Genetalia : bersih, tidak ada varices, tidak odem, tidak terdapat condiloma lata, tdak ada condiloma akuminata
17.Anus : bersih, tidak ada haemoroid
18.Ekstrimitas : atas : simetris, jumlah jari lengkap kedua tangan tidak oedem
bawah : simetris, jumlah jari lengkap tdk ada sindaktili, poli daktili tidak ada, tidak ada varises, tidak ada odem
A.Pemeriksaan Panggul Luar
Distansia spinarum : 24 cm
Distansia cristarum : 28 cm
Congjugata ekterna : 20 cm
Lingkar panggul : 84 cm
B.Refleks patela : +/+
C.Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan
3.2Analisa Data, Diagnosa dan Masalah
GI P00000 Usia kehamilan 22 minggu T/H/I letak bokong , punggung kiri, KU ibu dan janin baik dengan kehamilan letak sungsang
Masalah : Tidak ada
3.3Antisipasi Masalah / Diagnosa Potensial
Tidak ada
3.4Identifikasi Kebutuhan Tindakan Segera
Tidak ada

3.5Planning / Intervensi
Tanggal : 4 Januari 2010 Jam : 09.30 WIB
Tujuan :
Kriteria waktu : Setelah dilakukan pemeriksaan selama 30 menit diharapkan kondisi ibu dan janin baik.
Kriteria hasi :
Ds : Ibu mengatakan :
Hamil pertama
usia kehamilan 5 bulan
pada usia kehamilan 1 bulan mengalami mual muntah

Do : KU ibu dan janin baik
T : 120/80 mmHg
S : 365°C
N : 84x/menit
Rr : 20x/menit
Palpasi : TFU satu jari di bawah pusat (21 cm),teraba bulat melenting(kepala),letak sungsang .

1.Jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa kondisi ibu dan janin baik-baik saja
R/ Dapat menambah pengetahuan ibu tentang kondisi kehamilan ibu saat ini
2.Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makan makanan yang berserat ( pepaya, sayuran hijau)
R/ Makanan yang mengandung serat dapat memperlancar proses pencernaan
3.Anjurkan ibu untuk jalan-jalan pagi
R/ Jalan-jalan pagi dapat memperlancar peredaran darah
4.Anjurkan ibu untuk melakukan sikap lutut dada (knee chest)
R/ Lutut dada (knee chest) dapat membawa perubahan letak janin
5.Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
R/ Pemenuhan kebutuhan istirahat
6.Jelaskan pada ibu tanda bahaya kehamilan trimester II
R/ Membantu klien membedakan yang normal dan abnormal sehingga cepat mencari bantuan pada petugas kesehatan
7.Berikan tablet Fe 90 hari
R/ Penambahan darah
8.Anjurkan ibu kontrol ulang
R/ Pemeriksaan yang teratur membantu kesejahteraan janin

3.6Implementasi
Tanggal : 04 Januari 2010 Jam :10.15 WIB
1.Jam 10.15
Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa kondisi ibu dan janin baik-baik saja
2.Jam 10.17
Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makan makanan yang berserat ( pepaya, sayuran hijau).
3.Jam 10.20
Menganjurkan ibu untuk jalan-jalan pagi, sehingga dapat memperlancar peredaran darah.
4. Jam 10.23
Menganjurkan ibu untuk melakukan sikap lutut dada (knee cest) karena gaya gravitasi mempengaruhi letak janin
5. Jam 10.25
Menganjurkan ibu istirahat yang cukup, tidur siang  1-2 jam, malam  7-8 jam
6. Jam 10.26
Menjelaskan pada ibu tanda bahaya kehamilan trismester II, , misal bengkak pada wajah, tangan kaki, pusing, pandangan mata berkabur dan perdarahan, agar ibu segera mencari pertolongan ke petugas kesehatan.
7. Jam 10.27
Memberikan tablet Fe untuk 90 hari dan diminum tiap hari dan menganjurkan kontrol ulang 1 bulan lagi atau sewaktu-waktu jika ada keluhan.

8. Jam 10.30
Menganjurkan ibu untuk kontrol ulang untuk memantau kondisi ibu dan kehamilannya

3.7Evaluasi
Tanggal : 04 Januari 2009 Jam : 18.35 WIB
S : Ibu mengatakan mengerti dan memahami penjelasan petugas
O : Ibu dapat mengulang kembali apa yang telah dijelaskan oleh petugas
A : GI P00000 usia kehamilam 22/23 minggu, Tunggal, Hidup, Intra Uterin, keadaan ibu dan janin baik dengan kehamilan letat sunsang
P : – Menganjurkan ibu untuk minum tablet Fe secara rutin
- Kontrol ulang 1 bulan lagi atau sewaktu-waktu bila ada keluhan

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Untuk membantu seorang ibu melalui kehamilan dan persalinan yang sehat, bidan harus :
1. Menbantu ibu dan keluarganya untuk mempersiapkan kelahiran dan kedaruratan yang mungkin terjadi.
2. Mendeteksi dan mengobati komplikasi-komplikasi yang timbul selama kehamilan, baik yang bersifat medis, bedah atau obstetri
3. Memelihara peningkatan fisik, mental dan sosial ibu serta bayi dengan memberikan pendidikan, suplemen immunisasi
4. Membantu mempersiapkan ibu untuk menyusuai, melalui masa nifas yang normal, serta menjaga kesehatan anak secara fisik, psikologi dan sosial.

4.2 SARAN
Dengan penulisan makalah ini, penulis berharap agar dapat menambah ilmu pengetahuan kepada pembaca. Oleh karena itu, harapan penulis kepada pembaca semua agar sudi kiranya memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun.

DAFTAR PUSTAKA

Kontjoro, T.,2005. Pengembangan Manajemen Kinerja Perawat dan Bidan Sebagai Strategi Dalam Peningkatan Mutu Klinis, Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol.08/No3. Mochtar, Rustam. Sinopsis Obstetri, Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi/Rustam Mochtar; Editor, Defli Lutan, Ed 2 – Jakarta : EGC, 1998.
(http://kti-kompre.blogspot.com/2009/10/antenatal-01.html

Leave a comment »

PKM Q

I.PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Tingginya angka jumlah penderita AIDS di Indonesia membuat pemerintah kewalahan. Bukan hanya orang dewasa saja yang menderita AIDS, namun remaja-remaja usia 14-19 tahun merupakan usia rawan tertularnya virus HIV karena saat ini remaja-remaja Indonesia sudah melalukan hubungan seksual/ berganti-ganti pasangan serta mengkonsumsi narkoba menggunakan jarum suntik.
Penderita AIDS seringkali diasingkan dalam kehidupan sosialnya. Hal ini membuat ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) merasa terkucilkan dan tidak bisa meningkatkan kreativitas yang ada dalam dirinya. Virus HIV menyebar dengan cepat dalam tubuh manusia yang menjadi hospesnya. Obat-obatan yang ditawarkan saat ini adalah ARV (Anti Retro Virus) yang harganya lumayan relatif mahal. Sehingga penderita AIDS kesulitan untuk mendapatkannya. Untuk dapat menularkan AIDS pada hospesnya, virus HIV harus mengubah materi genetiknya yaitu RNA menjadi suatu senyawa yang aktif yaitu DNA, kemudian membentuk protein, dan protein inilah yang nantinya akan menghasilkan virus HIV yang lebih banyak dalam tubuh hospesnya.
Sifat dari ARV untuk HIV adalah untuk menekan perubahan RNA menjadi DNA sehingga tidak dapat menghasilkan protein-protein. Untuk bekerja secara maksimal, ARV harus diminum secara rutin karena jika tidak patuh pada aturan ini, maka replikasi RNA tetap akan terjadi. Harga ARV relatif mahal karena sifatnya yang memang rumit itu. Beberapa harga yang ditawarkan oleh pasaran adalah ± Rp. 650.000 sampai jutaan. Penderita AIDS terutama dari kalangan menengah ke bawah kesulitan untuk mendapatkan ARV ini.
Issue yang berkembang di masyarakat adalah nyamuk dapat menularkan virus HIV karena prinsipnya sama dengan alat suntik. Namun kenyataannya, nyamuk tidak dapat menularkan HIV karena nyamuk tidak sama dengan jarum suntik. Nyamuk tidak pernah menggigit manusia karena nyamuk tidak mempunyai gigi. Tetapi nyamuk mencucukkan alat penghisapnya (probosis) ke dalam pembuluh darah kapiler manusia/ hewan mangsanya dengan teknik khasnya, sehingga tidak terasa saat menembus kapiler.
Ketika seekor nyamuk menularkan suatu penyakit dari satu orang ke orang yang lain, maka parasit tadi harus tetap hidup dalam tubuh nyamuk sampai nyamuk tadi selesai mengisap darah orang tersebut. Jika nyamuk mencerna parasit tersebut, maka siklus penularan ini akan terputus dan parasit tidak dapat ditularkan ke korban selanjutnya. Memang ada sejumlah cara yang dilakukan oleh parasit untuk menghindar agar tidak dicerna sebagai makanan. Ada sejumlah parasit yang memang memiliki ketahanan dari enzim pencerna yang ada dalam perut nyamuk, namun kebanyakan parasit-parasit ini menerobos jaringan dalam perut nyamuk agar terhindar dari enzim pencernaan nyamuk yang akan melumatnya sampai habis . Parasit malaria dapat bertahan selama 9-12 hari dalam tubuh nyamuk, yang mana dalam waktu itu parasit ini dapat berkembang menjadi bentuk yang lain. Penelitian terhadap virus HIV secara jelas menunjukkan bahwa virus yang bertanggung jawab terhadap infeksi HIV tersebut dianggap sebagai makanan dan dicerna bersama makanan yang berupa darah. Dalam 1-2 hari virus bersama makanan tadi telah habis dicerna oleh nyamuk, sehingga kemungkinan untuk terjadinya infeksi baru dapat dicegah. Karena virus tidak sempat bereproduksi dan tidak sempat pindah ke kalenjar saliva, maka penularan HIV melalui nyamuk merupakan hal yang tidak mungkin.
Karena itulah penulis berharap dapat ditemukan alternatif pengganti ARV dari enzim pencernaan nyamuk sebagai vaksin HIV/ AIDS yang harganya murah sehingga semua kalangan masyarakat (ODHA) dapat memperolehnya dengan mudah dan tidak perlu mengeluarkan biaya yang tinggi.

B.Tujuan dan Manfaat
Berdasarakan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, penulis menyajikan tujuan dan manfaat seperti di bawah ini, seperti:

1.Tujuan
a)Untuk mencegah tertularnya HIV/AIDS.
b)Mengurangi angka kematian akibat HIV/AIDS.
c)Untuk mengurangi isu yang berkembang di masyarakat bahwa gigitan nyamuk dapat menularkan HIV/AIDS.
2.Manfaat
a)Sebagai sumbangan ilmiah dalam bidang kesehatan.
b)Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa gigitan nyamuk tidak menularkan virus HIV/AIDS.

II.GAGASAN
A. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan
AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit AIDS, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.

Isu yang berkembang di masyarakat bahwa gigitan nyamuk yang sebelumnya menggigit ODHA dapat menularkan HIV/ AIDS kepada orang lain yang sehat. Karena pada prinsipnya, cara kerja nyamuk sama dengan jarum suntik. Tapi kenyataanya HIV tidak menyebar melalui gigitan nyamuk atau gigitan serangga lainnya. Bahkan bila virus masuk ke dalam tubuh nyamuk atau serangga yang menggigit atau mengisap darah, virus tersebut tidak dapat mereproduksi dirinya dalam tubuh serangga. Karena serangga tidak dapat terinfeksi HIV, serangga tidak dapat menularkannya ke tubuh manusia yang digigitnya.

Wayne J. Crans, seorang entomologi dari Inggris mengatakan bahwa ada 3 mekanisme mengapa serangga pengisap darah seperti nyamuk tidak dapat menularkan HIV, yaitu
1)Pada mekanisme pertama, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV dan menelan virus tersebut bersama darah si penderita. Setelah kenyang, nyamuk ini kemudian pulang ke sarangnya, tanpa pindah ke korban selanjutnya. Virus yang terhisap ini masuk ke dalam tubuh, dan bertahan dalam tubuh nyamuk tersebut, virus kemudian berkembang biak dan setelah itu pindah ke dalam kalenjar air liur (salivary gland). Nyamuk yang terinfeksi HIV ini kemudian mencari korban selanjutnya untuk dihisap darahnya. Korban selanjutnya ini bisa saja seseorang yang bersih dari HIV, namun saat nyamuk menghisap darah orang ini virus HIV yang ada dalam kalenjar air liur nyamuk tersebut ikut masuk ke dalam tubuh orang tadi. Mekanisme yang pertama ini digunakan oleh sebagian besar parasit dalam nyamuk, seperti malaria, demam berdarah dan sejenisnya.
2)Pada mekanisme kedua, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV, namun belum kenyang mengisap ia sudah terbang karena terganggu. Daripada kembali ke korban yang pertama tadi, nyamuk memilih korban lain yang mungkin bebas dari AIDS. Setelah nyamuk tadi menusukkan mulutnya ke dalam kulit korbannya ini, nyamuk ini akan menularkan virus yang masih ada dalam mulutnya ke korbannya ini. Mekanisme ini termasuk mekanisme yang tidak lazim dalam infeksi parasit melalui nyamuk.
3)Mekanisme ketiga mirip dengan mekanisme kedua, dimana saat nyamuk mengisap darah korbannya yang mengidap HIV tiba-tiba ia diganggu dan kemudian terbang untuk mencari korban kedua. Namun dalam teori yang ketiga ini, tiba-tiba nyamuk tadi dipukul oleh si korban, dan kemudian darah nyamuk yang telah terkontaminasi HIV ini masuk ke dalam luka si korban tadi. Masing-masing dari mekanisme ini telah diselidiki dan diteliti dengan menggunakan berbagai macam serangga pengisap darah, dan hasilnya secara jelas menunjukkan bahwa nyamuk tidak dapat menularkan AIDS.

Selain itu, Wayne juga mengungkapkan beberapa alasan mengapa nyamuk tidak dapat menularkan HIV, yaitu:
1)Nyamuk mencerna virus yang menyebabkan AIDS. Ketika seekor nyamuk menularkan suatu penyakit dari satu orang ke orang yang lain, maka parasit tadi harus tetap hidup dalam tubuh nyamuk sampai nyamuk tadi selesai mengisap darah orang tersebut. Jika nyamuk mencerna parasit tersebut, maka siklus penularan ini akan terputus dan parasit tidak dapat ditularkan ke korban selanjutnya. Memang ada sejumlah cara yang dilakukan oleh parasit untuk menghindar agar tidak dicerna sebagai makanan. Ada sejumlah parasit yang memang memiliki ketahanan dari enzim pencerna yang ada dalam perut nyamuk, namun kebanyakan parasit-parasit ini menerobos jaringan dalam perut nyamuk agar terhindar dari enzim pencernaan nyamuk yang akan melumatnya sampai habis . Parasit malaria dapat bertahan selama 9-12 hari dalam tubuh nyamuk, yang mana dalam waktu itu parasit ini dapat berkembang menjadi bentuk yang lain. Penelitian terhadap virus HIV secara jelas menunjukkan bahwa virus yang bertanggung jawab terhadap infeksi HIV tersebut dianggap sebagai makanan dan dicerna bersama makanan yang berupa darah. Dalam 1-2 hari virus bersama makanan tadi telah habis dicerna oleh nyamuk, sehingga kemungkinan untuk terjadinya infeksi baru dapat dicegah. Karena virus tidak sempat bereproduksi dan tidak sempat pindah ke kalenjar saliva, maka penularan HIV melalui nyamuk merupakan hal yang tidak mungkin.
2)Nyamuk tidak terlalu banyak menghisap parasit HIV untuk menularkan AIDS melalui kontaminasi. Parasit-parasit penyebar penyakit yang memiliki kemampuan untuk menularkan parasitnya dari satu individu ke individu lainnya melalui mulut harus memiliki tingkat sirkulasi yang sangat tinggi dalam aliran darah inangnya. Penularan melalui kontaminasi mulut memerlukan parasit yang jumlahnya cukup untuk dapat menyebabkan terjadinya infeksi baru. Jumlah parasit yang dibutuhkan bervariasi dari satu penyakit ke penyakit lainnya. Parasit HIV sendiri memiliki tingkat sirkulasi yang sangat rendah dalam aliran darah, nilainya jauh dibawah parasit-parasit nyamuk lainnya. Dalam tubuh penderita AIDS sendiri virus HIV ini jarang-jarang yang tingkat sirkulasinya lebih dari 10 ekor per sirkulasi, dan biasanya 70-80% penderita HIV tidak terdeteksi adanya virus HIV dalam aliran darahnya. Para peneliti melakukan perhitungan sebagai berikut : Misal ada seseorang dengan tingkat sirkulasi virus HIV yang mencapai 1000 dalam aliran darahnya, kemudian ada nyamuk yang mengisap darahnya, maka kemungkinan masuknya satu virus HIV ke dalam seseorang bebas AIDS melalui nyamuk adalah 1 : 10 juta. Dengan kata lain seseorang baru terinfeksi satu virus HIV bila telah digigit oleh 10 juta nyamuk. Dengan menggunakan perhitungan yang sama, maka jika seandainya ada seekor nyamuk yang sedang mengisap tubuh seseorang, kemudian nyamuk tersebut dipukul sehingga darah dalam tubuh nyamuk tadi tersebar, dan ada yang masuk ke dalam luka. Maka kemungkinan masuknya satu virus HIV ke dalam tubuh manusia tadi adalah sangat tidak mungkin. Mungkin dibutuhkan 10 juta nyamuk.
3)Nyamuk bukanlah jarum suntik terbang. Banyak orang beranggapan bahwa nyamuk yang kecil itu sebagai jarum suntik yang terbang. Jika sebuah jarum suntik dapat menularkan HIV dari satu orang ke orang lainnya maka kemungkinan nyamuk pun juga dapat melakukkan hal yang sama. Pada penjelasan di atas telah dibahas bahwa dibutuhkan paling tidak 10 juta nyamuk agar 1 ekor virus HIV dapat masuk dalam tubuh kita. Walaupun ada penderita AIDS yang memiliki tingkat sirkulasi HIV yang sangat tinggi dalam darahnya, maka penyebaran AIDS melalui jarum yang dimiliki nyamuk tetap tidak mungkin. Mengapa ? Karena cara kerja jarum suntik yang dimiliki nyamuk berbeda dengan jarum suntik yang dipakai oleh orang. Jarum suntik biasa hanya memiliki satu jalur, sedangkan pada nyamuk memiliki dua jalur. Banyak orang yang mengetahui bahwa nyamuk mengeluarkan air liur sebelum mereka menghisap darah dari korbannya, namun perlu diketahui bahwa saluran makanan dan saluran air liur tidak menjadi satu alias terpisah. Satu saluran dipakai untuk menghisap darah dan satu saluran dipakai untuk mengeluarkan air liur dan saluran ini tidak pernah tercampur. Semua saluran hanya bersifat satu arah. Dengan demikian nyamuk bukanlah jarum suntik terbang, dan air liur yang dikeluarkan oleh nyamuk ke dalam tubuhmu tidak dikeluarkan dari darah yang telah dihisap sebelumnya.

B.Solusi Yang Pernah Ditawarkan
Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV. Karena untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.

Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.

Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total.

Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.

Menurut Flexner (1998), pada saat ini telah dikenal empat inhibitor protease yang digunakan pada terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV, yaitu indinavir, nelfinavir, ritonavir dan saquinavir. Satu inhibitor lainnya masih dalam proses penelitian, yaitu amprenavir. Inhibitor protease yang telah umum digunakan, memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Semua inhibitor protease yang telah disetujui memiliki efek samping gastrointestinal. Hiperlipidemia, intoleransi glukosa dan distribusi lemak abnormal dapat juga terjadi.

Uji klinis menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan menggunakan inhibitor protease saja dapat menurunkan jumlah RNA HIV secara signifikan dan meningkatkan jumlah sel CD4 (indikator bekerjanya sistem imun) selama minggu pertama perlakuan. Namun demikian, kemampuan senyawa-senyawa ini untuk menekan replikasi virus sering kali terbatas, sehingga menyebabkan terjadinya suatu seleksi yang menghasilkan HIV yang tahan terhadap obat. Karena itu, pengobatan dilakukan dengan menggunakan suatu terapi kombinasi bersama-sama dengan inhibitor reverse transcriptase. Inhibitor protease yang dikombinasikan dengan inhibitor reverse transkriptase menunjukkan respon antiviral yang lebih signifikan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama (Patrick & Potts, 1998).

Salah satu contoh adalah ARV (Anti Retro Virus), yaitu semacam obat yang prinsipnya adalah untuk menekan replikasi virus HIV sehingga tidak dapat membentuk virus-virus HIV baru dalam tubuh inangnya. . Menurut penelitian yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Tufts di Boston, AS, menyebutkan bahwa ARV terbukti 70-90% dapat mengurangi perkembangan virus HIV pada penderita HIV/ AIDS.

C.Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan Dapat Diperbaiki Melalui Gagasan yang Diajukan
Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus, sehingga jumlah virus dapat ditekan. Selain itu, obat-obatan untuk HIV/ AIDS juga lumayan mahal dan sulit dijangkau.

Oleh karena itu, tantangan bagi para peneliti di seluruh dunia (termasuk Indonesia) adalah untuk mencari obat yang dapat menghancurkan virus yang terdapat dalam tubuh, bukan hanya menghambat pertumbuhan virus. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk ditemukannya obat yang berasal dari alam.
D.Pihak-pihak yang Dapat Mengimplementasikan Gagasan
Untuk mengimplementasikan gagasan kami, maka kami harus mempertimbangkan berbagai pihak yang dapat membantu seperti :

1)Tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS.
Tempat rehabilitasi HIV/ AIDS merupakan tempat yang khusus dibangun dan menyediakan tempat yang pantas bagi penderita AIDS yang memiliki kemauan kuat untuk hidup dan sembuh total. Di tempat ini, kami akan menggali informasi sekaligus observasi beberapa tingkatan AIDS dari yang masih awal terinfeksi sampai yang paling parah sehingga nantinya kami dapat memperkirakan berapa dosis obat yang akan diberikan kepada pasien HIV/ AIDS.

2)Tempat mengembangbiakkan nyamuk.
Karena untuk mendapatkan enzim pencernaan nyamuk, diperlukan lebih dari 1 nyamuk saja. Selain itu, dengan mengembangbiakkan nyamuk dapat dibedakan nyamuk mana yang dapat mencerna virus HIV. Apakah Aedes Aegypti penyebab demam berdarah, Anopheles penyebab malaria, Aedes albopictus, atau jenis Culex fatican? Serta mengambil sampel enzim pencernaan dari masing-masing nyamuk untuk mengetahui manakah yang mengandung semacam enzim sehingga virus HIV dapat hancur oleh enzim ini.

3)Analis.
Setelah mengembangbiakkan nyamuk dan mendapatkan sampel enzim pencernaan nyamuk, akan dikirim ke laboratorium analis untuk meneliti apakah benar enzim pencernaan nyamuk dapat menghancurkan virus HIV sehingga pada saat nyamuk akan menancapkan probosisnya pada manusia lain, dia sudah tidak membawa virus HIV kembali. Dengan bekerjasama dengan analis, dapat diketahui apakah enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan sejenis vaksin untuk mengobati HIV/ AIDS karena sifat dari enzim nyamuk adalah bukan menghambat replikasi RNA atau DNA, namun menghancurkan virus HIV tersebut.

4)Dinas Kesehatan.
Setelah mengetahui apakah enzim pencernaan nyamuk benar atau tidak benar mengandung enzim penghancur virus HIV, pihak peneliti akan melaporkan ke dinas kesehatan. Sehingga nantinya, diharapkan apa yang telah diteliti ini dapat disetujui oleh dinas kesehatan untuk menjadi terobosan terbaru bagi pengobatan HIV/ AIDS.

E.Langkah-langkah Strategis yang Harus Dilakukan Untuk Mengimplementasikan Gagasan
Langkah – langkah yang dilakukan peneliti untuk mengimplementasikan Gagasan :

Langkah pertama untuk mengimplementasikan gagasan peneliti yaitu bekerjasama dengan tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS. Di tempat rehabilitasi ini, peneliti akan mendapatkan data bagaimana penderita AIDS yang baru terpapar virus HIV dan yang telah dalam tingkat yang parah. Sehingga dalam meneliti nantinya, peneliti dapat memperkirakan berapa dosis yang diperlukan bagi penderita HIV/ AIDS.

Langkah yang kedua adalah mengembangbiakkan nyamuk. Untuk mengembangbiakkan nyamuk, kita harus menempatkan suatu wadah terbuka yang diisi air. Di sekeliling bagian dalam wadah dipasang kertas, dimana setengah bagian di dalam air, setengah bagian di udara. Nyamuk akan meletakkan telurnya di kertas bagian perbatasan antara air dan udara. Telur-telur nyamuk ini akan berwarna hitam. Setelah sehari direndam di air, telur-telur itu akan berubah menjadi larva 1 (bintik-bintik berwarna coklat). Larva ini selanjutnya akan berkembang menjadi larva 2→larva 3→larva 4 dimana warnanya akan semakin hitam. Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi larva 4 adalah sekitar 4 hari.

Gambar 1 Larva 4

Setelah larva 4 ini, bakal nyamuk akan berunah menjadi pupa dimana bagian belakang kepala akan membesar dan bagian badannya memendek. Dalam bentuk pupa inilah kita akan memindahkannya menggunakan pipet plastik ke suatu wadah terbuka, kemudian dimasukkan ke kandang nyamuk karena pupa akan berubah menjadi nyamuk dalam waktu 1 hari.

Gambar 2. Kandang Nyamuk
Setelah mengembangbiakkan nyamuk, langkah yang ketiga adalah mengambil sampel enzim pencernaan nyamuk bekerjasama dengan analis. Di laboratorium, akan diteliti apakah enzim pencernaan nyamuk memang benar dapat menghancurkan virus HIV. Selain itu, akan diteliti pula apakah enzim pencernaan nyamuk tersebut dapat digunakan pada manusia sehingga dapat menjadi suatu vaksin bagi pengobatan penyakit HIV/ AIDS.

Setelah peneliti mendapatkan sampel bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat atau tidak dijadikan sebagai vaksin untuk HIV/ AIDS, peneliti akan melaporkan kepada Dinas Kesehatan agar diteliti lebih lanjut dan memastikan bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan vaksin. Sehingga apabila disetujui nantinya vaksin dari enzim pencernaan nyamuk ini dapat menjadi suatu terobosan terbaru dalam dunia kesehatan sebagai obat untuk menyembuhkan HIV/ AIDS, bukan sebagai penghambat replikasi materi genetik dari virus HIV tersebut.

III.KESIMPULAN

A.Gagasan yang diajukan
Berdasarkan hasil analisis dan sintesis terhadap gagasan tertulis yang telah dilakukan maka kesimpulan PKM ini adalah bahwa peneliti mendapatkan sampel bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat atau tidak dijadikan sebagai vaksin untuk HIV/ AIDS, peneliti akan melaporkan kepada Dinas Kesehatan agar diteliti lebih lanjut dan memastikan bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan vaksin. Sehingga apabila disetujui nantinya vaksin dari enzim pencernaan nyamuk ini dapat menjadi suatu terobosan terbaru dalam dunia kesehatan sebagai obat untuk menyembuhkan HIV/ AIDS, bukan sebagai penghambat replikasi materi genetik dari virus HIV tersebut.

B.Teknik implementasi yang dilakukan
Bekerjasama dengan tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS. Di tempat rehabilitasi ini, peneliti akan mendapatkan data bagaimana penderita AIDS yang baru terpapar virus HIV dan yang telah dalam tingkat yang parah. Sehingga dalam meneliti nantinya, peneliti dapat memperkirakan berapa dosis yang diperlukan bagi penderita HIV/ AIDS.
Langkah yang kedua adalah mengembangbiakkan nyamuk. Untuk mengembangbiakkan nyamuk, kita harus menempatkan suatu wadah terbuka yang diisi air. Di sekeliling bagian dalam wadah dipasang kertas, dimana setengah bagian di dalam air, setengah bagian di udara. Nyamuk akan meletakkan telurnya di kertas bagian perbatasan antara air dan udara. Telur-telur nyamuk ini akan berwarna hitam. Setelah sehari direndam di air, telur-telur itu akan berubah menjadi larva 1 (bintik-bintik berwarna coklat). Larva ini selanjutnya akan berkembang menjadi larva 2→larva 3→larva 4 dimana warnanya akan semakin hitam. Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi larva 4 adalah sekitar 4 hari.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com.org/content/tubuh

http://www.google.com/info/HIV

http://id.wikipedia.org/wiki/hiv

http://id.wikipedia.org/wiki/nyamuk

http://gugling.com/stem-sel-pengobatan-masa-depan-umat-manusia.html

http://www.wikieducator.org/Lesson_1…ion_To_Malaria

http://www.odhaindonesia.org/content/terapi-hiv

I.PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Tingginya angka jumlah penderita AIDS di Indonesia membuat pemerintah kewalahan. Bukan hanya orang dewasa saja yang menderita AIDS, namun remaja-remaja usia 14-19 tahun merupakan usia rawan tertularnya virus HIV karena saat ini remaja-remaja Indonesia sudah melalukan hubungan seksual/ berganti-ganti pasangan serta mengkonsumsi narkoba menggunakan jarum suntik.
Penderita AIDS seringkali diasingkan dalam kehidupan sosialnya. Hal ini membuat ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) merasa terkucilkan dan tidak bisa meningkatkan kreativitas yang ada dalam dirinya. Virus HIV menyebar dengan cepat dalam tubuh manusia yang menjadi hospesnya. Obat-obatan yang ditawarkan saat ini adalah ARV (Anti Retro Virus) yang harganya lumayan relatif mahal. Sehingga penderita AIDS kesulitan untuk mendapatkannya. Untuk dapat menularkan AIDS pada hospesnya, virus HIV harus mengubah materi genetiknya yaitu RNA menjadi suatu senyawa yang aktif yaitu DNA, kemudian membentuk protein, dan protein inilah yang nantinya akan menghasilkan virus HIV yang lebih banyak dalam tubuh hospesnya.
Sifat dari ARV untuk HIV adalah untuk menekan perubahan RNA menjadi DNA sehingga tidak dapat menghasilkan protein-protein. Untuk bekerja secara maksimal, ARV harus diminum secara rutin karena jika tidak patuh pada aturan ini, maka replikasi RNA tetap akan terjadi. Harga ARV relatif mahal karena sifatnya yang memang rumit itu. Beberapa harga yang ditawarkan oleh pasaran adalah ± Rp. 650.000 sampai jutaan. Penderita AIDS terutama dari kalangan menengah ke bawah kesulitan untuk mendapatkan ARV ini.
Issue yang berkembang di masyarakat adalah nyamuk dapat menularkan virus HIV karena prinsipnya sama dengan alat suntik. Namun kenyataannya, nyamuk tidak dapat menularkan HIV karena nyamuk tidak sama dengan jarum suntik. Nyamuk tidak pernah menggigit manusia karena nyamuk tidak mempunyai gigi. Tetapi nyamuk mencucukkan alat penghisapnya (probosis) ke dalam pembuluh darah kapiler manusia/ hewan mangsanya dengan teknik khasnya, sehingga tidak terasa saat menembus kapiler.
Ketika seekor nyamuk menularkan suatu penyakit dari satu orang ke orang yang lain, maka parasit tadi harus tetap hidup dalam tubuh nyamuk sampai nyamuk tadi selesai mengisap darah orang tersebut. Jika nyamuk mencerna parasit tersebut, maka siklus penularan ini akan terputus dan parasit tidak dapat ditularkan ke korban selanjutnya. Memang ada sejumlah cara yang dilakukan oleh parasit untuk menghindar agar tidak dicerna sebagai makanan. Ada sejumlah parasit yang memang memiliki ketahanan dari enzim pencerna yang ada dalam perut nyamuk, namun kebanyakan parasit-parasit ini menerobos jaringan dalam perut nyamuk agar terhindar dari enzim pencernaan nyamuk yang akan melumatnya sampai habis . Parasit malaria dapat bertahan selama 9-12 hari dalam tubuh nyamuk, yang mana dalam waktu itu parasit ini dapat berkembang menjadi bentuk yang lain. Penelitian terhadap virus HIV secara jelas menunjukkan bahwa virus yang bertanggung jawab terhadap infeksi HIV tersebut dianggap sebagai makanan dan dicerna bersama makanan yang berupa darah. Dalam 1-2 hari virus bersama makanan tadi telah habis dicerna oleh nyamuk, sehingga kemungkinan untuk terjadinya infeksi baru dapat dicegah. Karena virus tidak sempat bereproduksi dan tidak sempat pindah ke kalenjar saliva, maka penularan HIV melalui nyamuk merupakan hal yang tidak mungkin.
Karena itulah penulis berharap dapat ditemukan alternatif pengganti ARV dari enzim pencernaan nyamuk sebagai vaksin HIV/ AIDS yang harganya murah sehingga semua kalangan masyarakat (ODHA) dapat memperolehnya dengan mudah dan tidak perlu mengeluarkan biaya yang tinggi.

B.Tujuan dan Manfaat
Berdasarakan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, penulis menyajikan tujuan dan manfaat seperti di bawah ini, seperti:

1.Tujuan
a)Untuk mencegah tertularnya HIV/AIDS.
b)Mengurangi angka kematian akibat HIV/AIDS.
c)Untuk mengurangi isu yang berkembang di masyarakat bahwa gigitan nyamuk dapat menularkan HIV/AIDS.
2.Manfaat
a)Sebagai sumbangan ilmiah dalam bidang kesehatan.
b)Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa gigitan nyamuk tidak menularkan virus HIV/AIDS.

II.GAGASAN
A. Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan
AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit AIDS, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun, HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus, jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena rusaknya sistem imun tubuh.

Isu yang berkembang di masyarakat bahwa gigitan nyamuk yang sebelumnya menggigit ODHA dapat menularkan HIV/ AIDS kepada orang lain yang sehat. Karena pada prinsipnya, cara kerja nyamuk sama dengan jarum suntik. Tapi kenyataanya HIV tidak menyebar melalui gigitan nyamuk atau gigitan serangga lainnya. Bahkan bila virus masuk ke dalam tubuh nyamuk atau serangga yang menggigit atau mengisap darah, virus tersebut tidak dapat mereproduksi dirinya dalam tubuh serangga. Karena serangga tidak dapat terinfeksi HIV, serangga tidak dapat menularkannya ke tubuh manusia yang digigitnya.

Wayne J. Crans, seorang entomologi dari Inggris mengatakan bahwa ada 3 mekanisme mengapa serangga pengisap darah seperti nyamuk tidak dapat menularkan HIV, yaitu
1)Pada mekanisme pertama, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV dan menelan virus tersebut bersama darah si penderita. Setelah kenyang, nyamuk ini kemudian pulang ke sarangnya, tanpa pindah ke korban selanjutnya. Virus yang terhisap ini masuk ke dalam tubuh, dan bertahan dalam tubuh nyamuk tersebut, virus kemudian berkembang biak dan setelah itu pindah ke dalam kalenjar air liur (salivary gland). Nyamuk yang terinfeksi HIV ini kemudian mencari korban selanjutnya untuk dihisap darahnya. Korban selanjutnya ini bisa saja seseorang yang bersih dari HIV, namun saat nyamuk menghisap darah orang ini virus HIV yang ada dalam kalenjar air liur nyamuk tersebut ikut masuk ke dalam tubuh orang tadi. Mekanisme yang pertama ini digunakan oleh sebagian besar parasit dalam nyamuk, seperti malaria, demam berdarah dan sejenisnya.
2)Pada mekanisme kedua, seekor nyamuk memulai siklusnya dengan mengisap darah seorang pengidap HIV, namun belum kenyang mengisap ia sudah terbang karena terganggu. Daripada kembali ke korban yang pertama tadi, nyamuk memilih korban lain yang mungkin bebas dari AIDS. Setelah nyamuk tadi menusukkan mulutnya ke dalam kulit korbannya ini, nyamuk ini akan menularkan virus yang masih ada dalam mulutnya ke korbannya ini. Mekanisme ini termasuk mekanisme yang tidak lazim dalam infeksi parasit melalui nyamuk.
3)Mekanisme ketiga mirip dengan mekanisme kedua, dimana saat nyamuk mengisap darah korbannya yang mengidap HIV tiba-tiba ia diganggu dan kemudian terbang untuk mencari korban kedua. Namun dalam teori yang ketiga ini, tiba-tiba nyamuk tadi dipukul oleh si korban, dan kemudian darah nyamuk yang telah terkontaminasi HIV ini masuk ke dalam luka si korban tadi. Masing-masing dari mekanisme ini telah diselidiki dan diteliti dengan menggunakan berbagai macam serangga pengisap darah, dan hasilnya secara jelas menunjukkan bahwa nyamuk tidak dapat menularkan AIDS.

Selain itu, Wayne juga mengungkapkan beberapa alasan mengapa nyamuk tidak dapat menularkan HIV, yaitu:
1)Nyamuk mencerna virus yang menyebabkan AIDS. Ketika seekor nyamuk menularkan suatu penyakit dari satu orang ke orang yang lain, maka parasit tadi harus tetap hidup dalam tubuh nyamuk sampai nyamuk tadi selesai mengisap darah orang tersebut. Jika nyamuk mencerna parasit tersebut, maka siklus penularan ini akan terputus dan parasit tidak dapat ditularkan ke korban selanjutnya. Memang ada sejumlah cara yang dilakukan oleh parasit untuk menghindar agar tidak dicerna sebagai makanan. Ada sejumlah parasit yang memang memiliki ketahanan dari enzim pencerna yang ada dalam perut nyamuk, namun kebanyakan parasit-parasit ini menerobos jaringan dalam perut nyamuk agar terhindar dari enzim pencernaan nyamuk yang akan melumatnya sampai habis . Parasit malaria dapat bertahan selama 9-12 hari dalam tubuh nyamuk, yang mana dalam waktu itu parasit ini dapat berkembang menjadi bentuk yang lain. Penelitian terhadap virus HIV secara jelas menunjukkan bahwa virus yang bertanggung jawab terhadap infeksi HIV tersebut dianggap sebagai makanan dan dicerna bersama makanan yang berupa darah. Dalam 1-2 hari virus bersama makanan tadi telah habis dicerna oleh nyamuk, sehingga kemungkinan untuk terjadinya infeksi baru dapat dicegah. Karena virus tidak sempat bereproduksi dan tidak sempat pindah ke kalenjar saliva, maka penularan HIV melalui nyamuk merupakan hal yang tidak mungkin.
2)Nyamuk tidak terlalu banyak menghisap parasit HIV untuk menularkan AIDS melalui kontaminasi. Parasit-parasit penyebar penyakit yang memiliki kemampuan untuk menularkan parasitnya dari satu individu ke individu lainnya melalui mulut harus memiliki tingkat sirkulasi yang sangat tinggi dalam aliran darah inangnya. Penularan melalui kontaminasi mulut memerlukan parasit yang jumlahnya cukup untuk dapat menyebabkan terjadinya infeksi baru. Jumlah parasit yang dibutuhkan bervariasi dari satu penyakit ke penyakit lainnya. Parasit HIV sendiri memiliki tingkat sirkulasi yang sangat rendah dalam aliran darah, nilainya jauh dibawah parasit-parasit nyamuk lainnya. Dalam tubuh penderita AIDS sendiri virus HIV ini jarang-jarang yang tingkat sirkulasinya lebih dari 10 ekor per sirkulasi, dan biasanya 70-80% penderita HIV tidak terdeteksi adanya virus HIV dalam aliran darahnya. Para peneliti melakukan perhitungan sebagai berikut : Misal ada seseorang dengan tingkat sirkulasi virus HIV yang mencapai 1000 dalam aliran darahnya, kemudian ada nyamuk yang mengisap darahnya, maka kemungkinan masuknya satu virus HIV ke dalam seseorang bebas AIDS melalui nyamuk adalah 1 : 10 juta. Dengan kata lain seseorang baru terinfeksi satu virus HIV bila telah digigit oleh 10 juta nyamuk. Dengan menggunakan perhitungan yang sama, maka jika seandainya ada seekor nyamuk yang sedang mengisap tubuh seseorang, kemudian nyamuk tersebut dipukul sehingga darah dalam tubuh nyamuk tadi tersebar, dan ada yang masuk ke dalam luka. Maka kemungkinan masuknya satu virus HIV ke dalam tubuh manusia tadi adalah sangat tidak mungkin. Mungkin dibutuhkan 10 juta nyamuk.
3)Nyamuk bukanlah jarum suntik terbang. Banyak orang beranggapan bahwa nyamuk yang kecil itu sebagai jarum suntik yang terbang. Jika sebuah jarum suntik dapat menularkan HIV dari satu orang ke orang lainnya maka kemungkinan nyamuk pun juga dapat melakukkan hal yang sama. Pada penjelasan di atas telah dibahas bahwa dibutuhkan paling tidak 10 juta nyamuk agar 1 ekor virus HIV dapat masuk dalam tubuh kita. Walaupun ada penderita AIDS yang memiliki tingkat sirkulasi HIV yang sangat tinggi dalam darahnya, maka penyebaran AIDS melalui jarum yang dimiliki nyamuk tetap tidak mungkin. Mengapa ? Karena cara kerja jarum suntik yang dimiliki nyamuk berbeda dengan jarum suntik yang dipakai oleh orang. Jarum suntik biasa hanya memiliki satu jalur, sedangkan pada nyamuk memiliki dua jalur. Banyak orang yang mengetahui bahwa nyamuk mengeluarkan air liur sebelum mereka menghisap darah dari korbannya, namun perlu diketahui bahwa saluran makanan dan saluran air liur tidak menjadi satu alias terpisah. Satu saluran dipakai untuk menghisap darah dan satu saluran dipakai untuk mengeluarkan air liur dan saluran ini tidak pernah tercampur. Semua saluran hanya bersifat satu arah. Dengan demikian nyamuk bukanlah jarum suntik terbang, dan air liur yang dikeluarkan oleh nyamuk ke dalam tubuhmu tidak dikeluarkan dari darah yang telah dihisap sebelumnya.

B.Solusi Yang Pernah Ditawarkan
Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan virus HIV. Karena untuk tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat), diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk virus-virus baru.

Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.

Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru secara total.

Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.

Menurut Flexner (1998), pada saat ini telah dikenal empat inhibitor protease yang digunakan pada terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV, yaitu indinavir, nelfinavir, ritonavir dan saquinavir. Satu inhibitor lainnya masih dalam proses penelitian, yaitu amprenavir. Inhibitor protease yang telah umum digunakan, memiliki efek samping yang perlu dipertimbangkan. Semua inhibitor protease yang telah disetujui memiliki efek samping gastrointestinal. Hiperlipidemia, intoleransi glukosa dan distribusi lemak abnormal dapat juga terjadi.

Uji klinis menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan menggunakan inhibitor protease saja dapat menurunkan jumlah RNA HIV secara signifikan dan meningkatkan jumlah sel CD4 (indikator bekerjanya sistem imun) selama minggu pertama perlakuan. Namun demikian, kemampuan senyawa-senyawa ini untuk menekan replikasi virus sering kali terbatas, sehingga menyebabkan terjadinya suatu seleksi yang menghasilkan HIV yang tahan terhadap obat. Karena itu, pengobatan dilakukan dengan menggunakan suatu terapi kombinasi bersama-sama dengan inhibitor reverse transcriptase. Inhibitor protease yang dikombinasikan dengan inhibitor reverse transkriptase menunjukkan respon antiviral yang lebih signifikan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama (Patrick & Potts, 1998).

Salah satu contoh adalah ARV (Anti Retro Virus), yaitu semacam obat yang prinsipnya adalah untuk menekan replikasi virus HIV sehingga tidak dapat membentuk virus-virus HIV baru dalam tubuh inangnya. . Menurut penelitian yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Tufts di Boston, AS, menyebutkan bahwa ARV terbukti 70-90% dapat mengurangi perkembangan virus HIV pada penderita HIV/ AIDS.

C.Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan Dapat Diperbaiki Melalui Gagasan yang Diajukan
Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus, sehingga jumlah virus dapat ditekan. Selain itu, obat-obatan untuk HIV/ AIDS juga lumayan mahal dan sulit dijangkau.

Oleh karena itu, tantangan bagi para peneliti di seluruh dunia (termasuk Indonesia) adalah untuk mencari obat yang dapat menghancurkan virus yang terdapat dalam tubuh, bukan hanya menghambat pertumbuhan virus. Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk ditemukannya obat yang berasal dari alam.
D.Pihak-pihak yang Dapat Mengimplementasikan Gagasan
Untuk mengimplementasikan gagasan kami, maka kami harus mempertimbangkan berbagai pihak yang dapat membantu seperti :

1)Tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS.
Tempat rehabilitasi HIV/ AIDS merupakan tempat yang khusus dibangun dan menyediakan tempat yang pantas bagi penderita AIDS yang memiliki kemauan kuat untuk hidup dan sembuh total. Di tempat ini, kami akan menggali informasi sekaligus observasi beberapa tingkatan AIDS dari yang masih awal terinfeksi sampai yang paling parah sehingga nantinya kami dapat memperkirakan berapa dosis obat yang akan diberikan kepada pasien HIV/ AIDS.

2)Tempat mengembangbiakkan nyamuk.
Karena untuk mendapatkan enzim pencernaan nyamuk, diperlukan lebih dari 1 nyamuk saja. Selain itu, dengan mengembangbiakkan nyamuk dapat dibedakan nyamuk mana yang dapat mencerna virus HIV. Apakah Aedes Aegypti penyebab demam berdarah, Anopheles penyebab malaria, Aedes albopictus, atau jenis Culex fatican? Serta mengambil sampel enzim pencernaan dari masing-masing nyamuk untuk mengetahui manakah yang mengandung semacam enzim sehingga virus HIV dapat hancur oleh enzim ini.

3)Analis.
Setelah mengembangbiakkan nyamuk dan mendapatkan sampel enzim pencernaan nyamuk, akan dikirim ke laboratorium analis untuk meneliti apakah benar enzim pencernaan nyamuk dapat menghancurkan virus HIV sehingga pada saat nyamuk akan menancapkan probosisnya pada manusia lain, dia sudah tidak membawa virus HIV kembali. Dengan bekerjasama dengan analis, dapat diketahui apakah enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan sejenis vaksin untuk mengobati HIV/ AIDS karena sifat dari enzim nyamuk adalah bukan menghambat replikasi RNA atau DNA, namun menghancurkan virus HIV tersebut.

4)Dinas Kesehatan.
Setelah mengetahui apakah enzim pencernaan nyamuk benar atau tidak benar mengandung enzim penghancur virus HIV, pihak peneliti akan melaporkan ke dinas kesehatan. Sehingga nantinya, diharapkan apa yang telah diteliti ini dapat disetujui oleh dinas kesehatan untuk menjadi terobosan terbaru bagi pengobatan HIV/ AIDS.

E.Langkah-langkah Strategis yang Harus Dilakukan Untuk Mengimplementasikan Gagasan
Langkah – langkah yang dilakukan peneliti untuk mengimplementasikan Gagasan :

Langkah pertama untuk mengimplementasikan gagasan peneliti yaitu bekerjasama dengan tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS. Di tempat rehabilitasi ini, peneliti akan mendapatkan data bagaimana penderita AIDS yang baru terpapar virus HIV dan yang telah dalam tingkat yang parah. Sehingga dalam meneliti nantinya, peneliti dapat memperkirakan berapa dosis yang diperlukan bagi penderita HIV/ AIDS.

Langkah yang kedua adalah mengembangbiakkan nyamuk. Untuk mengembangbiakkan nyamuk, kita harus menempatkan suatu wadah terbuka yang diisi air. Di sekeliling bagian dalam wadah dipasang kertas, dimana setengah bagian di dalam air, setengah bagian di udara. Nyamuk akan meletakkan telurnya di kertas bagian perbatasan antara air dan udara. Telur-telur nyamuk ini akan berwarna hitam. Setelah sehari direndam di air, telur-telur itu akan berubah menjadi larva 1 (bintik-bintik berwarna coklat). Larva ini selanjutnya akan berkembang menjadi larva 2→larva 3→larva 4 dimana warnanya akan semakin hitam. Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi larva 4 adalah sekitar 4 hari.

Gambar 1 Larva 4

Setelah larva 4 ini, bakal nyamuk akan berunah menjadi pupa dimana bagian belakang kepala akan membesar dan bagian badannya memendek. Dalam bentuk pupa inilah kita akan memindahkannya menggunakan pipet plastik ke suatu wadah terbuka, kemudian dimasukkan ke kandang nyamuk karena pupa akan berubah menjadi nyamuk dalam waktu 1 hari.

Gambar 2. Kandang Nyamuk
Setelah mengembangbiakkan nyamuk, langkah yang ketiga adalah mengambil sampel enzim pencernaan nyamuk bekerjasama dengan analis. Di laboratorium, akan diteliti apakah enzim pencernaan nyamuk memang benar dapat menghancurkan virus HIV. Selain itu, akan diteliti pula apakah enzim pencernaan nyamuk tersebut dapat digunakan pada manusia sehingga dapat menjadi suatu vaksin bagi pengobatan penyakit HIV/ AIDS.

Setelah peneliti mendapatkan sampel bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat atau tidak dijadikan sebagai vaksin untuk HIV/ AIDS, peneliti akan melaporkan kepada Dinas Kesehatan agar diteliti lebih lanjut dan memastikan bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan vaksin. Sehingga apabila disetujui nantinya vaksin dari enzim pencernaan nyamuk ini dapat menjadi suatu terobosan terbaru dalam dunia kesehatan sebagai obat untuk menyembuhkan HIV/ AIDS, bukan sebagai penghambat replikasi materi genetik dari virus HIV tersebut.

III.KESIMPULAN

A.Gagasan yang diajukan
Berdasarkan hasil analisis dan sintesis terhadap gagasan tertulis yang telah dilakukan maka kesimpulan PKM ini adalah bahwa peneliti mendapatkan sampel bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat atau tidak dijadikan sebagai vaksin untuk HIV/ AIDS, peneliti akan melaporkan kepada Dinas Kesehatan agar diteliti lebih lanjut dan memastikan bahwa enzim pencernaan nyamuk dapat dijadikan vaksin. Sehingga apabila disetujui nantinya vaksin dari enzim pencernaan nyamuk ini dapat menjadi suatu terobosan terbaru dalam dunia kesehatan sebagai obat untuk menyembuhkan HIV/ AIDS, bukan sebagai penghambat replikasi materi genetik dari virus HIV tersebut.

B.Teknik implementasi yang dilakukan
Bekerjasama dengan tempat rehabilitasi penderita HIV/ AIDS. Di tempat rehabilitasi ini, peneliti akan mendapatkan data bagaimana penderita AIDS yang baru terpapar virus HIV dan yang telah dalam tingkat yang parah. Sehingga dalam meneliti nantinya, peneliti dapat memperkirakan berapa dosis yang diperlukan bagi penderita HIV/ AIDS.
Langkah yang kedua adalah mengembangbiakkan nyamuk. Untuk mengembangbiakkan nyamuk, kita harus menempatkan suatu wadah terbuka yang diisi air. Di sekeliling bagian dalam wadah dipasang kertas, dimana setengah bagian di dalam air, setengah bagian di udara. Nyamuk akan meletakkan telurnya di kertas bagian perbatasan antara air dan udara. Telur-telur nyamuk ini akan berwarna hitam. Setelah sehari direndam di air, telur-telur itu akan berubah menjadi larva 1 (bintik-bintik berwarna coklat). Larva ini selanjutnya akan berkembang menjadi larva 2→larva 3→larva 4 dimana warnanya akan semakin hitam. Waktu yang dibutuhkan untuk menjadi larva 4 adalah sekitar 4 hari.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com.org/content/tubuh

http://www.google.com/info/HIV

http://id.wikipedia.org/wiki/hiv

http://id.wikipedia.org/wiki/nyamuk

http://gugling.com/stem-sel-pengobatan-masa-depan-umat-manusia.html

http://www.wikieducator.org/Lesson_1…ion_To_Malaria

http://www.odhaindonesia.org/content/terapi-hiv

Leave a comment »

ASKEB PATOLOGI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot-otot uterus dan jaringan ikat sehingga dalam kepustakaannya disebut juga leomioma, fibromioma atau fibroid (Kapita Selekta Kedokteran, 2001 : 387).
Mioma uteri merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya, sehingga dapat dalam bentuk padat. Karena jaringan ikatnya dominant dan lunak karena otot rahimnya dominant. Kejadian mioma uteri sukar ditetapkan karena tidak semua mioma uteri memberikan keluhan dan memerlukan tindakan operasi. Sebagian besar mioma uteri tidak memberikan keluhan apapun dan ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan (Manuaba, 1998 : 410).
Sebagian besar mioma uteri ditemukan pada masa reproduksi, karena adanya rangsangan estrogen. Dengan demikian mioma uteri tidak dijumpai sebelum dating haid (menarche) dan akan mengalami pengecilan setelah mati haid (menopause). Bila pada masa menopause tumor yang berasal dari mioma uteri masih tetap besar atau bertambah besar. Kemungkinan degenerasi ganas menjadi sarcoma uteri. Bila dijumpai pembesaran abdomen sebelum menarche. Hal ini pasti bukan mioma uteri tetapi pembesaran abdomen sebelum menarche. Hal ini pasti bukan mioma uteri tetapi kista ovarium dan kemungkinan besar menjadi ganas (Manuaba, 1998 : 410).
Histeroktomi dalam kebidanan biasanya dilakukan dengan meninggalkan adneksa kanan dan kiri. Ligament rotunda kanan dan kiri dipotong kira-kira 1,5 cm dari uterus dan diikat pada potongan medial dan lateral (Sarwono, 2007 : 871)
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa Akademi Kebidanan diharapkan mampu melakukan asuhan kebidanan pada ibu dengan
1.2.2 Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa kebidanan dapat :
a. Melakukan pengkajian (Pengumpulan data) pada klien dengan mioma uteri dan histeroktomi
b. Mahasiswa mampu menyusun asuhan kesehatan reproduksi dengan mioma uteri dan histeroktomi
c. Mengevaluasi asuhan kesehatan reproduksi dengan mioma uteri dan histerektomi yang diberikan.
1.3 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi pustaka yaitu mencari sumber dan literatur yang ada di perpustakaan.
1.4 Sistematika Penulisan
Agar hasil pemeriksaan mudah dipahami dan dimengerti, maka pokok-pokok masalah yang terdapat dalam makalah ini dibagi dalam bab-bab dan sistematikanya sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan menguraikan tentang latar belakang, tujuan penulisan secara umum dan khusus, metode penulisan dan sistematika penulisan
BAB 2 LANDASAN TEORI
Landasan teori menguraikan tentang konsep dasar mioma uteri dan asuhan kebidanan pada mioma uteri
BAB 3 TINJAUAN KASUS
Meliputi pengkajian data, diagnosa, masalah potensial, tindakan segera, rencana tindakan dan rasional, penatalaksanaan rencana tindakan evaluasi
BAB 4 PENUTUP
Meliputi kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Definisi MIoma Uteri dan Histerektomi
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yanag berasal dari otot uterus dan jaringan ikat sehingga dalam kepustakaan disebut juga lelomioma, fibromioma atau fibroid (Kapita Selekta Kedokteran, 2001 : 386).
MIoma uteri merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya sehingga dapat dalam bentuk padat. Karena jaringan ikatnya dominant dan lunak karena otot rahimnya dominant. Kejadian mioma uteri sukar ditetapkan karena tidak semua mioma uteri memberikan keluhan dan memerlukan tindakan operasi. Sebagian besar mioma uteri tidak memberikan keluhan apapun dan ditemukan secara kebetulan saat pemeriksan (Manuaba, 1998 : 410).
Histeroktomi dalam kebidanan biasanya dilakukan dengan meninggalkan adneksa kanan dan kiri. Ligament rotunda kanan dan kiri dipotong kira-kira 1,5 cm dari uterus dan diikat pada potongan medial dan lateral (sarwono, 2007 : 871).
2.2 Etiologi
Belum diketahui karena tidak semua mioma uteri memberikan keluhan dan memerlukan tindakan operasi. Sebagian penderita mioma uteri tidak memberikan keluhan apapun dan ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan.
Sebagian besar mioma uteri ditemukan pada masa reproduksi, karena adanya rangsangan estrogen. Dengan demikian mioma uteri tidak dijumpai sebelum dating haid (menarche) dan akan mengalami pengecilan setelah mati haid (menopause). Bila pada masa menopause tumor yang berasal dari mioma uteri masih tetap besar atau bertambah besar, kemungkinan degenerasi ganas menjadi sarcoma uteri. Bila dijumpai pembesaran abdomen sebelum menarche, hal itu pasti bukan mioma uteri tetapi kista ovarium dan kemungkinan besar menjadi ganas (Manuaba, 1998 : 410).

2.3 Patologi
Berdasarkan teori genitoblast (sel ness) Mayer dan De Snoo, dan rangsangan terus menerus setiap bulan dari estrogen, maka pertumbuhan mioma uteri terjadi :
1) Berlapis seperti berlambang
2) Lokalisasi bervariasi
a) Subserosa
• Dibawah lapisan peritoneum
• Dapat bertangkai dan melayang dalam kavum (ruangan) abdomen (Manuaba, 1998 : 154)
• MEluasnya permukaan endometrium dalam proses menstruasi
• Gangguan kontraksi rahim
• Pendarahan berkepanjangan
Akibat pendarahan, penderita dapat mengeluh anemis karena kekurangan darah, pusing, cepat lelah, mudah terjadi infeksi
3) Penekanan rahim yang membesar
Penekanan rahim karena pembesaran mioma uteri dapat terjadi :
• Terasa berat di abdomen bagian bawah
• Sukar miksi atau defeksi
• Terasa nyeri karena tertekannya urat saraf
4) Gangguan pertumbuhan dan perkembangan kehamilan
Kehamilan dengan disertai mioma uteri menimbulkan proses saling mempengaruhi :
• Kehamilan dapat mengalami keguguran
• Persalinan prematuritas
• Gangguan saat proses persalinan
• Tertutupnya saluran indung telur menimbulkan infertilitas
• Kala ketiga terjadi gangguan pelepasan plasenta dan perdarahan (Manuaba, 1998 : 411)

Gambaran mikroskopis mioma uteri
Terdiri dari sel otot spinale dan tersusun sebagai whoart (konde) sel-selnya berukuran sama besar (Ginekologi, 1998 : 154)
Perubahan sekunder pada mioma uteri
1) Degenerasi hyalin
Yang paling sering terjadi, dapat mengenal seluruhnya atau sebagian.
2) Degenerasi kistik
Degenerasi hyalin dapat mengalami pencairan sehingga seluruh tumor terjadi jadi lembek, seolah-olah menyerupai uterus yang gravid atau kista ovarium.
3) Klasifikasi
Terjadi bila ada gangguan sirkulasi, terutama pada myoma uteri tua. Dalam bentuk yang ekstrim dapat jadi keras seperti bahu dikenal dengan sebutan “Wobstone” dengan rotgen dapat dilihat adanya kalisifikasi.
4) Infeksi dan suppurasi
Banyak terjadi pada jenis submukosa oleh karena adanya uccerasi.
5) Necrose
Disebabkan gangguan sirkulasi darah atau infeksi yang hebat atau torn dari tungkai tumor. Jenis necrose yang menarik ialah yang disebut “carnes atau red degeneration terutama ditemukan pada wanita hamil tapi tidak selalu. Sebabnya belum diketahui dengan tepat (Ginekologi UNPAD, 1981 : 154)
b) Intramural
Didalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak (jaringan otot rahim dominan)
c) Submukosa
• Dibawah lapisan dalam rahim
• Dibawah permukaan ruangan ovarium
• Bertangkai dan dapat dikeluarkan melalui kanalis servikalis
d) Servikal mioma
Tumbuh di daerah serviks uteri

2.4 Jensi-Jenis Mioma Uteri
Berdasarkan posisi mioma terhadap lapisan-lapisan uterus dapat dibagi dalam 3 jenis
1) Mioma submukosa
Tumbuhnya tepat dibawah endometrium paling sering menyebabkan perdarahan yang banyak, sehingga memerlukan hysterektomi, walaupun ukurannya kecil. Adanya mioma submukosa dapat dirasakan sebagai suatu (“ curet bump” benjolan waktu kuret). Kemungkinan terjadinya degenerasi sarcoma juga lebih besar pada jenis itu sering mempunyai tungkai yang panjang sehingga menonjol melalui serviks atau vagina disebut mioma submukosa bertangkai yang dapat menimbulkan “myoma girburt” sering mengalami nekrose atau ucrerasi.
2) Ontensinal/intramural
Terletak pada mimetrium kalau besar atau multipel dapat menyebabkan pembesaran uterus dan berbenjol-benjol.
3) Subserosa /subperitoneal
Letaknua dibawah tunika serosa. Kadang-kadang vena yang ada dipermukaan pecah dan menyebabkan perdarahan intra abdominal. Kadang-kadang mioma subserose timbul diantara 2 ligamentum latum merupakan myoma intra ligametum yang dapat menekan ureter dan arteri liaka. Ada kalanya tumor ini mendapat vascularisasi yang lebih banyak dari omentum sehingga lambat laun terlepas dari uterus disebut sebagai parasitic myoma. Myoma subserosa yang bertangkai dapat mengalami torsi (Ginekologi UNPAD, 1981 : 154)
2.5 Gejala Klinik Mioma Uteri
Gejala klinik mioma uteri adalah :
1) Perdarahan tidak normal
Hipermenorea perdarahan banyak saat menstruasi
Meluasnya permukaan endometrium dalam proses menstruasi (Ginekologi UNPAD, 1981 : 156)
2) Degenerasi lemak
Jarang tetapi dapat terjadi pada degenerasi hyalin yang lanjut. Pada kasus kasus lain mungkin disebabkan tumornya merupakan variasi campuran.
3) Degenerasi sarceomaitus
Jarang terjadi
(Ginekologi UNPAD, 1981 : 156)
2.6 Diagnosa Mioma Uteri
Secara sederhana bidan dapat memperkirakan kemungkinan mioma uteri dengan memperhatikan gejala klinik, yaitu terdapat perdarahan menstruasi yang tidak normal, terdapat gangguan miksi atau buang air besar dan terasa nyeri terutama saat menstruasi.
Pada pemeriksaan dalam bidan dapat menjumpai teraba tumor padat pada abdomen bagian bawah dan pergerakan tumor terbatas atau bebas. Penanganan mioma uteri memerlukan tindakan spesialistis sehingga bidan perlu menetapkan kemungkinan mioma uteri dan melakukan rujukan ke puskesmas, dokter ahli atau ke rumah sakit (Manuaba, 1998 : 411)
2.7 Penatalaksanaan

Histerektomi subtotal Supra vaginal)

1) Memisahkan adneksa dari uterus
• Angkat uterus keluar addomen dan secara perlahan tarik untuk menjaga traksi
• Klem dua kali dan ptong ligementum rotondum dengan gunting, klem dan potong pedekel, tetepi ikat setelah arteri uterina diamanakan untuk menghemat waktu
• Dari ujung potongan ligamentum rotundum buka sisi depan. Lakukan insisi sampai
o Satu titik tempat peritaneum kandung kemih bersatu dengan permukaan uterus bawah di garis tengah
o Peritoneum yang insisi pada seksio sesarea
• Gunakan dua jari untuk mendorong bagian belakang ligamentum rotindum ke depan dibawah tuba dan ovarium di dekat pinggir uterus. Buatlag lubang

2.8 Penanganan Umum
Terapi
1) Konservatif dengan pemeriksaan periodik
Bila seseorang cuanira dengan mioma mencapai menepause masanya tidak mengalami keluhan bahkan dapat mengecil oleh karena itu sebaiknya mengalami keluhan premenopause tanpa gejala diabsevasi saja. Bila mioma besarnya sebesar kehamilan 12-14 minggu apalagi disertai pertumbuhan yang cepat sebaiknya dioperasi. Walaupun tidak ada gejala/keluhan sebabnya mioma yang besar. Kadang-kadang memberikan kesukaran pada operasi. Pada masa post menopause, myoma biasanya tidak menimbulkan/memberikan keluhan. Tetapi bila ada pembesaran myoma pada masa post menopause harus dicurigai kemungkinan keganasan (Sarcoma)
2) Radioologi
• Hanya dilakukan pada wanita yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient)
• Ueterus harus lebih kecil dari kehamilan 3 bulan
• Bukan jenis submucosa
• Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum
Jenis radiologi
• Tidak dilakukan pada wanita muda sebab dapat menyebabkan menupause
• Radium dalam cavum uteri
• X-ray pada ovariua (sasirasi)
Maksud dari radio terapi ialah untuk menghentikan pendarahan
3) Operasi
Myomektomi dilakukan bila masih diinginkan keturunan, sifatnya dilakukan kuretase dulu. Untuk menghilangkan kemungkinan keganasan kerugian :
• Melemahkan dinding uterusruptura uteri pada waktu hamil
• Menyebabkan perlekatan
• Desidif
• Hysteroktomi
Dilakukan pada : mioma yang besar
Multipel
Pada wanita sebaiknya ditinggalkan atau kedua ovarium maksudnya untuk
• Menjaga jangan terjadi menopause sebelum waktunya
• Menjaga gangguan coronoir atau aeterioselerosis umum sebaiknya dilakukan hysteroktomi totalis, kecuali bila keadaan tidak mengizinkan dapat dilakukan hysteroktomi, supravaginalis untuk menjaga kemungkinan keganasan pada tumpul serviks, sebaiknya dilakukan PAP SMEAR pada waktu tertentu (Ginekologi UNPAD, 1981 : 161
2.9 Konsep Ashan Kebidanan Menurut Helen Varney pada pasien Dengan Mioma Uteri
2.9.1 Pengkajian
1. Data Subyektif
A. Biodata / Identitas
• Nama ibu /nama suami
Nama penderita dan suami ditanyakan untuk mengenal dan memanggil penderita sehingga tidak keliru dengan penderita lain (Christina, 1993 : 4).
• Umur ibu / umur suami
Ditanyakan untuk mengetahui resiko tinggi dalam usia reproduksi (Depkes RI, 1995 : 14)
• Agama
Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatan klien dengan diketahuinya agama pasien atau klien akan memudahkan bidan melakukan pendekatan di dalam melaksanakan asuhan kebidanan (Depkes RI, 1995 : 14)
• Pendidikan
Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya, tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan sekarang (Depkes RI, 1995 : 14)
• Pekerjaan
Ditanyakan untuk mengetahui tingkat intelektualnya, tingkat pendidikan mempengaruhi sikap perilaku kesehatan sekarang (Depkes RI, 1995 : 14)

• Alamat
Untuk mengetahui ibu hingga dimana menjaga kemungkinan bila ada ibu yang namanya sama ditanyakan alamatnya agar dapat dipastikan ibu (Christina, 1993 : 84)
Alasan kunjungan
• Mengutarakan alasan pasien datang ke rumah sakit
Keluhan Utama
• Merupakan keluhan yang saat ini dirasakan oleh antara lain berupa terasa nyeri pada usia jahitan bekas operasi
B. Riwayat haid
Menarche : 12 – 16 tahun
Siklus : 20-35 hari
Lama : 5-7 hari
Banyaknya : 50 – 80 cc/hari
Sifat darah : encer, warna merah
Dismenorhea : tidak ada
Flour albus : tidak ada
HPHT : untuk mengetahui kapan ibu terakhir haid
C. Riwayat obstetri yang lalu
Ditanyakan menikah berapa kali, anak berapa orang, slahir spontan/SC, berat badan lahir berapa, laki-laki/perempuan, anak lahir aterm/prematur, ada penyulit/tidak saat persalinan, nifas, kehamilan, berapa lama diteteki, usia anak berapa.
D. Riwayat kesehatan pasien
Untuk mengkaji apakah klien mempunyai riwayat kesehatan yang mempengaruhi penyakitnya saat ini. Misalnya seperti penyakit menurun antara lain : DM, hipertensi dan penyakit menular seperti hepatitis, HIV/AIDS, TBC dan penyakit tumor
E. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ditanyakan untuk mengetahui adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap klien, apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit menurun seperti DM, hipertensi dan penyakit menular seperti : hepatitis, HIV/AID, TBC, serta dalam keluarga adakah yang menderita tumor/kanker.
F. Riwayat Penyakit Sekarang
Ditanyakan untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien saat ini dari apa yang dirasakan saat ini dan ditunjang dengan pemeriksaan seperti pemeriksaan laboratorium dan USG.
G. Riwayat KB
KB apakah yang pernah dipakai, digunakan oleh ibu apakah pil, suntik, IUD, susuk steril dan lain-lain.
H. Pola Kehidupan Sehari-hari
1) Pola nutrisi
Makan berapa kali sehari dengan banyak, sedang, sedikit komposisinya apa saja (Nasi, lauk, sayur, buah), minumnya sehari berapa kali
2) Pola eliminasi
BAB berapa kali sehari, konsistensinya lunak/keras/cair, warnanya. BAK berapa kali sehari warannya.
3) Pola Aktivitas
Apa saja yang dikerjakan ibu di rumah sehari-hari seperti mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari antara lain memasak, menyapu, mencuci, mengepel dan lain-lain, apa saja yang dikerjakan ibu di RS apa hanya berbaring, duduk atau berjalan-jalan.
4) Pola istirahat
Di rumah tidur siang/tidak, kalau ya berapa jam, tidur malam berapa jam normalnya + 8 jam di RS ibu tidur berapa jam
5) Pola personal hygiene
Dirumah mandi berapa kali sehari, gosok gigi berapa kali sehari, cuci rambut berapa kali seminggu, ganti baju berapa kali sehari, cuci rambut berapa kali seminggu, ganti baju berapa kali sehari.

6) Pola Sexual
Berapa kali ibu melakukan hubungan sexual dalam seminggu (Depkes RI, 1995 : 16)
7) Pola spritual
Agamanya apa, ibu saat menjalankan ibadah/tidak
8) Pola sosial
Hubungan dengan suami dan keluarganya, serta masyarakat bagaimana
I. Riwayat psikososial
• Status perkawinan
Kawin berapa kali, umur pertama kawin, lamanya berapa tahun
• Pengambil keputusan dalam keluarga siapa, apa suami, istri atau mertua
2. Data Obyektif
A. Pemeriksaan fisik
1. BB dan TBnya berapa
2. Postur tubuh baimana normal/tidak/ada kelainan
3. Tanda-tanda vital
Tensi : normalnya 90/60 – 130/90 mmHg
Suhu : normalnya 36-37°C
Nadi : normalnya 74-88x/menit
Respirasi : normalnya : 16-24x/menit
4. Keadaan umum : baik/cukup/jelek
Kesadaran : composmentis/somnolen
Keadaan emosional : stabil/tidak
5. Kepala : bersih/kotor, rambut hitam/putih, rontok/tidak, ada ketombe/tidak ada benjolan/tidak
6. Muka : oedem/tidak, pucat/tidak
7. Mata : conjungtiva merah muda/pucat, sklera putih/kuning
8. Telingga : simetris/tidak ada pengeluaran serumen/tidak ada kelainan/tidak
9. Hidung : bersih/tidak, ada polip/tidak, ada sekret/tidak
10. Mulut : bibir kering/tidak, bersih/kotor, ada karies/tidak, ada stomatitis dan ragaden/tidak
11. Leher : ada pembesaran kelenjar tyroid, vena jugularis dan kelenjar limfe/tidak
12. Payudara : simetris/tidak, ada benjolan/tidak, konsistensinya lembek/tegang, putting susu menonjol/tidak, hyperpigmentasi pada areola mamae/tidak ada pengeluaran ASI/tidak
13. Abdomen : bekas luka operasi ada/tidak, keadaannya bagaimana, ada tanda infeksi/tidak
14. Genetalia : oedem/tidak, varices/tidak, iritasi/tidak, ada condiloma/tidak terdapat luka parut/tidak, fluxus +/-
15. Anus : bersih/kotor,oedem/tidak
16. Ekstrimitas : atas : simetris/tidak, oedem/tidak
Bawah : simetris/tidak, oedem/tidak varices/tidak
B. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium / USG
2.9.2 Identifikasi Diagnosa dan Masalah
Dx : Ny ……usia …… tahun dengan mioma uteri
Masalah :
DS : berasal dari hasil anammese pasien yang menunjang diagnosa dengan masalah
DO : berasal dari hasil pemeriksaan petugas diagnosa dan masalah
2.9.3 Antisipasi masalah Potensial
Mengidentifikasi diagnosa potensial yang mungkin akan menjadi berdasarkan diagnosa/masalah yang sudah diidentifikasi.
2.9.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan untuk dikonsultasikan atau ditangani dengan tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi pasien.
• Pasang infus
• Pasang O2
• Kolaborasi dengan dokter
2.9.5 Intervensi
Dx : Ny “…” Usia ….tahun dengan mioma uteri
Tujuan : Setelah dialkukan asuhan kebidanan diharapkan dalam …..
Keluhan dapat berkurang
Kriteria hasil : – keluhan berkurang
- Ku baik
- TTV dalam batas normal
Intervensi yang dapat diberikan pada ibu yang merasa :
1. Lakukan pendekatan terapeutik dengan klien
R/ pendekatan terapeutik akan menciptakan hubungan kerja sama yang baik dan ibu akan kooperatif dalam setiap tindakan yang dilakukan petugas
2. Jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga
R/ peningkatan pengetahuan ibu dan keluarga dapat membantu keberhasilan proses kesembuhan dan ibu lebih siap pada tindakan yang akan diberikan
3. Berikan informent consent
R/ sebagai bukti persetujuan tindakan dan rekam medik
4. Berikan dukungan psikologis pada ibu
R/ dukungan psikologis ibu dan keluarga lebih tenang
5. Berikan HE pada ibu tentang
• Istirahat yang cukup
• Personal hygiene
• Makanan yang bernutrisi
R/ pemenuhan kebutuhan dan mengembalikan stamina ibu
6. Lakukan kolaborasi dengan dokter
Advis : pemeriksaan laboratorium DL
PA
R/ Kolaborasi merupakan suatu bentuk kewenangan dalam melakukan asuhan kebidanan untuk proses penyembuhan
2.9.6 Implementasi
Melaksanaka rencana asuhan yang telah diberikan sesuai dengan diagnosa dan masalah yang muncul.
2.9.7 Evaluasi
Tanggal : ………….. Jam : …………….
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang telah diberikan sesuai dengan diagnosa dan masalah
Evaluasi dengan SOAP
S : berasal dari hasil anamese pada pasien
O : berasal dari pemeriksaan petugas dan laboratorium
A : Ny.”…” usia ….dengan mioma uteri
P : Planing dibuat sesuai diagnosa dan masalah

BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN
Pada Nn ”N” Usia 47 tahun dengan Mioma Uteri
Post Hysteroktomi Hari ke-1
Di R.S Haji Surabaya

3.1 Pengkajian Data
Tanggal Pengkajian : 02 Februari 2010 No Reg : 526765
Jam : 09.30 WIB

3.1.1 Data Subyektif
1.DATA SUBYEKTIF
A. Identitas
Nama Ibu : Nn.”N”
Umur : 47 tahun
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Ind
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : PRT
Alamat : Bakti Husada IV/5 Surabaya
No.telp : -

Alasan Kunjungan : Tidak Ada
Keluhan Utama : Nyeri luka jahitan bekas operasi, lemas, menggigil

B.Riwayat Haid
Menarche : 14 tahun
Siklus : ± 25 hari, tidak teratur
Lama Haid : 5-6 hari
Sifat Darah : encer, merah
Banyak darah : 2-3X ganti pembalut
Disminorhoe : ya Saat : selama menstruasi
Fluor albus : Tidak ada
C.Riwayat Obstetri Yang Lalu
Pasien mengatakan tidak pernah menikah dan tidak mempunyai anak
D.Riwayat Kesehatan Pasien
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun seperti hipertensi, DM, dan tidak pernah menderita penyakit menular seperti hepatitis, TBC, HIV/AIDS

E. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan baik di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menurun seperti hipertensi, DM, jantung, dan tidak ada yang mempunyai penyakit menular seperti hepatitis, TBC, HIV/AIDS serta tidak ada yang mempunyai keturunan kembar.
F. Riwayat Penyakit Sekarang
Ibu mengatakan nyeri perut bagian bawah sampai ke punggung sejak 11 hari yang lalu, saat menstruasi terasa nyeri banget bahkan keluar darah bergumpal-gumpal serta sering pingsan. Tanggal 1 pebruari 2010 datang ke poli kandungan RSU Haji Surabaya untuk berobat, tetapi dari hasil pemeriksaan ibu dinyatakan menderita mioma uteri dan harus operasi.

G. Riwayat KB
Ibu mengatakan tidak pernah KB.
H. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a) Pola nutrisi dan cairan
Sebelum MRS : makan 3x / hari ( nasi, lauk, sayur ) porsi sedang,
minum ± 8 gelas / hari
Selama MRS : ibu tidak makan Karena disarankan dokter untuk puasa.
b) Pola eliminasi
Sebelum MRS : BAB 1x / hari ( padat, kekuningan, bau khas )
BAK 5-6x / hari ( kekuningan, bau khas ) tidak ada
keluhan
Selama MRS : Ibu belum BAB, BAK dengan kateter ±150 cc/hari.
c) Pola aktivitas
Sebelum MRS : Ibu melakukan aktivitas / pekerjaan rumah seperti
Memasak, menyapu , mengepel
Selama MRS : Ibu hanya berbaring di tempat tidur.
d) Pola istirahat
Sebelum MRS : Tidur siang 1- 2 jam, tidur malam 6-7 jam
Selama MRS : ibu hanya berbaring di tempat tidur.
e) Pola personal hygiene
Sebelum MRS : Mandi 2x / hari, ganti baju 2x / hari, gosok gigi 2x /
Hari, keramas 3x/minggu
Selama MRS : Ibu hanya diseka.
f) Pola sexual
Ibu mengatakan tidak pernah melakukan hubungan sexual.
g) Pola Spiritual
Sebelum MRS : Ibu mengatakan selalu sholat 5 waktu dan berdoa.
Selama MRS : Ibu mengatakan tidak bisa melakukan sholat 5 waktu.
I. Riwayat Psikososial
• Status perkawinan tidak ada
• Pengambilan keputusan dilakukan sendiri
3.1.2 Data Objektif

A. Pemeriksaan Fisik
1. Berat Badan : 54 kg TB : 158 cm
2. Postur Tubuh : normal, tegap, gemuk
3. Tanda-tanda vital : TD = 110/80 mmhg
S = 36,9 oC
N = 88 x/ menit
RR = 20 x/menit
4. Keadaan umum : Cukup
Kesadaran : Composmentis
Keadaan Emosiaonal: Stabil
5. Kepala : Bersih, rambut hitam, tidak rontok, tidak ada ketombe, tidak ada masa.
6. Muka : Bersih, tidak oedem, masih pucat.
7. Mata :Bersih, simetris, conjungtiva pucat, skrela putih.
8. Hidung : Bersih, simetris, tidak ada peneluaran serumen.
9. Mulut dan gigi : Bibir tidak kering, bersih, tidak stomatitis, tidak ragarden, tidak karies.
10. Leher : Tidakadda pembesaaran kelenjar tyroid, tidak ada benbungan vena jugularis
11. Ketiak : Bersih, tidak ada benjolan, tidak ada pembesaran kelenjar limfe.
12. Payudara : Simetris, tidak ada benjolan, konsistensi lembek, tidak ada hiperpigmentasi pada aerola mamae.
13. Abdomen : Ada luka bekas operasi yang menutup kasa, tidak ada tanda-tanda luka infeksi, terasa nyeri pada bekas luka operasi.
14. Genetalia : Tidak ada oedem, tidak ada varises, tidak iritasi, tidak ada condiluma acuminata, tidak ada luka parut.
15. Anus : Bersih, tidak ada haemoroid.
16. Ekstremetas : Atas: simetris, tidak oedem, jumlah jari-jari kanan / kiri 10.
Bawah: Simetris, tidak oedem, tidak ada varises, reflex kiri positif/kanan positif,jumblah jari kiri/kanan positif.
3.1.3 Pemeriksaan Penunjang
Tanggal 01 Februari 2010
Hematologi
Darah Lengkap :
Hb : 10,1 ( n 11,4-15,1 g/dl)
Hematokrit : 30,7 ( n 150.000-400.000/mm3)
Leukosit : 8.100 ( n 4.300-11.300/mm3)
Trombosit : 258.000 (4.000.000-5.000.000/mm3)
Laju endap Darah : 30 ( n L:0-10 mm; P: 0-20 mm)
Lym : 21 ( n 17,0-48,0 %)
Mono : 6 (n 4,0-10,0 %)
Gra : 73 ( n 43,0-76,0 %)
Kadar Kreatin Strum : 0,75
Kadar Asam Urat : 2,2
Kadar SGOT : 32
Kadar SGPT : 10
Kadar Albumin : 5,2
Tanggal 01 Februari 2010
USG Kandungan
Cor : Ger dan Gnt normal
Pulso : Fibrokalsifikasi supra dan Paralilis kiri
Sinus costophenicur kiri/kanan tajam
Tulang-tulang dinding thorax dan soft tissue normal
3.2 Identifikasi Diaqnosa dan Masalah
Dx : Nn “ N” usia 47 tahun dengan Mioma Uteri post Hysteroktomi hari ke-1
3.3 Identifikasi Masalah Potensial
Potensial terjadi Pendarahan
3.4 Tindakan Kebutuhan Segera
Tidak ada
3.5 Planning/Intervensi
Tanggal : 02 Februari 2010 Jam : 10.30 WIB
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan kebidanan dalam 1×24 jam diharapkan tidak terjadi pendarahan
a. Pendarahan berkurang ± 100 cc
b. KU baik
c. TTV dalam batas normal
1. Jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga bahwa kondisinya baik-baik saja.
R/ Memberi pengetahuan kepada ibu dan keluarga
2. Lakukan pemantauan KU, TTV dan pendarahan
R/ Pemantauan KU, TTV, dan pendarahan dapat mendeteksi secara dini dan untuk mengantisifikasi kegawatdaruratan dan komplikasi
3. Lakukan oservasi output dan input cairan
R/ Deteksi dini komplikasi

4. Anjurkan ibu untuk selalu merndekatkan diri pada tuhannya
R/ Meningkatkan rasa percaya diri dan ketenagan pada ibu
5. Anjurkan ibu untuk mobilisasi dini secara bertahap
R/ Mobilisasi dapat memperlancar sirkulasi darah dan mempercepat penyembuhan luka
6. Lakukan kolaborasi dengan dokter
R/ Kolaborasi merupakan suatu bentuk kewenangan dalam melakukan asuhan kebidanan untuk proses penyembuhan.

3.6. PELAKSANAAN / IMPLEMENTASI
Tanggal : 02 Februari 2010 Jam :11.05 WIB

1. Jam 11.05 Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarganya bahwa kondisi ibu sudah mulai membaik
2. Jam 11.08 Melakukan pemantauan KU ibu, TTV, pendarahan
TTV TD: 110/80 mmhg
S/N: 36,5 ºC/84 : RR : 20x / menit
Fluxus +, pendarahan 2x ganti softex
3. Jam 11.15 Melakukan observasi output dan input caiaran, cairan masuk infuse RL : D5=20 tetes
Urine baq 400 cc

4. Jam 11.20 Menganjurkan ibu untuk mendekatkan diri pada tuhannya seperti berdoa dan sembayang 5 waktu
5. Jam 11.23 Mengganjurkan ibu untuk mobilisasi secara bertahap seperti menggerakkan kedua tangan dan kaki .
6. Jam 11.30 Melakukan kolaborasi dengan dokter obgyn
Advis :
Puasa
Infus RL: D5 20 tetes
Injeksi : Amoxicilin 3×1 IV
Keterolac: 3×1 IV
Ondacerron: 3×1 IV
Pethidin : IM

3.7 EVALUASI
Tanggal : 02 Februari 2010 Jam : 13.15 WIB
S : ibu mengtakan nyeri yang dirasakan berkurang.
O : KU cukup, kesadaran composmensis, wajah ibu sudah tidak pucat lagi.
Keluhan : Nyeri pada luka bekas operasi berkurang.
TTV : TD: 110/80 mmHg
S : 36.7 oC
N : 84 x/menit
RR: 20 x /menit
Ibu belum Flaktus
Keadaan luka opersai baik, tidak ada tanda-tanda infeksi.

A :Nn”N” usia 47 tahun dengan Mioma Uteri post hysteroktomi hari ke-2
P : Kolaborasi dengan dokter obgyn
Advis : Infus RL D5 20 tetes
Amoxicillin 3×1 IV
Genta 100 mg
Vit c 2×400
Ketorolak 3×1 IV
Ondacetron 3×1 IV
Pethidin IM
Observasi TTV
Observasi luka jahitan dan lakukan perawatan luka jahitan.

CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal : 03 Februari 2010 Jam : 13.15 WIB

S :Ibu mengatakan nyeri bekas luka jahitan operasi berkurang.
O : KU cukup, kesadaran composmentis
TTV : TD= 110/70 mmHG
S =36,5 oC
N = 80 x/ menit
RR = 20 x/ menit
Fluxus(+) sedikit, keadaan luka operasi baik, tidak ada tanda-tanda infeksi
A : Nn”N” Usia 47 tahun dengan Mioma Uteri post Hysteroktomi hari ke-3
P : Diet TKTP
Kolaborasi dengan dokter obgyn
Oservasi TTV, keluhan, Fluxus, keadaan luka operasi.
Perawatan luka operasi

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Setelah melakukan asuhan kebidanan pada Nn “N” usia 47 tahun dengan mioma uteri di RSU Haji Surabaya dapat disimpulkan sbb :
1. Dalam pengkajian data tidak ditemukan kesulitan karena pasien dan keluarga bersifat kooperatif
2. Pada diagnosa Nn “N” usia 47 tahun dengan mioma uteri
Masalah : nyeri apabila kecapean
3. Antisipasi msalah potensial
4. Dilakukan identifikasi kebutuhan segera yaitu kolaborasi dengan dokter
5. Planning dibuat berdasarkan diagnose dan masalah
6. Dalam pelaksanaan tindakan penulis tidak menemui hambatan karena pasien dan keluarga bersifat kooperatif.

4.2 Saran
4.2.1 Bagi Petugas
Bidan dalam fungsinya sebagai pelaksana pelayanan kebidanan harus meningkatkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki serta harus memiliki kerja sama yang baik dengan petugas kesehatan yang lain dengan klien dan keluarga.
4.2.2 Bagi Klien/Pasien
Pasien harus dapat bekerja sama dengan baik pada petugas/tenaga kesehatan agar keberhasilan dalam asuhan kebidanan dapat tercapai serta semua masalah pasien dapat terpecahkan.
4.2.3 Bagi Rumah Sakit
Rumah sakit harus berusaha untuk mempertahankan pelayanan yang sudah ada dan selalu berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Jones-Derek ilewillyn. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Hipokrates. Jakarta : 2001
Manuaba, IBG. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta : ECG
Prawiroharjdo, sarwono. 2007. Ilmu Kandungan YBP SP : Jakarta : YBP
Johson Ruth-wendy Taylor. 2004. Buku Ajar Praktek Kebidanan : Jakarta EGC

Leave a comment »

PELAYANAN KB

KATA PENGANTAR

Berkat rahmat dan hidayah dari ALLAH SWT serta dorongan dan keinginan untuk dapat menyusun makalah ini .yang berjudul Pelayanan KB Metode Kontrasepsi Implan ( susuk KB)sehingga makalah ini dapat tersusun dan diselesaikan. Dengan adanya hak-hak reproduksi wanita,maka dengan mudah wanita dapat mengerti tentang hak-haknya sebagai wanita. Bukan hanya sebagai istri dan ibu yang baik, akan tetapi masih banyak hak-hak wanita yang harus diketahui.
Bahkan seiring dengan perkembangan pendidikan dan pengetahuan yang semakin luas wanita akan lebih mudah mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dan menjaga kepribadiannya sebagai seorang wanita. Dan apabila semua wanita mempunyai pengetahuan yang luas tentang hak-haknya sebagai wanita, maka harkat dan martabat wanita tidak akan mudah direndahkan dan dilecehkan. Karena wanita dan pria tidak ada bedanya dihadapan ALLAH SWT, yang membedakan keduanya hanyalah jenis kelamin.
Makalah ini telah disusun, namun saya menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, saya menerima kritikan dan saran bagi semua pihak yang membacanya demi perbaikan dan penyempurnaan pada penyusunan berikutnya.
Akhirnya, saya ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah memberikan tugas makalah ini.

Surabaya, 05 April 2010

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sebagian besar masalah yang berkaitan dengan pencabutan disebabkan oleh pemasangan yang tidak tepat;oleh karena itu,hanya petugas klinik yang terlatih(dokter,bidan,dan perawat)yang diperbolehkan memasang maupun mencabut implan.untuk mengurangi masalah yang timbul setelah pemasangan,semua tahap proses pemasangan harus dilakukan secara hati-hati dan lembut,dengan menggunakan upaya pencegahan infeksiyang dianjurkan.
Di Indonesia dikenal beberapa jenis implan,yaitu:
• Norplan
• Implanon
• Indoplan
• Sinoplan
• Jadenna
1.2 Tujuan dan Manfaat
1.2.1 Mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari implan
1.2.2 Mahasiswa dapat mengetahui beberapa jenis implan
1.2.3 Mahasiswa dapat mengetahui pemasangan dan pencabutan implan
1.2.4 Mahasiswa dapat mengetahui prosedur kerja sebelum dan sesudah
pemasangan implan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Implan
Kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan sel telur yang matang dengan sel sperma.Alat kontrasepsi bawah kulit adalah alat kontrasepsi pembentuk kapsul silatik berisi hormon progesteron (progesteron sintetik) yang ditanamkan dibawah kulit.
2.2 Macam-macam implant
Macam – macam implan ada 3 :
1. Non Biodegrable Implan
a. Implant 6 kapsul, berisi hormon levonargestrel daya kerja 5 tahun
b. Norplant 2 kapsul, berisi hormon levonagestel daya kerja 3 tahun
c. Norplant 1 kapsul, berisi hormon ST – 1435, daya kerja 2 tahun
d. Norplant 1 kapsul 1 batang berisi hormon 3 ketodesogastrel, daya kerja
2,5 – 4 tahun

Saat ini diuji coba di Indonesia, implant 1 kapsul dengan panjang 4 cm, diamater luar 2 mm, terdiri dari suatu intraeva (ethylinevinil acetate) berisi 60 mg 3 ketodesogestrel yang dikelilingi suatu membran eva berdaya kerja 2 – 3 tahun
2. Biodegradable
Yang sedang diuji saat ini :
a. Copronor PP
Suatu kapsul polymer berisi hormon levronorgastel dengan daya kerja 18 bulan

3. Yang Paling Sering Dipakai
a. Norplant
1) Dipakai sejak tahun 1987
2) Terdiri dari 6 kapsul silastik (karet silicone) yang berisi dengan
hormon levonorgestrel dan uung – ujung kapsul ditutup dengan
silastik adhesive
3) Sangat efektif untuk mencegah kehamilan 5 tahun
4) Saat ini norplan yang paling banyak dipakai

b. Implanon
1) Dipakai sejak tahun 1987
2) Terdiri dari 2 batang silatik yang padat panjang tiap batang 40 mm,
diameter 2,4 mm
3) Masing – masing batang diisi dengan 68 mg 3 ketodesogastrel di 2
matriks batang
4) Sangat efektif untuk mencegah kehamilan selama 3 tahun

c. Jadena dan indoplant
Terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg levonorgastrel dengan lama kerja 3 tahun
2.3 Cara kerja implant
Pada kapsul implant yang mengandung levonorgastrel melalui membran dengan kecepatan yang lambat dan konstan. Dalam 24 jam ssetelah insersi kadar hormon dalam plasma darah sudah cukup tinggi untuk mencegah ovulasi
Pelepasan hormon setiap harinya berkisar antara 50 – 85 minggu pada tahun pertama, kemudian menurun sampai 30 – 35 minggu perhari untuk 5 tahun berikutnya. Seperti kontrasepsi lain yang hanya berisi progestin saja implan tampaknya mencegah terjadinya kehamilan melalui beberapa cara
1. Mencegah ovulasi
2. Perubahan lendir serviks menjadi kental sedikit, sehingga menghambat
pergerakan spermatozoa
3. Menghambat perkembangan siklus dari endometrium
4. Mengurangi transportasi sperma
2.4 Keuntungan kontrasepsi implan
1. Daya guna tinggi
2. Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun)
3. Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan
4. Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
5. Bebas dari pengaruh estrogen
6. Tidak mengganggu kegiatan senggama
7. Tidak mengganggu ASI
8. Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan
9. Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan
2.5 Keuntungan non kontrasepsi
1. Mengurangi nyeri haid
2. Mengurangi jumlah darah haid
3. Mengurangi anemia
4. Melindungi terjadinya kanker endometrium
5. Menurunkan angka kejadian kelainan jinak payudara
6. Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul
7. Menurunkan angka kejadian endometrosis
2.6 Keterbatasan
Pada kebanyakan klien dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa perdarahan bercak (spooting), hipermenorea atau meningkatnya jumlah darah haid, serta amenorea. Timbulnya keluhan – keluhan, seperti :
1. Nyeri kepala
2. Peningkatan / penurunan berat badan
3. Nyeri payudara
4. Perasaan mual
5. Pening / pusing kepala
6. Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness)
7. Membutuhkan tindakan pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan
8. Tidak memberikan efek protektif terhadap IMS termasuk AIDS
9. Klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini sesuai dengan
keinginan akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan
10. Efektifitas menurun bila menggunakan obat – obatan tuberkulosis (rimpamisin)
atau obat epilepsi (fenitonim)
EFEKTIFITAS
Angka kegagalan implant < 1 per 100 wanita pertahun

2.7 INDIKASI IMPLANT
1. Dalam usia reproduksi
2. Telah memiliki anak ataupun yang belum
3. Menghendaki kontrasepsi yang memiliki efektivitas tinggi dan menghendaki
pencegahan kehamilan jangka panjang
4. Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi
5. Pacsa persalinan dan tidak menyusui
6. Pasca keguguran
7. Tidak menjanjikan anak lagi, tetapi menolak sterilisasi
8. Riwayat kehamilan ektopik
9. Tekanan darah < 180 / 110 mmHg, dengan masalah pembekuan darah atau
anemia bulan sabit (sickle cell)
10. Tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen
11. Sering lupa minum pil

2.8 Kontra Indikasi Implant
1. Hamil atau diduga hamil
2. Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
3. Benjolan / kanker payudara atau riwayat kanker payudara
4. Tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi
5. Myoma uteri dan kanker payudara
6. Gangguan toleransi glukosa

2.9 Peringatan khusus bagi Pengguna Implant
• Terjadinya keterlambatan haid yang sebelumnya teratur, kemungkinan telah
terjadi kehamilan
• Nyeri perut bagian bawah yang hebat, kemungkinan terjadi kehamilan ektopik
• Terjadi perdarahan banyak dan lama
• Adanya nanah atau perdarahan pada bekas insersi (pemasangan)
• Ekspulsi batang implan
• Sakit kepala migran, sakit kepala berulang yang berta, atau penglihatan menjadi kabur

2.10 Plaksnaan pelayanan
Ruangan klinik pasien rawat jalan maupun ruang operasi cocok untuk pemasangan maupun pencabutan implan.Bila mungkin,ruangan sebaiknya jauh dari area yang sering digunakan(ramai)di klinik maupun di rumah sakit,serta harus:
• Mamiliki pencahayaan yang cukup
• Berlantai keramik atau semen sehingga mudah di bersihkan
• Terbebas dari ebu dan serangga
• Memiliki ventilasi udara yang baik
selain itu juga perlu ada fasilitas untuk mencuci tangan termasuk air bersih dan mengalir(air kran dan lain-lain).
2.11 Pencegahan Infeksi
Pemasangan Batang (rod) Implan
Untuk meminimalisasi resiko infeksi pada klien setelah pemasangan maupun pencabutan implan,petugas klinik harus berupaya untuk menjaga lingkungan dari bebas infeksi.Untuk itu petugas perlu melakukan hal-hal sbb:
• Meminta klien untuk membersihkan dengan sabun seluruh lengan yang akan dipasang implan dan membilasnya hingga tidak ada sabun yang tertinggal(sisa sabun dapat mengurangi efektifitas beberapa anti septik).langkah ini sangat penting khususnya bila kebersihan klien sangat kurang
• Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir.Untuk pemasangan dan pencabutan batang,cuci tangan dengan sabun selama 5-10 detik kemudian bila dengan air bersih yang mengalir sudah cukup
• Pakai kedua sarung tangan yang telah disterilisasi atau diDTT.(Gunakan sepasang sarung tabgan yang berbeda untuk tindakan guna menghindari kontaminasi silang
• Siapkan daerah pemasangan dan pencabutan dengan kapas yang telah diberi anti septik:gunakan forsep untuk mengusap kapas tersebut pada daerah pemasangan/pencabutan implan.
• Setelah selesai pemasangan maupun pencabutan batang implan,dan sebelum malepas sarung tangan,dekontaminasi instrumen dengan larutan clorin 0,5%.Sebelum membuang atau merendam jarum dan alat suntik,isi dahulu dengan larutan clorin.9Setelah pemasangan,pisahkan plunger dari trokar.Darah kering akan menyulitkan waktu memisahkan plunger dari trokar.Rendam selama 10 menit;kemudian bilas segera dengan air bersih.
• Kain operasi (drape)harus dicuci sebelum digunakan kembali.Setelah dipakai,taruh pada wadah kering dan bertutup
• Dengan tetap memakai sarung tangan,buang bahan-bahan terkontaminsi(kassa,kapas,dll)kedalam wadah tertutuprapat atau kantong plastik yang tidak bocor.Jarumdan alat suntik sekali pakai(disposable) harus dibuang kedalam wadah yang tahan tusuk.
• Masukkan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam larutan clorin 0,5%.Lepaskan sarung tangan dari dalam ke luar.
PERSIAPAN
Penting bahwa alat dalam kondisi yang baik(misalnya,trokar dan skalpel harus tajam).Selain itu,periksa semua alat dan bahan lain telah disterilisasi atau diDTT.Batang implan tersimpan dalam kemasan steril,beralas kertas,dan terlindung dari panas.Alkol tsb akan tetap steril untuk 3 tahun selama tidak rusak dan tidak disimpan ditempat yang lembab dan panas.
PERSIAPAN KLIEN
Walaupun kulit dan instrumennya sulit untuk disterilisasi,pencucian dan pemberian antiseptik pada daerah operasi tempat implan akan dipasang akan mengurangi jumlah mikroorganisme didaerah kulit klien.kedua tindakan ini pada kenyataannya sangat bermanfaat dalam mengurangi resiko terjadinya infeksi pada insersi atau pencabutan implan Norplant.
PERALATAN DAN INSTRUMEN
• Meja periksa untuk berbaling klien
• Alat penyangga lengan (tambahan)
• Batang implan dalam kantong
• kain penutup steril(disinfeksi tingkat tinggi)m serta mangkok untuk tempat meletakkan implan Norplant.
• Pepasang sarung tangan karet bebas bedak dan yang sudah steril (atau didisinfeksi tingkat tinggi)
• Sabun untuk mencuci tangan
• Larutan anti septik untuk disinfeksi kulit(mis,betadin atau sejenis gol povidon iodin lainnya),lengkap dengan cawan/mangkok anti karat.
• Zat anastesi lokal (konsentrasi 1% tanpa epinefrin)
• Semprit(5-10ml),dan jarum suntik (22G)ukuran 2,5 sampai 4 cm (1-1 1/2inch)
• Trokar 10 dan madrin
• Skalpel 11 atau 15
• Kassa pembalut,band aid,atau plester
• Kassa steril dan pembalut
• Epinefrin untuk renjatan anafilaktik(harus tersedia untuk kaperluan darurat)
• Klem penjepit atau forsep mosquito (tambahan)
• Bak/tempat instrumen (tertutup)

2.12 Prosedur pemasangan Implant
Tindakan sebelum pemasangan
1. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir,keringkan dengan kain bersih.
2. Pakai sarungtangan steril atau DTT(ganti sarung tangan setiap klien,guna mencegah kontaminasi silang.)
Catatan: Jangan menggunakan bedak untuk memakai sarung tangan. Butir-butir bedak yang halus dapat jatuh ketempat insisi dan menyebabkan jaringan parut (reaksi jaringan ikat). Bila sarung tangan diberi bedak,bersihkan dengan kasa steril yang direndam dengan air steril atau air mendidih.
3. Atur alat-alat dan bahan sehingga mudah dicapai. Hitung kapsul untuk memastikan jumlahnya.
4. Persiapakan tempat insisi dengan larutan antiseptic. Gunakan klem steril atau DTT untuk memegang kasa berantiseptik. (Bila memegang kasa berantiseptik hanya dengan tangan,hati-hati jangan sampai mengkontaminasi sarung tangan dengan menyentuh kulit yang tidak steril). Mulai mengusap dari tempat yang akan di lakukan insisinke arah luar gerakan melingkar sekitar 8-13cm dan biarkan kering (sekitar 2 menit) sebelum memulai tindakan. Hapus antiseptic yang berlebihan hanya bila tanda yang sudah dibuat tidak terlihat.
5. Bila ada gunakan kain penutup (doek)yang mempunyai lubang untuk menutupi lengan. Lubang tersebut harus cukup lebar untuk memaparkan tempat yang akan dipasang kapsul. Dapat juga dengan menutupi dibawah tempat pemasangan dengnan kain steril.
6. Setelah memastikan (dari anamnesis) tidak alergi dengan obat anestesi, isi alat anestesi dengan 3 ml obat anestesi (1% tanpa epinefrin). Dosis inji sudah cukup untuk menghilangkan rasa sakit selama memasang kapsul implant.
7. Masukkan jarum tepat dibawah kulit pada tempat insisi. (yang terdekat dengan siku)kemudian lakukan aspirasi untuk memastikan jarum tidak masuk kedalam pembuluh darah. Sentikkan sedikit obat anastesi untuk membuat gelembung kecil di bawah kulit. Kemudian tanpa memindahkan jarum, masukkan kebawah kulit (subdermis) sekitar 4cm (gambar 20.5). Hal akan membuat kulit (dermis)terangkat dari jaringan lunak dibawahnya. Kemudian tarik jarum pelan-pelan sehingga membentuk jalur sambil menyuntikkan obat anestesi sebanyak 1 ml diantara tempat untuk memasang kapsul.
Catatan : untuk mencegah toksisitas,dosis total tidak boleh melebihi 10 ml(10 g/l) dari 1% anestesi local tanpa Epinefrin.

PEMASANGAN KAPSUL
Sebelum membuat insisi, sentuh tempat insisi dengan jarum atau scalpel (pisau bedah) utuk memastikan obat anastesi telah bekerja.
1. Pegang skalpel dengan sudut 45, buat nsisi dangkal hanya untuk sekedar menembus kulit. Jangan membuat insisi yag panjang atau dalam.
2. Ingat kegunaan kedua tanda pada trokar. Trokar harus dipegang dengan ujung yang tajam menghadap keatas. Ada 2 tanda pada trokar, tanda pertama dekat pangkal menunjukkan batas trokar dimasukka kebawah kulit sebelum memasukkan setiap kapsul. Tanda kedua dekat ujung menunjukkan batas trokat yang harus tetap dibawah kulit setelah memasang setiap kapsul.

3. Dengan ujung yang tajam menghadap ke atas dan pendorong di dalamnya masukkan ujung trokar melalui luka insisi dengan sudut kecil.Mulai dari kiri atau kanan pada pola seperti kipas, gerakkan trokar ke depan dan berhenti saat ujung tajam seluruhnya berada di bawah kulit ( 2-3 mm dari akhir ujung tajam). Memasukkan trokar jangan dengan paksaan. Jika terdapat tahanan, coba dari sudut lainnya.

4. Untuk meletakkan kapsul tepat dibawah kulit,angkat trokar keatas,sehingga kulit terangkat. Masukkan trokar perlahan-lahan dan hati-hati kearah tanda (1)dekat pangkal (gambar 20.6). Trokar harus cukup dangkal sehingga dapat diraba dari luar dengan jari. Trokar harus terlihat mengangkat kulit selama pemasangan. Masuknya trokar akan lancar bila berada mpada bidang yang tepat dibawah kulit.
Catatan : Jangan menyentuh trokar terutama bagian tabung yang masuk kebawah kulit untuk mencegah trokar terkontaminasi pada waktu memasukkan dan menarik keluar.
5. Saat trokar masuk sampai tanda (1), cabut pendorong dari trokar.
6. Masukkan kapsul pertama dari trokar. Gunakan ibu jari dan telunjuk atau pinset atau klem untuk mengambil kapsul dan memasukkan kedalam trokar. Bila kapsul diambil dengan tangan, pastikan sarung tangan tersebut bebas dari bedak atau partikel lain. (Untuk mencegah kapsul jatuh pada waktu dimasukkan kedalam trokar, letakkan satu tangan dibawah kapsul untuk menangkap bila kapsul tersebut jatuh)
Dorong kapsul sampai seluruhnya masuk kedalam trokar dan masukkan kembali pendorong.

7. Gunakan pendorong untuk mendorong kapsul kearah ujung trokar sampai terasa ada tahanan, tapi jangan mendorong dengan paksa. (Akan terasa tahanan pada saat sekitar setengah bagian pendorong masuk kedalam trokar).
8. Pegang pendorong dengan erat ditempatnya dengan satu tangna untuk menstabilkan. Tarik tabung trokar dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk kearah luka insisi sampai tanda (2) muncul di tepi luka insisi dan pangkalnya menyentuh pegangan pendorong. Hal yang penting pada langkah ini adalah menjaga pendorong agar tetap di tempatnya dan tidak mendorong kapsul ke jaringan.

9. Saat pangkal trokar menyentuh pegangan pendorong,tanda (2) harus terlihat ditepi luka insisi dan kapsul saat itu keluar dari trokar tepat berada di bawah kulit. Raba ujung kapsul dengan jari untuk memastikan kapsul sudah keluar seluruhnya dari trokar.
10. Tanpa mengelurkan seluruh trokar, putar ujung dari trokar ke arah lateral kanan dan kembalikan lagi ke posisi semula untuk memastikan kapsul pertama bebas.
Selanjutnya geser trokar sekitar 15-25 derajat. Untuk melakukan itu, mula-mula fiksasi kapsul pertama dengan jari telunjuk dan masukkan kembali trokar pelan-pelan sepanjang jari telunjuk tersebut sampai tanda (1). Hal ini akan memastikan jarak yang tepat antara kapsul dan mencegah trokar menusuk kapsul yang dipasang sebelumnya.

Bila tanda (1)sudah tercapai, masukkan kapsul berikutnya ke dalam trokar dan lakukan seperti sebelumnya (langkah 5-9)sampai seluruh kapsul terpasang

11. Pada pemasangan kapsul berikutnya,untuk mengurangi resiko infeksi atau ekspulsi, pastikan bahwa ujung kapsul yang terdekat kurang lebih 5mm dari tepi luka insisi.
12. Sebelum mencabut trokar,raba kapsul untuk memastikan kapsul semuanya telah terpasang.
13. Ujung dari semua kapsul harus tidak ada pada tepi luka insisi (sekitar 5mm). Bila sebuah kapsul keluar atau terlalu dekaat dengan luka insisi, harus dicabut dengan hati-hati dan di pasang kembali di tempat yang tepat.
14. Setelah kapsul terpasang semuanya dan posisi setiap kapsul sudah di periksa,keluarkan trokar pelan-pelan. Tekan tempat insisidengan jari menggunakan kasa selama 1 menit untuk menghentikan perdarahan. Bersihkan tempat pemasangan dengan kasa berantiseptik.

KUNCI KEBERHASILAN PEMASANGAN
• Untuk tempat pemasangan kapsul,pilihlah lengan klien yang jarang digunakan
• Gunakan cara pencegahan infeksi yang dianjurkan
• Pastikan kapsul-kapsul tersebut ditempatkan sedikitnya 8 cm diatas lipat siku,didaerah media lengan
• Insisi untuk pemasangan harus kecil,hanya sekedar menembus kulit.Gunakan kalpel atau trokar tajam untuk membuat insisi.
• Masukkan trokar melalui luka insisi dengan sudut yang kecil,superfisisl tepat dibawah kulit.Waktu memasang trokar jangan dipaksakan
• Ttrokar harus dapat mengangkat kulit setiap saat,untuk memastikan memastikan pemasangan tepat dibawah kulit
• Pastikan 1 kapsul benar-benar keluar dari trokar sebelum kapsul berikutnya dipasang(untuk mencegah kerusakan kapsul sebelumnya,pegang kapsul yangsudah terpasang tersebut dengan jari tengah dan masuk trokar pelan-pelan disepanjang tepi jari tsb)
• Setelah selesai memasang,bila sebuah ujung kapsul menonjol keluar atau terlalu dekat dengan luka insisi,harus dicabut dengan hati-hati dan dipasang kembali dalam posisi yang tepat
• Jangan dicabut ujung trokar dari tempat insisi sebelum semua kapsul dipasang dan periksa seluruh posisi kapsul.Hal ini untuk memastikan bahwa keenam kapsul dipasang dalam posisi benar dan pada bidang yang sama dibawah kulit.
• Kapsul pertama dan keenam harus membentuk sudut 75 derajat
• Gambar tempat kapsul tersebut pada rekam medik dan buat catatan bila ada kejadian tidak umum terjadi selama pemasangan

TINDAKAN SETELAH PEMASANGAN

Menutup luka insisi
• Temukan tepi kedua insisi dan gunakan band aid atau plester dengan kassa steril untuk menutup luka insisi.Luka insisi tidak perlu dijahit karena dapat menimbulkan jaringan parut
• Periksa adanya perdarahan.Tutup daerah pemasangan dengan pembalut untuk hemostasis dan mengurangi memar(perdarahan sub kutan)

PERAWATAN KLIEN
• Buat catatan pada rekam medik tempat pemasangan kapsul dan kejadian tidak umum yang mungkin terjadi selama pemasangan.(Gambar sederhana yang memperlihatkan kira-kira tempat pemasangan keenam kapsul pada langan klien,akan sangat membantu)
• Amati klien untuk memeriksa perdarahan dari luka insisi atau efek lain sebelum memulangkan klien.

PETUNJUK PERAWATAN LUKA INSISI DIRUMAH
• Mungkin akan terdapat memar,bengkak atau sakit di daerah insisi selama beberapa hari.Hal ini normal.
• Jaga luka insisi tetap kering dan bersih selama paling sedikit 48 jam.Luka insisi dapat mengalami infeksi bila basah saat mandi atau mencuci pakaian.
• Jangan membuka pembalut tekan selama 48 jam dan biarkan band aid ditempatnya sampai luka insisi sembuh(umumnya 3-5 hari)
• Klien dapat bekerja secara rutin.Hindari benturan atau luka di daerah tersebut atau menambah tekanan.
• Setelah luka insisi sembuh,daerah tersebut dapat disentuh dan ddibersihkan dengan tekanan normal.
• Bila terdapat tanda-tanda infeksi seperti demam,daerah insisi kemerahan dan panas atau sakit yang menetap selama beberapa hari,segera kembali ke klinik.

BILA TERJADI INFEKSI
• Obati dengan pengobatan yang sesuai untuk infeksi lokal
• Bila terjadi abses(dengan atau tanpa ekspulsi kapsul)cabut semua kapsul

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Alat kontrasepsi bawah kulit adalah alat kontrasepsi pembentuk kapsul silatik berisi hormon progesteron (progesteron sintetik) yang ditanamkan dibawah kulit (Manuaba, 2000)
Pemakaian implan dapat mengakibatkan penambahan bobot, perubahan nafsu makan, jerawat, sakit kepala, penambahan atau pengurangan rambut muka, depresi, kegugupan dan kista indung telur (mail-archive.com). Perdarahan, siklus menstruasi lebih panjang, rambut rontok, gairah seksual turun, jerawat dan depresi. Beberapa jenis susuk, yang tampak dari luar atau terasa bila diraba (indobulettin.com).
Implan (Saifuddin, AB., dkk, 2003) membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi/pemasangan dan pencabutan, tidak memberikan efek protektif terhadap IMS, HBV, HIV, AIDS, klien tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi ini sesuai dengan keinginan/harus ke klinik untuk mencabutnya, dan efektivitasnya menurun bila menggunakan obat-obat tuberculosis (rifampisin) atau obat epilepsi (fenitoin dan barbiturate

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida Bagus Gde. Prof.dr.DOSG. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan, Jakarta : EGC
DEPKES. RI. 2004. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta : YBP-SP.

http://kb-keluargaberncana.blogspot.com/2008/05/implan.html)

( http://rayax-alatkontrasepsiimplan.blogspot.com/)

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.